BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Aktivitas perdagangan di pasar tradisional Kabupaten Cilacap saat ini tengah menghadapi tantangan serius. Para pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli yang cukup signifikan, salah satunya dirasakan di Pasar Sidodadi.
Situasi ini tidak hanya berdampak pada pendapatan harian mereka tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan keberlangsungan usaha kecil di pasar tradisional.
Eti, seorang pedagang sayuran di Pasar Sidodadi, menyampaikan bahwa penjualan sayurannya terus mengalami penurunan. Ia memperhatikan bahwa konsumen kini lebih tertarik membeli sayuran dari pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan.
“Saya lihat lebih ramai penjual di pinggir jalan. Di Jalan Tidar dekat rel, itu malah bisa lebih ramai dari pasar,” ungkap Eti pada Kamis (7/8).
Pernyataan Eti menggambarkan perubahan perilaku konsumen yang mulai mencari alternatif belanja yang lebih mudah dan efisien.
Faktor kemudahan akses menjadi alasan utama masyarakat beralih ke pedagang kaki lima. Lokasi strategis dan mudah dijangkau menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen modern yang cenderung mengutamakan kenyamanan dan efisiensi waktu dalam berbelanja.
Tak hanya itu, harga yang ditawarkan oleh pedagang kaki lima juga kompetitif dan tidak jauh berbeda dengan harga di pasar tradisional, sehingga menarik minat pembeli.
Keberadaan pedagang sayur keliling yang menjajakan dagangannya di sekitar perumahan dan kompleks permukiman turut memengaruhi jumlah kunjungan ke pasar tradisional.
“Sekarang banyak yang jualan sayur keliling komplek. Jadi masyarakat tinggal nunggu di depan rumah saja, tidak perlu repot ke pasar,” tambah Eti sembari menggambarkan kondisi persaingan yang semakin ketat antara pedagang pasar tradisional dan pedagang keliling.
Kondisi ini menciptakan dinamika baru dalam persaingan antar pedagang, terutama bagi mereka yang bergantung pada kunjungan langsung pembeli ke pasar. Para pedagang di sana berharap ada tindakan nyata dari pemerintah daerah untuk membantu revitalisasi aktivitas di pasar tradisional.
Mereka mengusulkan agar dilakukan promosi intensif serta penataan zonasi pedagang agar dapat menarik kembali minat masyarakat untuk berbelanja di pasar.
Perhatian khusus dari pihak pemerintah sangat diperlukan untuk mendukung kelangsungan hidup pasar tradisional sebagai pusat ekonomi lokal sekaligus menjaga warisan budaya perdagangan konvensional.
Dengan adanya promosi yang tepat sasaran serta kebijakan penataan yang baik, para pedagang berharap bisa bersaing sehat dengan para pelaku usaha lain seperti pedagang kaki lima dan sayur keliling.
Melihat kondisi saat ini, revitalisasi dan inovasi dalam pengelolaan pasar menjadi kunci utama untuk menarik kembali minat konsumen. Selain itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya mendukung ekonomi lokal dengan berbelanja di pasar tradisional juga perlu digalakkan.
Pasar tradisional memiliki peran penting sebagai pusat distribusi barang kebutuhan sehari-hari bagi masyarakat setempat.
Oleh karena itu, menjaga keberlangsungan aktivitas jual beli di sana tidak hanya berdampak positif bagi para pedagang tetapi juga bagi perekonomian daerah secara keseluruhan.
Masalah sepinya pembeli di Pasar Sidodadi menggambarkan tantangan yang tengah dialami oleh banyak pasar tradisional lainnya di Indonesia. Menghadapi persaingan dengan bentuk usaha lain seperti toko modern dan penjual online menuntut adanya strategi adaptif dari para pelaku usaha kecil ini agar tetap relevan dan bertahan.
Pemerintah daerah bersama komunitas setempat perlu bersinergi untuk menciptakan solusi jangka panjang demi keberlanjutan ekonomi lokal berbasis usaha kecil menengah (UKM).
Dukungan berupa fasilitas infrastruktur hingga program pelatihan bisnis untuk meningkatkan daya saing para pedagang bisa menjadi langkah awal dalam upaya revitalisasi tersebut. (gia/stch)
















