Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kemarau Cilacap Makin Parah, 543 Tangki Air Bersih Sudah Disalurkan ke 40.958 Jiwa

52 Desa Krisis Air Bersih52 Desa Krisis Air Bersih
AIR BERSIH : Petugas BPBD saat menyalurkan air pada wilayah yang terdampak musim kemarau panjang di Cilacap

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Dampak musim kemarau di Kabupaten Cilacap semakin meluas. Kebutuhan masyarakat terhadap air bersih terus meningkat seiring menurunnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Hingga Kamis (27/8/2026), sebanyak 543 tangki atau sekitar 2,8 juta liter air bersih telah disalurkan kepada warga yang terdampak kemarau.

Bantuan air bersih tersebut disalurkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap bersama berbagai pihak yang ikut membantu penanganan dampak kekeringan. Distribusi air bersih hingga kini telah menjangkau 18 kecamatan dan 52 desa.

Jumlah masyarakat yang telah menerima bantuan juga cukup besar. Tercatat sebanyak 16.894 kepala keluarga (KK) atau sekitar 40.958 jiwa terdampak dan telah mendapatkan distribusi air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cilacap, Taryo, mengatakan peningkatan kebutuhan air bersih tidak terlepas dari kondisi musim kemarau yang semakin terasa.

Puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September.

Menurut Taryo, kondisi tersebut membuat masyarakat di sejumlah wilayah mulai mengalami kesulitan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari.

“Sekarang terjadi peningkatan kebutuhan air bersih bagi warga yang terdampak kemarau,” kata Taryo, Jumat (28/8/2026).

Penurunan ketersediaan air terutama terjadi pada sumur-sumur milik warga. Sumber air yang selama ini digunakan untuk kebutuhan rumah tangga mulai berkurang akibat minimnya curah hujan.

Tidak hanya jumlah air yang menurun, kualitas air di sejumlah lokasi juga mengalami perubahan.

Air yang masih tersedia di beberapa wilayah disebut sudah tidak layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

“Karena dampak musim kemarau ini cukup kering, kapasitas sumur warga yang biasanya tinggi akhirnya menurun,” jelas Taryo.

Kondisi tersebut membuat distribusi air bersih menjadi salah satu langkah penting untuk membantu masyarakat yang mengalami krisis air akibat kemarau panjang.

Dari sejumlah wilayah terdampak, Kecamatan Kawunganten menjadi salah satu daerah dengan kebutuhan air bersih paling tinggi di Kabupaten Cilacap.

Tercatat terdapat sembilan desa di Kecamatan Kawunganten yang membutuhkan bantuan air bersih.

Setelah Kawunganten, wilayah dengan kebutuhan cukup tinggi juga terdapat di Kecamatan Gandrungmangu.

Penyaluran dilakukan secara bertahap berdasarkan permohonan dan kebutuhan masyarakat di masing-masing wilayah.

BPBD Cilacap terus memantau kondisi daerah terdampak agar bantuan dapat disalurkan kepada masyarakat yang benar-benar membutuhkan.

Dengan kondisi kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga September, jumlah wilayah yang membutuhkan bantuan air bersih masih berpotensi bertambah.

Karena itu, pemerintah daerah mengajak masyarakat menggunakan air bantuan secara bijak.

Air yang disalurkan diharapkan diprioritaskan untuk kebutuhan penting, terutama kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Penanganan krisis air bersih di Kabupaten Cilacap tidak hanya dilakukan BPBD. Dalam proses distribusi, BPBD mendapat dukungan dari sekitar 22 pihak.

Sejumlah pihak yang terlibat antara lain Palang Merah Indonesia (PMI), Pertamina, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citanduy, TNI-Polri, NU Peduli, Baznas Cilacap, serta sejumlah lembaga dan pihak lainnya.

Kolaborasi tersebut diperlukan mengingat cakupan wilayah terdampak cukup luas.

Dengan dukungan berbagai pihak, distribusi air bersih diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

BPBD Cilacap juga telah menyiapkan mekanisme bagi desa yang mengalami kesulitan air bersih tetapi belum mendapatkan bantuan.

Pemerintah desa dapat mengajukan permohonan distribusi air kepada BPBD melalui kepala desa dengan diketahui oleh camat.

“Nanti petugas kami dari UPT siap mendistribusikan, misalnya untuk wilayah Sidareja nanti dari UPT Sidareja,” pungkas Taryo.

Penyaluran 2,8 juta liter air bersih menunjukkan besarnya kebutuhan masyarakat Cilacap selama musim kemarau 2026.

Dengan jumlah penerima mencapai hampir 41 ribu jiwa, persoalan ketersediaan air bersih menjadi perhatian penting pemerintah daerah.

Masyarakat di daerah yang sumber airnya mulai mengering diharapkan segera berkoordinasi dengan pemerintah desa maupun kecamatan.

Pengajuan bantuan lebih awal dapat membantu proses distribusi ketika kondisi sumber air semakin terbatas.

Pemerintah juga terus memantau perkembangan musim kemarau di berbagai wilayah Kabupaten Cilacap.

Jika kondisi kekeringan semakin meluas, distribusi air bersih akan disesuaikan dengan kebutuhan dan prioritas masing-masing daerah.

Bagi masyarakat, bantuan air bersih menjadi solusi sementara untuk memenuhi kebutuhan dasar selama sumber air mengalami penurunan.

Namun, keberlanjutan ketersediaan air tetap membutuhkan penanganan jangka panjang, terutama melalui pengelolaan sumber air dan kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau.

Dengan musim kemarau yang masih berlangsung, warga diminta menghemat penggunaan air dan segera melaporkan kondisi kekurangan air kepada pemerintah setempat.

Upaya bersama antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai lembaga diharapkan dapat mengurangi dampak kekeringan di Kabupaten Cilacap. (jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Cuci Muka

6 Kesalahan Saat Cuci Muka, Bisa Bikin Skin Barrier Melemah

Berita Selanjutnya
Tilang Elektronik

Cek Status Tilang ETLE Kendaraan dengan Cepat, Hanya Butuh 1 Menit