Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

CFD Persawahan Banjarnegara Jadi Tren Wisata Baru, Dongkrak Ekonomi Desa dan UMKM

Jalan Desa Menjelma Ruang WisataJalan Desa Menjelma Ruang Wisata
TREN BARU: Warga memadati Car Free Day (CFD) di kawasan persawahan Jalan Simbang, Kecamatan Mandiraja, Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Setiap Minggu pagi, suasana di sejumlah jalan desa di Kabupaten Banjarnegara berubah menjadi lebih semarak.

Ruas jalan yang biasanya digunakan warga menuju sawah atau mengangkut hasil panen kini dipenuhi masyarakat yang datang untuk berolahraga, menikmati udara segar pedesaan, hingga berburu aneka kuliner dan produk UMKM.

Fenomena car free day (CFD) di kawasan persawahan pun perlahan berkembang menjadi tren wisata baru yang menarik perhatian masyarakat.

Salah satu lokasi yang ramai dikunjungi berada di Jalan Simbang, Kecamatan Mandiraja.

Sejak pagi hari, kawasan tersebut dipadati warga yang berjalan kaki, berlari, maupun bersepeda sambil menikmati hamparan sawah hijau dengan latar perbukitan.

Di sepanjang jalan, puluhan pedagang menawarkan beragam makanan, minuman, hasil pertanian, hingga produk UMKM lokal yang menjadi daya tarik tambahan bagi para pengunjung.

Suasana serupa juga mulai berkembang di Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang. Bahkan, konsep CFD bernuansa persawahan kini mulai merambah wilayah Kalibening dan Wanadadi.

Jalan desa yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai akses transportasi kini menjelma menjadi ruang publik tempat masyarakat berkumpul, berolahraga, bersantai, sekaligus menikmati keindahan alam pedesaan.

Berbeda dengan objek wisata pada umumnya, CFD persawahan tidak menawarkan wahana permainan maupun tiket masuk.

Daya tarik utamanya justru terletak pada panorama alam yang masih asri.

Banyak pengunjung datang untuk menikmati sarapan di tepi sawah, berjalan santai bersama keluarga, hingga mengabadikan momen melalui foto dengan latar hamparan padi yang menghijau.

Kepala Bidang Pengembangan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Diah Ayu Pramono, menilai munculnya CFD persawahan menjadi bukti bahwa masyarakat mampu menciptakan destinasi wisata baru melalui kreativitas dan pemanfaatan potensi desa.

“Ini tentu menjadi alternatif destinasi wisata baru. CFD tidak hanya menjadi tempat olahraga, tetapi juga ruang berkumpul masyarakat sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

Menurut Diah, pola rekreasi masyarakat saat ini mulai mengalami perubahan.

Jika sebelumnya banyak orang menghabiskan akhir pekan di tempat wisata berbayar, kini ruang terbuka di pedesaan yang menawarkan suasana alami menjadi pilihan karena lebih sederhana, murah, dan mudah dijangkau.

Selain menjadi tempat rekreasi, kegiatan CFD juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat desa.

Pedagang makanan, pelaku UMKM, petani yang menjual hasil panen, hingga pengelola parkir ikut merasakan meningkatnya aktivitas ekonomi setiap kali CFD digelar.

Diah memperkirakan perputaran ekonomi dari kegiatan tersebut memiliki potensi yang sangat besar apabila terus dikembangkan secara berkelanjutan.

“Kalau melihat aktivitas yang ada, perputaran ekonominya saya kira cukup besar karena banyak sektor yang terlibat. Potensinya pun bisa mencapai ratusan juta rupiah apabila kegiatan ini terus berkembang,” jelasnya.

Ia juga optimistis tren CFD persawahan akan semakin meluas.

Kondisi jalan desa yang semakin baik serta panorama sawah dan perbukitan yang dimiliki Banjarnegara dinilai menjadi modal besar untuk menghadirkan ruang publik sekaligus destinasi wisata baru di berbagai wilayah.

“Masih banyak desa yang memiliki potensi serupa. Dengan akses jalan yang semakin baik, saya kira kegiatan seperti ini akan terus bertambah di berbagai wilayah,” katanya.

Ke depan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan berharap CFD persawahan tidak hanya menjadi lokasi olahraga dan pusat aktivitas ekonomi masyarakat.

Kegiatan tersebut juga diharapkan berkembang menjadi wadah pelestarian seni dan budaya lokal melalui berbagai pertunjukan yang melibatkan komunitas desa.

“Harapannya kegiatan ini terus diuri-uri sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga menjadi wadah promosi seni dan budaya lokal,” tandasnya.

Dengan berkembangnya CFD persawahan, jalan-jalan desa di Banjarnegara kini memiliki fungsi yang jauh lebih luas.

Tidak sekadar menghubungkan antarkampung, tetapi juga menjadi ruang interaksi masyarakat, penggerak ekonomi lokal, serta destinasi wisata berbasis alam yang lahir dari potensi dan kreativitas warga desa. (far/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Sepang Berpeluang Kembali Gelar Formula

Sepang Jadi Kandidat Kuat Pengganti GP Bahrain di Kalender Formula 1 2026

Berita Selanjutnya
Kebakaran Hutan Terjadi di Sejumlah Kabupaten di Jawa Timur

Musim Kemarau Picu Karhutla di Jawa Timur, BNPB Catat Kebakaran di 4 Kabupaten