BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Akses utama yang menghubungkan Desa Kamulyan dengan Watuagung, Kecamatan Tambak, Kabupaten Banyumas kembali terputus.
Jembatan darurat yang dibangun secara swadaya oleh warga Watuagung di ruas jalan kabupaten Kamulyan–Watuagung sta 2+300 hanya mampu bertahan selama lima bulan. Kini, jalur vital tersebut lumpuh total.
Bukan karena struktur jembatan darurat dari batang pohon kelapa itu yang rusak, melainkan tembok penahan setinggi dada yang menjadi penopang utama jembatan telah runtuh seluruhnya akibat hujan deras yang mengguyur kawasan tersebut dalam beberapa hari terakhir.
“Jembatan darurat ditutup, sudah tidak dapat dilewati,” ungkap Syaiful Amin, warga setempat, Minggu (25/5). Pernyataannya mencerminkan kepasrahan dan kekhawatiran warga yang sejak awal hanya bergantung pada upaya kolektif demi menjaga konektivitas desa.
Jembatan darurat tersebut sebelumnya dibangun warga secara gotong royong sebagai solusi sementara agar kendaraan, khususnya roda empat, tetap bisa melintas.
Namun dengan kerusakan terbaru, satu-satunya penghubung yang mengalirkan aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan kini tak lagi bisa digunakan.
Kerusakan jembatan dan infrastruktur jalan ini langsung berdampak signifikan pada pergerakan ekonomi warga.
Petani dan pedagang lokal kesulitan mengangkut hasil panen, akses ke pasar menjadi terhambat, dan anak-anak sekolah harus mencari jalur alternatif yang lebih jauh dan berisiko.
Suwaryo, anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Watuagung, menjelaskan bahwa saat ini warga mulai pasrah dengan kondisi jembatan yang rusak parah tersebut. Tidak ada lagi inisiatif swadaya untuk memperbaiki karena situasi sudah dianggap membahayakan.
“Jembatan darurat bahaya dan kayaknya biarkan saja, tidak ada kerja bakti, sudah pusing,” tutur Suwaryo dengan nada kecewa.
Menurutnya, kondisi ini bukan sekadar menyulitkan secara fisik, tetapi juga secara psikologis melemahkan semangat kolektif warga yang sebelumnya masih mampu melakukan perbaikan swadaya.
Kini, harapan mereka sepenuhnya tertuju pada bantuan pemerintah daerah maupun provinsi untuk segera melakukan penanganan permanen terhadap jembatan penghubung ini.
Jembatan ini sebenarnya bukan hanya penghubung antar desa, melainkan juga menjadi salah satu jalur penting yang menghubungkan dua kabupaten: Banyumas dan Banjarnegara.
Maka dari itu, penanganannya mendesak, tidak hanya dari sisi kepentingan lokal, tetapi juga dalam konteks konektivitas regional.
Yang membuat situasi semakin parah, kondisi jembatan ini berkaitan erat dengan badan jalan yang juga mengalami longsor di titik sta 11+050, persis di perbatasan Banyumas dan Banjarnegara.
Dengan kerusakan di dua titik vital tersebut, tidak ada lagi jalur yang bisa dilalui kendaraan roda empat dengan aman. Jalan yang tersisa hanya bisa dilewati pejalan kaki dan kendaraan roda dua, itupun dengan risiko tinggi.
“Lengkap, jembatan dan badan jalan tidak bisa untuk lalu lintas kendaraan roda empat,” tegas Suwaryo.
Masyarakat mendesak agar pemerintah segera memberikan perhatian serius. Dengan situasi ini, warga hanya bisa berharap ada langkah cepat dari pemerintah untuk membangun kembali jembatan dan memperbaiki badan jalan yang longsor.
Jika tidak segera ditangani, lumpuhnya jalur Kamulyan–Watuagung akan terus menghambat roda kehidupan warga yang selama ini menggantungkan mobilitasnya pada infrastruktur tersebut. (fij/*stch)
















