Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Jungkook dan BTS Sukses Curi Perhatian di Halftime Show Final Piala Dunia 2026
Ilmuwan Uganda Uji Nyamuk Rekayasa Genetika untuk Hentikan Penyebaran Malaria

Ilmuwan Uganda Uji Nyamuk Rekayasa Genetika untuk Hentikan Penyebaran Malaria

Kembangkan Nyamuk Rekayasa Perangi MalariaKembangkan Nyamuk Rekayasa Perangi Malaria
Ilustrasi nyamuk di laboratorium

BANYUMASEKSPRES.ID, UGANDA – Malaria masih menjadi salah satu penyakit paling mematikan di dunia.

Setiap tahun, ratusan juta orang terinfeksi penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina tersebut.

Untuk mengatasi persoalan ini, para ilmuwan di Uganda tengah mengembangkan teknologi baru berupa nyamuk Anopheles hasil rekayasa genetika yang diharapkan mampu menghentikan penyebaran malaria secara lebih efektif.

Penelitian tersebut dilakukan oleh tim peneliti di Institut Virus Uganda sebagai bagian dari upaya jangka panjang dalam memerangi malaria yang hingga kini masih menjadi ancaman kesehatan global.

Inovasi ini menjadi salah satu pendekatan ilmiah terbaru yang dinilai memiliki potensi besar untuk mengurangi jumlah kasus malaria, terutama di kawasan Afrika yang menjadi wilayah dengan beban penyakit tertinggi.

Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 263 juta kasus malaria terjadi setiap tahun di seluruh dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 94 persen berada di kawasan Afrika.

Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa malaria masih menjadi masalah kesehatan serius yang membutuhkan berbagai inovasi untuk menekan angka penularannya.

Sementara itu, di Indonesia, Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 443.530 kasus malaria pada tahun 2022.

Sebagian besar kasus ditemukan di wilayah Papua yang hingga kini masih menjadi daerah dengan tingkat penularan malaria tertinggi di Indonesia.

Kepala Departemen Penelitian Serangga Institut Virus Uganda, Dr. Jonathan Kayondo, menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan berfokus pada modifikasi satu gen pada nyamuk Anopheles.

Tujuan utama rekayasa genetika tersebut adalah meningkatkan jumlah nyamuk jantan dalam populasi.

Pendekatan ini dipilih karena hanya nyamuk Anopheles betina yang menggigit manusia dan menjadi penyebar parasit penyebab malaria.

Dengan memperbanyak populasi nyamuk jantan, para ilmuwan berharap jumlah nyamuk betina akan terus berkurang sehingga rantai penularan penyakit dapat ditekan secara signifikan.

Menurut Dr. Kayondo, teknologi tersebut masih berada pada tahap awal pengembangan.

Saat ini, para peneliti masih melakukan pengujian terhadap larva nyamuk hasil rekayasa genetika yang dikembangkan bersama proyek internasional Target Malaria.

Sebelum dilepas ke lingkungan, nyamuk hasil modifikasi genetik tersebut harus melalui berbagai tahapan pengujian keamanan yang sangat ketat.

Seluruh proses dilakukan untuk memastikan bahwa perubahan gen hanya berdampak pada pengendalian malaria tanpa menimbulkan efek samping terhadap lingkungan maupun ekosistem.

Para peneliti juga memastikan rekayasa genetika tersebut tidak meningkatkan risiko munculnya penyakit lain yang dapat ditularkan oleh nyamuk.

Aspek keamanan menjadi prioritas utama sebelum teknologi ini diterapkan secara lebih luas.

Jika seluruh persyaratan keamanan berhasil dipenuhi, tim peneliti menargetkan uji lapangan dapat mulai dilakukan dalam waktu dua hingga tiga tahun ke depan.

Hasil uji tersebut nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan efektivitas teknologi dalam mengurangi populasi nyamuk penyebar malaria.

Pengembangan nyamuk rekayasa genetika ini juga diharapkan dapat mendukung target global dalam menekan kasus malaria hingga 90 persen pada tahun 2030.

Berbagai negara dan organisasi kesehatan internasional terus mencari inovasi baru karena metode konvensional dinilai mulai menghadapi berbagai tantangan.

Koordinator Senior Penyakit di Global Fund to Fight AIDS, Tuberculosis and Malaria (GFATM), Scott Filler, mengatakan bahwa inovasi seperti rekayasa genetika menjadi semakin penting karena parasit malaria terus mengalami perkembangan dan mulai menunjukkan kekebalan terhadap sejumlah obat yang selama ini digunakan.

Menurutnya, tanpa terobosan baru, upaya pemberantasan malaria akan semakin sulit dilakukan.

Oleh sebab itu, teknologi berbasis rekayasa genetika dipandang sebagai salah satu solusi masa depan yang berpotensi membantu mengurangi angka penularan sekaligus menyelamatkan jutaan nyawa di berbagai negara yang masih menjadi endemis malaria.

Meski masih memerlukan serangkaian uji ilmiah dan evaluasi keamanan, penelitian yang dilakukan di Uganda memberikan harapan baru dalam perang melawan malaria.

Jika terbukti aman dan efektif, nyamuk Anopheles hasil rekayasa genetika berpotensi menjadi salah satu inovasi kesehatan terbesar dalam upaya memberantas penyakit yang selama puluhan tahun menjadi ancaman serius bagi masyarakat dunia. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Guncang Halftime Show Final Piala Dunia

Jungkook dan BTS Sukses Curi Perhatian di Halftime Show Final Piala Dunia 2026