BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Pada Minggu (17/8), gempa dengan kekuatan magnitudo 5,8 mengguncang wilayah Poso. Gempa yang terjadi pada pukul 05.38 WIB ini menelan korban jiwa satu orang, menurut laporan cepat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Minggu malam.
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto, menyatakan bahwa korban meninggal dunia tersebut adalah seorang pasien yang sebelumnya dalam kondisi kritis setelah tertimpa reruntuhan bangunan pascagempa di Gereja Elim Masani, Desa Masani, Kecamatan Poso Pesisir, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.
“Saat gempa terjadi, para jemaat tengah mengikuti ibadah pagi. Sejumlah jemaat tertimpa material kayu dan batako dari bangunan gereja yang masih dalam tahap konstruksi,” ungkap Suharyanto.
Kesedihan mendalam dirasakan oleh keluarga korban serta warga setempat yang harus mengalami musibah ini di tengah masa sulit.
Selain korban jiwa, kerusakan infrastruktur akibat gempa juga sangat signifikan. Kaji cepat sementara menunjukkan sedikitnya 12 unit rumah mengalami kerusakan berat dan 33 unit rumah lainnya rusak ringan. Kondisi ini menambah beban bagi warga yang terdampak langsung oleh bencana alam tersebut.
Merespons situasi darurat ini, BNPB segera melakukan rapat koordinasi penanganan darurat bencana gempabumi melalui platform komunikasi digital pada Minggu malam tersebut.
Rapat itu dipimpin oleh Deputi Bidang Penanganan Darurat BNPB, Mayjen TNI Budi Irawan dan dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Bupati Poso, Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Sulawesi Tengah, Kepala Pelaksana BPBD Poso serta jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kabupaten Poso.
Tim Reaksi Cepat (TRC) BNPB kemudian diberangkatkan ke lokasi pada Senin dini hari guna melaksanakan upaya penanganan darurat dan memberikan pendampingan kepada pemerintah daerah setempat.
“Dalam tahap awal, direncanakan akan dikirimkan bantuan berupa makanan siap saji, tenda pengungsi, tenda keluarga, hygiene kit, selimut dan matras,” jelas Suharyanto lebih lanjut mengenai langkah-langkah bantuan yang akan diberikan untuk meringankan beban masyarakat terdampak.
Sementara itu, Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan lebih lanjut mengenai gempa bumi tersebut. Ia menyebutkan bahwa hasil analisis BMKG menunjukkan adanya update parameter gempa dengan magnitudo 5,8.
“Episenter gempabumi terletak pada koordinat 1,30° LS ; 120,62° BT atau tepatnya berlokasi di laut pada jarak 12 Km arah Utara Kota Poso pada kedalaman 10 km,” ujarnya.
Daryono juga menambahkan bahwa berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini termasuk jenis gempa dangkal yang disebabkan oleh aktivitas sesar Tokararu.
“Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi memiliki mekanisme pergerakan naik,” tambahnya lagi.
Di Kota Poso sendiri getaran dirasakan cukup kuat dengan intensitas V-VI MMI di mana semua penduduk merasakannya hingga kebanyakan terkejut dan berlari keluar rumah demi mencari keselamatan diri.
Getaran ini bahkan menyebabkan plester dinding jatuh serta kerusakan ringan pada bangunan lain seperti cerobong asap pabrik yang rusak.
Di beberapa wilayah lain seperti Luwu Timur, Mamuju, Masamba, Majene, Palopo, Pasangkayu dan Polman getaran juga dirasakan meski dengan intensitas III-IV MMI atau dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah sementara hanya beberapa orang saja merasakannya di luar rumah.
Meskipun demikian Daryono memastikan bahwa hasil pemodelan menunjukkan tidak ada ancaman tsunami dari kejadian ini.
“Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempabumi ini tidak berpotensi tsunami,” tegasnya untuk menenangkan masyarakat agar tidak panik berlebihan menghadapi situasi ini.
Namun demikian hingga pukul 06:43 WIB masih terdapat lima aktivitas gempabumi susulan dengan magnitudo terbesar mencapai M 3.2 menurut hasil monitoring dari BMKG sendiri membuat masyarakat tetap waspada akan kemungkinan adanya dampak lebih lanjut dari kejadian alam ini.
Aapalagi dengan adanya isu-isu simpang siur terkait ancaman bencana susulan lainnya tanpa dasar fakta ilmiah terpercaya sehingga penting bagi setiap orang tetap tenang sambil terus memantau informasi resmi dari otoritas terkait seperti BMKG maupun BNPB sebagai sumber terpercaya informasi terkini mengenai kondisi pasca-gempa.
Masyarakat pun diimbau agar tetap waspada namun tidak terpengaruh oleh isu-isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya guna menjaga ketenangan dan stabilitas sosial selama masa pemulihan pascagempa berlangsung
Peristiwa ini sekali lagi mengingatkan kita akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana alam serta perlunya sinergi antara pemerintah pusat daerah serta masyarakat dalam upaya mitigasi risiko bencana demi meminimalisir dampaknya baik secara materiil maupun immateriil.
Tragedi seperti ini memang tak bisa sepenuhnya dicegah namun dengan kesiapan yang optimal kita dapat bersama-sama menghadapi tantangan besar dalam menjaga keselamatan nyawa manusia serta keberlangsungan hidup masyarakat terutama mereka yang berada di daerah rawan bencana. (*stch)
















