BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kabupaten Purbalingga mengalami kenaikan pada musim kemarau.
Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DinkesPPKB) Purbalingga mencatat sebanyak 13.782 kasus ISPA pada Juli 2026.
Jumlah tersebut meningkat 358 kasus dibandingkan bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, kasus ISPA di Kabupaten Purbalingga tercatat sebanyak 13.424 kasus.
Meski mengalami kenaikan, DinkesPPKB Purbalingga menilai peningkatan kasus ISPA tersebut masih tergolong tidak signifikan.
Namun, kondisi lingkungan selama musim kemarau tetap perlu menjadi perhatian karena udara yang lebih kering dan berdebu serta paparan asap kebakaran dapat memicu gangguan pada saluran pernapasan.
Secara akumulatif, jumlah kasus ISPA di Purbalingga sejak Januari hingga Juli 2026 telah mencapai 97.246 kasus.
Pemegang Program ISPA dan Pneumonia DinkesPPKB Purbalingga, Sri Puji Lestari, mengatakan peningkatan kasus ISPA memang terlihat pada musim kemarau.
Menurutnya, kondisi udara yang lebih kering membuat debu lebih mudah beterbangan.
Selain itu, aktivitas pembakaran yang menghasilkan asap juga menjadi salah satu faktor yang dapat memicu gangguan saluran pernapasan.
“Ada peningkatan di musim kemarau tetapi tidak signifikan, jadi meningkat sedikit karena musim kemarau banyak debu. Karena banyak juga asap kebakaran juga dapat memicu ISPA,” kata Sri Puji, Rabu (9/9/2026).
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan kualitas udara di lingkungan tempat tinggal.
Terlebih, musim kemarau juga dapat membuat vegetasi dan lahan menjadi lebih kering sehingga risiko kebakaran meningkat.
Asap yang dihasilkan dari pembakaran kemudian dapat menyebar ke lingkungan sekitar dan menurunkan kualitas udara.
DinkesPPKB Purbalingga mengimbau masyarakat untuk mengurangi kebiasaan membakar sampah.
Asap hasil pembakaran sampah dapat menjadi sumber polusi udara dan berpotensi memperburuk kondisi saluran pernapasan.
Imbauan tersebut menjadi semakin penting selama musim kemarau ketika kondisi udara cenderung lebih kering dan berdebu.
Masyarakat diharapkan memilih cara pengelolaan sampah yang lebih aman dan tidak menghasilkan asap yang dapat terhirup oleh warga di sekitarnya.
Pembakaran sampah yang dilakukan tanpa pengawasan juga dapat menimbulkan persoalan lain, terutama risiko kebakaran ketika kondisi lingkungan kering.
Sejumlah kejadian kebakaran lahan di wilayah Purbalingga dan Cilacap pada awal September 2026 juga diduga berkaitan dengan aktivitas pembakaran sampah yang kemudian merambat ke vegetasi kering.
Karena itu, mengurangi pembakaran sampah tidak hanya penting untuk menjaga kualitas udara, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mencegah kebakaran lingkungan.
Selain mengurangi paparan asap dan debu, masyarakat juga dianjurkan menerapkan sejumlah langkah sederhana untuk menjaga kesehatan selama musim kemarau.
Sri Puji mengimbau masyarakat mengenakan masker ketika kondisi udara berdebu atau terdapat asap di lingkungan sekitar.
Penggunaan masker dapat menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan partikel dari udara yang terkontaminasi.
Masyarakat juga dianjurkan mencuci tangan menggunakan sabun sebagai bagian dari penerapan perilaku hidup bersih dan sehat.
Upaya menjaga kesehatan menjadi penting karena ISPA dapat menyerang masyarakat dari berbagai kelompok usia.
Ketika mengalami keluhan yang mengarah pada gangguan saluran pernapasan, warga sebaiknya tidak mengabaikannya.
DinkesPPKB Purbalingga melakukan pemantauan kasus ISPA secara berjenjang.
Data kasus dihimpun dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit.
Data tersebut kemudian dikirim melalui aplikasi New All Record (NAR). Setelah diterima, data diverifikasi oleh DinkesPPKB Purbalingga sebelum dilaporkan ke tingkat provinsi.
“Data kasus dihimpun dari Puskesmas dan Rumah Sakit, jadi mereka mengirimkan melalui aplikasi New All Record (NAR) yang diverifikasi DinkesPPKB untuk dilaporkan ke provinsi,” jelas Sri Puji.
Mekanisme tersebut digunakan untuk memantau perkembangan kasus ISPA sekaligus menjadi dasar pelaporan kesehatan di daerah.
Dengan adanya pemantauan secara berkala, perkembangan kasus dapat diketahui berdasarkan data dari fasilitas pelayanan kesehatan.
DinkesPPKB Purbalingga juga meminta masyarakat yang mengalami gejala ISPA untuk segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Selain mendapatkan pemeriksaan, masyarakat dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih, beristirahat cukup, serta mengonsumsi makanan bergizi untuk membantu menjaga kondisi tubuh.
“Bagi masyarakat yang sudah terkena ISPA sebaiknya berkunjung ke faskes, perbanyak minum air putih, istirahat yang cukup dan makan makanan bergizi,” ujar Sri Puji.
Ia menjelaskan, penanganan akan disesuaikan dengan kondisi pasien.
Untuk keluhan tertentu, fasilitas kesehatan dapat memberikan obat untuk membantu meredakan gejala seperti sakit tenggorokan.
Apabila kondisi berkembang menjadi pneumonia, penanganan medis akan disesuaikan dengan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan.
Karena itu, masyarakat tidak dianjurkan melakukan penanganan sendiri apabila keluhan semakin berat.
Pemeriksaan di fasilitas kesehatan diperlukan agar kondisi pasien dapat dinilai dan ditangani sesuai kebutuhan.
Kenaikan kasus ISPA di Purbalingga pada Juli 2026 menjadi pengingat pentingnya menjaga kualitas udara selama musim kemarau.
Meskipun peningkatannya dinilai tidak signifikan, paparan debu dan asap tetap perlu diwaspadai.
Upaya menjaga kualitas udara dapat dimulai dari lingkungan terdekat. Masyarakat diimbau tidak membakar sampah sembarangan, terutama ketika kondisi lingkungan kering.
Selain itu, warga dapat menggunakan masker ketika berada di lingkungan berdebu atau terpapar asap, menjaga kebersihan tangan, mencukupi kebutuhan cairan, beristirahat cukup, dan mengonsumsi makanan bergizi.
Dengan langkah pencegahan tersebut, masyarakat diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan saluran pernapasan selama musim kemarau.
Data hingga Juli menunjukkan terdapat 97.246 kasus ISPA di Purbalingga sepanjang Januari-Juli 2026.
Pemerintah melalui DinkesPPKB terus memantau perkembangan kasus berdasarkan laporan fasilitas kesehatan, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam mengurangi faktor lingkungan yang dapat memperburuk kualitas udara. (alw/stch/dda)












