Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Utang Paylater Masyarakat Indonesia Tembus 103 Triliun, Mayoritas Dipakai Belanja Harian
BPBD Banyumas Distribusikan 8.000 Liter Air Bersih untuk Ponpes Terdampak Kekeringan

BPBD Banyumas Distribusikan 8.000 Liter Air Bersih untuk Ponpes Terdampak Kekeringan

Dua Ponpes Dilanda Krisis AirDua Ponpes Dilanda Krisis Air
DROPPING: Petugas BPBD Banyumas melakukan dropping air bersih ke dua pondok pesantren di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, yang terdampak kekeringan, Senin (27/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dampak musim kemarau di Kabupaten Banyumas terus meluas dan mulai memengaruhi aktivitas pondok pesantren.

Krisis air bersih yang terjadi di Desa Rancamaya, Kecamatan Cilongok, membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas menyalurkan bantuan sebanyak 8.000 liter air bersih kepada dua pondok pesantren pada Senin (27/7/2026).

Bantuan tersebut diberikan sebagai langkah darurat untuk memenuhi kebutuhan air bersih para santri sekaligus warga sekitar yang turut terdampak kekeringan.

Dua pondok pesantren yang menerima bantuan adalah Pondok Pesantren Hidayatul Khalil di Grumbul Kalipancur dan Pondok Pesantren An-Najah di Desa Rancamaya.

Masing-masing lokasi memperoleh distribusi air bersih sebanyak 4.000 liter.

Pengurus Pondok Pesantren Hidayatul Khalil, Nyai Yatur, menjelaskan bahwa krisis air bersih sudah berlangsung sekitar satu bulan terakhir.

Seluruh toren penampungan air di lingkungan pesantren kini kosong setelah pasokan dari jaringan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) berhenti mengalir.

Menurutnya, kondisi tersebut diduga disebabkan oleh sumber mata air di wilayah hulu yang mulai mengering akibat musim kemarau yang berkepanjangan.

“Sudah sekitar sebulan semua toren di lokasi sudah kering karena air Pamsimas tidak mengalir. Kemungkinan sumber air di aliran atas juga sudah mengering,” ujarnya.

Meski jumlah santri yang menetap di Pondok Pesantren Hidayatul Khalil hanya sekitar 30 orang, kebutuhan air bersih tetap cukup besar karena persediaan air juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar yang mengalami kondisi serupa.

Air yang ditampung di toren tidak hanya digunakan untuk keperluan mandi, memasak, dan mencuci para santri, tetapi juga dibagikan kepada warga sekitar yang kesulitan mendapatkan akses air bersih.

“Santri kami memang sekitar 30 orang, tetapi air di toren itu juga digunakan bersama warga sekitar yang terdampak kekeringan,” katanya.

Sementara itu, tantangan lebih besar dihadapi Pondok Pesantren An-Najah yang memiliki sekitar 300 santri.

Dengan jumlah penghuni yang jauh lebih banyak, kebutuhan air bersih setiap hari meningkat drastis.

Pengelola pondok menyebut satu toren air bersih berkapasitas 4.000 liter hanya mampu memenuhi kebutuhan selama satu hari.

Karena itu, seluruh santri diimbau untuk menggunakan air secara hemat agar persediaan tetap mencukupi hingga bantuan berikutnya datang.

“Kami terus mengimbau seluruh santri untuk berhemat menggunakan air karena kebutuhan sangat besar,” ungkapnya.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Banyumas, Abdul Ladjis, mengatakan penyaluran bantuan air bersih dilakukan sebagai respons atas semakin meluasnya dampak kekeringan di Kecamatan Cilongok.

Menurutnya, masing-masing pondok pesantren menerima bantuan sebanyak 4.000 liter air bersih sehingga total distribusi mencapai 8.000 liter.

“Hari ini kami dropping air di dua titik Desa Rancamaya, tepatnya di dua pondok pesantren, masing-masing sebanyak 4.000 liter,” jelas Abdul Ladjis.

Selain menyasar pondok pesantren, BPBD Banyumas juga terus mendistribusikan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah lain yang mengalami kekeringan.

Pada hari yang sama, bantuan juga dikirim ke Desa Kedungpring, Kecamatan Kemranjen, serta Desa Tanggeran, Kecamatan Somagede.

Penyaluran air bersih di dua desa tersebut dilakukan bersama Palang Merah Indonesia (PMI) agar distribusi bantuan dapat menjangkau lebih banyak warga.

BPBD Banyumas memastikan kegiatan dropping air bersih akan terus dilakukan secara rutin selama musim kemarau masih berlangsung.

Langkah tersebut menjadi upaya pemerintah daerah untuk menjaga ketersediaan kebutuhan dasar masyarakat, terutama di wilayah yang mengalami penurunan debit sumber air.

“Kami rutin melakukan dropping air bersih setiap hari ke wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan agar kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi,” pungkas Abdul Ladjis.

Pemerintah Kabupaten Banyumas juga mengimbau masyarakat untuk menggunakan air secara bijak selama musim kemarau.

Penghematan penggunaan air diharapkan dapat membantu menjaga ketersediaan pasokan, terutama di daerah yang mulai mengalami krisis air bersih akibat menurunnya debit mata air dan jaringan distribusi Pamsimas. (zet/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Paylater Bergeser Jadi Alat Bayar Kebutuhan Harian

Utang Paylater Masyarakat Indonesia Tembus 103 Triliun, Mayoritas Dipakai Belanja Harian