Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
5 Bangunan Bersejarah di Cilacap Dikaji untuk Jadi Cagar Budaya 2026
Budidaya Melon Hidroponik BUMDes Karanggedang Ganti Varietas, Kini Gunakan Kenshin

Budidaya Melon Hidroponik BUMDes Karanggedang Ganti Varietas, Kini Gunakan Kenshin

BUMDes Karanggedang Ganti Varietas MelonBUMDes Karanggedang Ganti Varietas Melon
BUDIDAYA: BUMDes Karanggedang melanjutkan budidaya melon hidroponik mengganti varietas untuk mendapatkan ketahanan lebih, Jum'at (14/8)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Budidaya melon hidroponik kembali dikembangkan BUMDes Desa Karanggedang, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas.

Pada periode tanam terbaru, pengelola melakukan perubahan varietas dari Sweet Alodia menjadi Kenshin untuk meningkatkan ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit.

Pergantian varietas tersebut dilakukan setelah BUMDes Karanggedang melakukan evaluasi terhadap hasil budidaya melon pada periode sebelumnya.

Evaluasi menjadi bagian penting untuk menentukan langkah pada musim tanam berikutnya, terutama setelah tanaman sebelumnya sempat mengalami gangguan akibat serangan jamur.

Direktur BUMDes Karanggedang, Farhan Adi, mengatakan serangan jamur menjadi salah satu kendala yang ditemukan dalam budidaya melon sebelumnya.

Kondisi tersebut terlihat dari perubahan pada daun tanaman yang menjadi menguning.

“Tanam melon kemarin varietas Sweet Alodia, sempat diserang jamur yang berdampak pada daun menguning,” kata Adi, Jumat (14/8).

Berdasarkan hasil evaluasi tersebut, pengelola kemudian memilih varietas Kenshin untuk periode tanam kali ini.

Varietas tersebut diharapkan mampu memberikan daya tahan tanaman yang lebih baik sehingga potensi gangguan akibat hama maupun penyakit dapat ditekan sejak awal pertumbuhan.

Penggunaan varietas baru juga menjadi bagian dari upaya BUMDes Karanggedang untuk mendapatkan hasil budidaya melon yang lebih optimal.

Pengelola tidak hanya mempertimbangkan potensi hasil panen, tetapi juga kondisi tanaman selama proses pertumbuhan berdasarkan pengalaman dari periode tanam sebelumnya.

Dengan pergantian varietas tersebut, budidaya melon hidroponik di Karanggedang tetap menggunakan sistem tanam benih langsung atau tabela.

Metode ini memungkinkan benih melon ditanam langsung pada media yang telah disiapkan tanpa melalui proses pemindahan bibit dalam tahapan awal tertentu.

Sistem hidroponik dengan metode tabela dipilih sebagai salah satu cara untuk mendukung efisiensi budidaya melon.

Pengembangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya BUMDes Karanggedang mengembangkan usaha di sektor pertanian dengan memanfaatkan metode budidaya yang lebih terukur.

Dalam penerapannya, tahapan awal pertumbuhan benih menjadi perhatian penting.

Kondisi benih dan perkembangan akar perlu dipantau agar tanaman mampu beradaptasi dengan media tanam serta tumbuh secara optimal.

Penyedia jasa, Sugiyono, menyarankan benih melon yang akan ditanam menggunakan sistem tabela diperam terlebih dahulu selama sekitar 36 jam.

Proses tersebut dilakukan untuk membantu memaksimalkan pertumbuhan akar sebelum benih ditempatkan pada media tanam.

Menurut Sugiyono, perkembangan akar menjadi salah satu faktor penting dalam budidaya melon menggunakan metode tabela.

Akar yang berkembang dengan baik diharapkan mampu segera beradaptasi dan tumbuh pada media yang telah disiapkan.

“Akar mencuat berisiko pada kematian benih karena kering terpapar sinar matahari,” tandas Sugiyono.

Pengelolaan pada tahap awal tersebut menjadi perhatian karena kondisi benih sangat menentukan keberlangsungan tanaman pada fase berikutnya.

Kesalahan dalam proses awal pertumbuhan dapat meningkatkan risiko benih mengalami gangguan sebelum berkembang menjadi tanaman melon.

Selain memperhatikan varietas, pengelola juga perlu melakukan pemantauan secara berkala terhadap kondisi tanaman.

Langkah tersebut diperlukan untuk mendeteksi lebih awal apabila muncul gejala serangan hama maupun penyakit seperti yang terjadi pada periode budidaya sebelumnya.

Pergantian dari Sweet Alodia ke Kenshin menjadi bentuk evaluasi langsung yang dilakukan BUMDes Karanggedang terhadap proses budidaya melon hidroponik.

Pengalaman dari periode sebelumnya digunakan sebagai bahan pertimbangan agar budidaya berikutnya dapat berjalan lebih baik.

Budidaya melon hidroponik tersebut juga menunjukkan upaya BUMDes dalam mengembangkan potensi pertanian sebagai bagian dari usaha desa.

Penggunaan sistem hidroponik dan metode tabela diharapkan dapat memberikan hasil yang lebih optimal sekaligus menjadi peluang pengembangan usaha pertanian di wilayah Karanggedang.

Untuk periode tanam terbaru, pengelola berharap varietas Kenshin mampu memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Ketahanan tanaman terhadap gangguan hama dan penyakit menjadi salah satu faktor yang diharapkan dapat mendukung keberhasilan budidaya hingga masa panen.

Evaluasi dan penyesuaian teknik budidaya menjadi langkah penting dalam pengembangan melon hidroponik.

Dengan memilih varietas yang sesuai serta memperhatikan pertumbuhan akar sejak awal, BUMDes Karanggedang berupaya menjaga keberlanjutan usaha pertanian sekaligus meningkatkan hasil produksi melon. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Lima Bangunan Masuk Kajian Cagar Budaya

5 Bangunan Bersejarah di Cilacap Dikaji untuk Jadi Cagar Budaya 2026