Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kasus Cikungunya Meningkat di Tiga Kecamatan di Temanggung

Cikungunya meningkat di tiga kecamatanCikungunya meningkat di tiga kecamatan
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Temanggung, dr Sarjana.

BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Dinas Kesehatan Kabupaten Temanggung melaporkan adanya peningkatan kasus penyakit cikungunya yang perlu mendapat perhatian serius dari masyarakat dan pihak berwenang.

Hingga bulan Agustus, sembilan kasus telah ditemukan tersebar di tiga kecamatan, yaitu Ngadirejo, Temanggung, dan Parakan. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Temanggung, dr Sarjana, mengungkapkan bahwa meskipun jumlah kasus tahun lalu relatif sedikit, terjadi peningkatan yang signifikan pada tahun ini.

“Mulai Januari sudah ada sembilan kasus, masing-masing tiga kasus di Kecamatan Ngadirejo, Temanggung, dan Parakan,” ujar dr Sarjana pada Senin (18/8).

Penyakit cikungunya yang disebabkan oleh virus ini menyebar melalui gigitan nyamuk aedes. Penyebarannya memiliki kesamaan dengan demam berdarah (DB), tetapi terdapat perbedaan penting dalam habitat nyamuk yang membawa virus.

Nyamuk penyebab DB dapat hidup baik di dalam maupun luar rumah, sedangkan nyamuk penyebab cikungunya cenderung hidup di luar ruangan. Meski demikian, hingga saat ini belum ada laporan kematian akibat penyakit ini di wilayah tersebut.

“DB juga dalam kondisi aman, termasuk di Jawa Tengah tahun ini relatif terkendali karena cuaca cukup mendukung,” tambah dr Sarjana.

Gejala awal cikungunya mirip dengan demam berdarah, mencakup demam tinggi serta munculnya bintik merah pada kulit.

Namun perbedaan mencolok adalah adanya nyeri sendi hebat yang umumnya menyerang bagian tungkai kaki sehingga penderitanya mengalami kesulitan untuk berjalan. Kondisi ini sering kali membuat pasien merasa sangat tidak nyaman.

“Cikungunya bisa sembuh dengan sendirinya melalui perbaikan kondisi tubuh asupan gizi dan konsumsi makanan yang sehat,” jelasnya lebih lanjut.

Sebagai langkah pencegahan yang efektif terhadap penyebaran penyakit ini dr Sarjana menekankan bahwa fogging bukanlah solusi utama. Sebaliknya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) merupakan langkah paling efektif untuk memutus mata rantai penularan penyakit ini.

Menurutnya upaya pemberantasan harus difokuskan pada telur dan larva nyamuk karena mereka berkembang biak dengan cepat dan berpotensi menimbulkan wabah jika tidak dikendalikan.

“Kita harus memberantas telur dan larva nyamuk karena justru itu yang cepat berkembang biak dan berpotensi menimbulkan penyakit. Maka gerakan PSN harus terus digalakkan,” tegasnya mengakhiri penjelasannya kepada awak media.

Meningkatnya jumlah kasus cikungunya ini menyoroti pentingnya upaya pencegahan dini serta koordinasi antara masyarakat dan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi wabah penyakit menular.

Keterlibatan aktif warga melalui kegiatan bersih-bersih lingkungan serta sosialisasi mengenai bahaya dan pencegahan penyakit menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan masyarakat secara keseluruhan.

Pemerintah setempat juga dituntut untuk lebih proaktif dalam melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekitar guna mencegah perkembangbiakan nyamuk aedes yang menjadi vektor utama penyebaran virus cikungunya.

Selain itu dukungan dari berbagai pihak termasuk lembaga swadaya masyarakat diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap ancaman kesehatan yang ditimbulkan oleh penyakit ini.

Dengan upaya kolaboratif dari berbagai elemen masyarakat serta komitmen pemerintah daerah dalam menggalakkan program pemberantasan sarang nyamuk diharapkan dapat menekan angka kejadian penyakit cikungunya di Kabupaten Temanggung sehingga kesehatan warga dapat terjaga dengan baik sepanjang tahun 2025 dan seterusnya. (*/stch)

Berita Sebelumnya
Kua kedungbanteng kekurangan lahan parkir

KUA Kedungbanteng Kekurangan Lahan Parkir, Pegawai Iuran Bangun Area Khusus

Berita Selanjutnya
Kenaikan pbb p2 menuai polemik

Kenaikan PBB-P2 Menuai Polemik di Berbagai Daerah, dari Lonjakan Angka NJOP hingga Upaya Kepala Daerah Meningkatkan PAD