BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Kabupaten Cilacap menjadi salah satu daerah di Jawa Tengah dengan jumlah penemuan orang dengan HIV (ODHIV) yang cukup tinggi.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap melalui SIHA 2.1, tercatat sebanyak 2.641 ODHIV berdasarkan distribusi kecamatan sesuai data KTP.
Angka tersebut menempatkan Cilacap di peringkat kedua di Jawa Tengah, berdasarkan indikator dan periode data yang digunakan.
Dari total tersebut, sebanyak 1.180 ODHIV tercatat sebagai luar wilayah, sementara lainnya tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Cilacap.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Kesehatan, terutama karena kasus HIV banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Berdasarkan kelompok umur, penemuan ODHIV paling banyak berada pada rentang usia 26–49 tahun.
Kelompok usia tersebut menjadi salah satu sasaran penting dalam upaya pencegahan, pemeriksaan, serta deteksi dini HIV.
Pemeriksaan secara berkala dinilai penting agar seseorang yang terinfeksi dapat segera mengetahui kondisinya dan memperoleh penanganan yang sesuai.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap, dr Ari Windy Hardhanu MM, mengatakan data tersebut menjadi pengingat pentingnya memperkuat upaya pencegahan dan deteksi dini.
Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa pemeriksaan HIV merupakan salah satu langkah penting untuk mengetahui kondisi kesehatan sedini mungkin.
Semakin cepat HIV diketahui, semakin cepat pula seseorang dapat memperoleh layanan pengobatan.
“Data ini menjadi pengingat bahwa pemeriksaan dan deteksi dini harus terus kita dorong, terutama pada kelompok usia produktif. Semakin cepat diketahui, semakin cepat pula penanganan dan pengobatan dapat diberikan,” ujarnya.
Dominasi kelompok usia produktif juga menunjukkan pentingnya edukasi HIV yang dilakukan secara berkelanjutan.
Informasi mengenai cara pencegahan, pentingnya pemeriksaan, serta akses layanan kesehatan perlu terus disampaikan kepada masyarakat.
Dengan edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai HIV dan tidak mudah mempercayai informasi yang keliru.
Data Dinkes Cilacap juga menunjukkan bahwa ODHIV berasal dari berbagai latar belakang pekerjaan. Penemuan kasus tidak hanya terjadi pada satu kelompok profesi tertentu.
Beberapa di antaranya tercatat berasal dari kelompok pegawai atau karyawan swasta dengan jumlah sekitar 363 orang.
Kemudian ibu rumah tangga sekitar 260 orang, buruh atau karyawan sekitar 205 orang, serta wiraswasta sekitar 180 orang.
Sementara itu, kategori belum atau tidak memiliki keterangan pekerjaan menjadi kelompok terbesar dengan jumlah sekitar 1.200 orang.
Keragaman latar belakang tersebut menunjukkan bahwa edukasi mengenai HIV perlu menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Pencegahan tidak dapat hanya difokuskan pada kelompok pekerjaan atau lingkungan tertentu.
Dinkes Cilacap juga menekankan pentingnya memastikan setiap ODHIV memperoleh pelayanan kesehatan dan pengobatan secara optimal.
Ari menjelaskan, tingginya angka penemuan kasus HIV tidak serta-merta dapat diartikan sebagai peningkatan penularan.
Salah satu faktor yang juga dapat memengaruhi angka tersebut adalah semakin baiknya upaya testing dan penemuan kasus.
Artinya, semakin banyak masyarakat yang menjalani pemeriksaan dapat membuat kasus HIV yang sebelumnya belum teridentifikasi menjadi ditemukan dan tercatat dalam sistem.
Karena itu, data penemuan kasus perlu dipahami secara komprehensif.
Pemerintah tidak hanya berfokus pada angka, tetapi juga memastikan orang yang telah teridentifikasi mendapatkan layanan kesehatan yang diperlukan.
Pemeriksaan dan deteksi dini menjadi penting karena HIV yang diketahui lebih awal memungkinkan penanganan dilakukan lebih cepat.
Dengan pengobatan dan pendampingan yang sesuai, ODHIV dapat menjalani kehidupan secara lebih optimal.
Selain mendorong pemeriksaan dan pengobatan, Dinkes Cilacap mengajak masyarakat menghindari stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV.
Stigma dapat menjadi salah satu hambatan bagi seseorang untuk mengakses layanan kesehatan.
Ketakutan terhadap penolakan lingkungan juga berpotensi membuat orang enggan melakukan pemeriksaan atau menjalani pengobatan secara terbuka.
Karena itu, dukungan keluarga dan lingkungan menjadi bagian penting dalam penanganan HIV.
Lingkungan yang memberikan dukungan dapat membantu ODHIV menjalani pengobatan dan menjaga kualitas hidup.
“Yang terpenting bukan hanya angka penemuannya, tetapi bagaimana setiap ODHIV mendapatkan pelayanan dan pengobatan dengan baik. Pencegahan HIV merupakan tanggung jawab kita bersama,” pungkas Ari.
Upaya pencegahan HIV di Cilacap pun membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, lingkungan masyarakat hingga individu.
Dengan memperkuat edukasi, memperluas akses pemeriksaan dan memastikan layanan pengobatan tersedia, diharapkan penanganan HIV dapat dilakukan secara lebih efektif.
Pada saat yang sama, masyarakat juga diharapkan semakin memahami pentingnya menjaga kesehatan serta tidak memberikan stigma kepada orang yang hidup dengan HIV. (jul/stch/dda)














