BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Di Kabupaten Cilacap, pasar tradisional kini mulai bertransformasi dengan sentuhan digitalisasi. Langkah ini diinisiasi oleh Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (DPKUKM) yang berkomitmen untuk mempercepat adopsi teknologi di kalangan pedagang pasar tradisional.
Tujuan utama dari upaya ini adalah untuk meningkatkan daya saing pasar tradisional agar dapat bersaing lebih seimbang dengan pedagang di luar pasar yang sudah lebih dahulu memanfaatkan teknologi digital.
Menurut Kepala Bidang Sarana Distribusi Perdagangan DPKUKM, Galuh M. Wardana, salah satu tantangan terbesar dalam proses digitalisasi ini adalah mengubah pola pikir para pedagang pasar.
“Mindset pedagang pasar memang masih sulit diubah. Mereka merasa nyaman dengan kondisi sekarang. Namun, di sisi lain kerap mengeluh penjualan menurun. Kami terus berupaya membangun pasar tradisional agar mampu bersaing,” tutur Galuh pada Jumat (8/8).
Upaya digitalisasi ini tidak dilakukan sendirian. DPKUKM menggandeng Bank Indonesia (BI) untuk mendorong penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran nontunai di pasar-pasar tradisional terpilih.
Saat ini, hanya beberapa pasar seperti Pasar Tanjung, Pasar Gede, Pasar Sidodadi, dan Pasar Siliwangi yang telah menggunakan sistem QRIS ini.
“Untuk pasar lainnya, kemungkinan ada yang sudah menerapkan secara mandiri, dan itu tentu lebih baik,” tambah Galuh.
Implementasi QRIS diharapkan menjadi pintu gerbang menuju era baru bagi pasar tradisional di Cilacap.
Dengan penerapan teknologi pembayaran nontunai ini, para pedagang dapat lebih mudah beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta tren belanja masyarakat masa kini yang cenderung lebih memilih kemudahan dan efisiensi dalam bertransaksi.
Proses digitalisasi ini bukan hanya soal menghadirkan teknologi baru namun juga merupakan langkah strategis untuk mengedukasi para pedagang agar siap menghadapi tantangan zaman yang semakin dinamis dan kompetitif.
Penerapan QRIS diharapkan tidak hanya sekadar memudahkan transaksi namun juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap keamanan dan kenyamanan berbelanja di pasar tradisional.
Langkah ini mendapat sambutan positif dari sebagian besar pedagang meski sebagian lainnya masih menunjukkan keraguan terhadap perubahan tersebut. Keraguan ini biasanya muncul karena ketidakpahaman mengenai manfaat jangka panjang dari penggunaan teknologi dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.
Berbagai program pelatihan dan sosialisasi terus dilakukan oleh DPKUKM bersama Bank Indonesia untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para pedagang mengenai keuntungan digitalisasi.
Selain meningkatkan efisiensi transaksi, penggunaan QRIS juga dapat membantu pedagang dalam manajemen keuangan mereka karena setiap transaksi tercatat secara otomatis.
Di sisi lain, konsumen pun mulai merasakan manfaat dari penerapan sistem pembayaran nontunai ini. Mereka tidak perlu lagi repot membawa uang tunai dalam jumlah banyak saat berbelanja ke pasar tradisional sehingga transaksi menjadi lebih cepat dan aman.
Transformasi digital pada pasar tradisional merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui inovasi dan adaptasi teknologi modern.
Dengan demikian, harapannya adalah bahwa seluruh elemen masyarakat termasuk pelaku usaha kecil dan menengah dapat merasakan dampak positif dari langkah transformasi ekonomi berbasis digital ini.
Sebagai tambahan informasi terkait perkembangan digitalisasi ini juga disebutkan bahwa pemasangan fasilitas pendukung seperti jaringan internet serta perangkat mesin pembaca QRIS juga menjadi bagian penting dari keseluruhan upaya modernisasi tersebut.
Galuh berharap bahwa ke depan tidak hanya beberapa tetapi seluruh pasar tradisional di Kabupaten Cilacap bisa sepenuhnya terintegrasi dengan sistem pembayaran digital sehingga bisa memberikan pengalaman belanja yang lebih baik bagi konsumen sekaligus meningkatkan pendapatan bagi para pedagang lokal. (gia/stch)
















