Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
SBY Absen dari Upacara HUT RI di Istana, Ibas: Sedang Medical Check-up
Hampir 2 Tahun Jembatan Kalongbali Kebumen Putus, Warga Terpaksa Memutar Jauh

Hampir 2 Tahun Jembatan Kalongbali Kebumen Putus, Warga Terpaksa Memutar Jauh

Hampir Dua Tahun Jembatan Kalongbali PutusHampir Dua Tahun Jembatan Kalongbali Putus
PUTUS: Warga menunjukkan kondisi Jembatan Jembatan Kalongbali Kelurahan Plarangan, Kecamatan Karanganyar yang putus akibat diterjang banjir pada 9 November 2024 lalu

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Jembatan Kalongbali di Kelurahan Plarangan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, hingga kini belum kembali dibangun setelah putus diterjang banjir hampir dua tahun lalu.

Kondisi tersebut membuat aktivitas warga di kawasan sekitar jembatan ikut terganggu.

Jembatan yang membentang di atas Sungai Karanganyar tersebut sebelumnya menjadi salah satu akses penting bagi masyarakat.

Jembatan memiliki panjang sekitar 80 meter dengan lebar 1,5 meter. Sebagian badan jembatan ambruk setelah diterjang banjir besar pada malam 9 November 2024.

Hingga Senin (17/8/2026), jembatan tersebut masih dalam kondisi terputus dan tidak dapat dilalui.

Warga pun harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.

Ketua RW 05 Plarangan sekaligus Kepala Lingkungan Kalongbali, Singgih Suseno, mengatakan keberadaan Jembatan Kalongbali sangat penting bagi masyarakat di wilayah tersebut.

Menurutnya, jembatan tersebut menjadi akses bagi warga RW 05, khususnya masyarakat Dukuh Kalongbali dan Dukuh Sikenong.

“Jembatan ini merupakan akses satu-satunya untuk wilayah RW 05, khususnya RT 05/RW 05 Kalongbali dan RT 04/RW 04 Sikenong. Sekarang kondisinya benar-benar putus dan tidak bisa dilewati,” kata Singgih, Senin (17/8).

Sejak jembatan ambruk, warga harus memutar sekitar 2 kilometer untuk menuju wilayah yang sebelumnya dapat dijangkau melalui jembatan tersebut.

Jarak tambahan tersebut mungkin terlihat tidak terlalu jauh, tetapi harus ditempuh berulang kali oleh masyarakat untuk berbagai kebutuhan.

Mulai dari bekerja, bersekolah, mengurus keperluan sehari-hari hingga mengangkut hasil pertanian.

Kondisi ini membuat mobilitas masyarakat menjadi lebih sulit dan membutuhkan waktu serta biaya tambahan.

Salah satu dampak paling terasa dari putusnya Jembatan Kalongbali adalah terganggunya aktivitas perekonomian warga.

Masyarakat yang mengandalkan sektor pertanian harus melewati jalur yang lebih jauh ketika membawa hasil panen.

Demikian pula ketika warga membutuhkan material atau membawa barang dalam jumlah tertentu.

“Putusnya jembatan ini sangat merugikan warga karena ini akses vital. Untuk membawa hasil pertanian, material, dan berbagai kegiatan warga akhirnya semuanya terhambat,” ujar Singgih.

Bagi warga sekitar, jembatan bukan sekadar sarana untuk memperpendek jarak perjalanan.

Infrastruktur tersebut menjadi penghubung penting bagi aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat.

Dengan jembatan yang tidak dapat digunakan, warga harus menyesuaikan aktivitas sehari-hari dengan kondisi akses yang tersedia.

Tidak hanya kegiatan ekonomi dan pendidikan, putusnya Jembatan Kalongbali juga menjadi persoalan ketika warga menghadapi situasi darurat.

Singgih menceritakan, pernah ada warga meninggal dunia yang jenazahnya harus dibawa menyeberangi sungai karena lokasi pemakaman berada di sisi selatan.

Kondisi tersebut menggambarkan betapa pentingnya akses penghubung bagi masyarakat, terutama ketika membutuhkan mobilitas cepat dalam situasi tertentu.

Warga berharap pembangunan kembali jembatan dapat segera dilakukan sehingga akses masyarakat kembali normal.

Ketua RT 05/RW 05 Dukuh Kalongbali, Sariban, menceritakan kembali kejadian yang menyebabkan jembatan tersebut putus.

Banjir terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Intensitas hujan membuat debit Sungai Karanganyar meningkat secara signifikan.

Arus sungai yang deras juga membawa berbagai material, mulai dari longsoran tanah, kayu hingga sampah.

Material tersebut ikut terbawa arus dan memperbesar tekanan terhadap konstruksi jembatan.

“Ke jadiannya sekitar pukul 19.00 WIB, waktu salat Isya. Hujan sangat lebat, arus sungai sangat deras. Banyak longsoran dan kayu yang terbawa arus sehingga jembatan tidak kuat,” tutur Sariban.

Banjir pada saat itu juga merendam permukiman warga. Kondisi sungai yang deras akhirnya menyebabkan bagian konstruksi jembatan tidak mampu bertahan hingga sebagian badan jembatan ambruk.

Setelah jembatan putus, masyarakat tidak tinggal diam. Warga secara swadaya membuat bronjong di belakang masjid.

Bronjong tersebut dibuat untuk membantu mengurangi dampak gerusan aliran Sungai Karanganyar terhadap lingkungan sekitar.

Namun, setelah hampir dua tahun, bronjong tersebut juga mulai mengalami kerusakan.

Derasnya aliran sungai membuat bagian bronjong ikut tergerus. Kondisi tersebut semakin meningkatkan kekhawatiran warga, terutama ketika hujan deras kembali terjadi dan debit sungai meningkat.

Masyarakat berharap adanya penanganan yang lebih permanen dari pemerintah agar tidak hanya persoalan akses jembatan yang dapat diselesaikan, tetapi juga risiko gerusan sungai di sekitar lokasi.

Hampir dua tahun sejak banjir besar menyebabkan Jembatan Kalongbali putus, warga masih menunggu pembangunan kembali akses tersebut.

Masyarakat menilai pembangunan jembatan merupakan kebutuhan mendesak karena berkaitan langsung dengan berbagai aktivitas sehari-hari.

Selain memudahkan mobilitas, jembatan dibutuhkan untuk menunjang kegiatan pendidikan, perekonomian, ibadah, transportasi hasil pertanian, hingga kebutuhan darurat masyarakat.

“Kami berharap secepatnya pihak terkait membangun kembali jembatan ini. Warga sudah terlalu lama menunggu. Saat ini masyarakat benar-benar merasa terisolir,” ucap warga.

Warga berharap pemerintah dan pihak terkait dapat segera melakukan penanganan.

Pembangunan kembali Jembatan Kalongbali dinilai akan memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat di wilayah Plarangan dan sekitarnya.

Bagi warga Kalongbali dan Sikenong, jembatan tersebut bukan hanya sebuah bangunan infrastruktur.

Jembatan merupakan penghubung utama yang selama ini menopang mobilitas dan aktivitas masyarakat.

Karena itu, pembangunan kembali Jembatan Kalongbali menjadi harapan warga agar akses yang terputus sejak November 2024 dapat segera kembali normal. (mam/stch/dda)

Berita Sebelumnya
SBY Tak Hadiri Upacara HUT RI

SBY Absen dari Upacara HUT RI di Istana, Ibas: Sedang Medical Check-up