BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Kasus perundungan yang dialami seorang siswa di Kecamatan Kutowinangun sempat menjadi perhatian masyarakat Kabupaten Kebumen.
Peristiwa tersebut kembali membuka perhatian publik terhadap persoalan bullying di kalangan pelajar serta pentingnya pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.
Sebagai langkah antisipasi agar kasus serupa tidak kembali terjadi, Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kebumen melalui Tim KUA Kecamatan Rowokele memberikan pembinaan kepada siswa di MTs Negeri 4 Kebumen.
Kegiatan tersebut dikemas dalam program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS).
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan pembekalan mengenai pengertian perundungan, berbagai bentuk bullying, serta dampak yang dapat ditimbulkan terhadap korban.
Para siswa juga diajak memahami bahwa tindakan yang sering dianggap sebagai candaan dapat berubah menjadi persoalan serius ketika dilakukan secara berulang dan menimbulkan kerugian bagi orang lain.
Salah satu pesan utama dalam pembinaan tersebut adalah keberanian untuk menghentikan perundungan.
Siswa tidak hanya diingatkan agar tidak menjadi pelaku, tetapi juga didorong untuk tidak tinggal diam ketika menyaksikan teman mengalami bullying.
Amir Salim, salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut, meminta siswa segera menyampaikan kejadian perundungan kepada orang dewasa yang dapat dipercaya.
“Kalau melihat atau mengalami bullying, jangan diam. Sampaikan kepada orang tua, guru, atau pihak lain yang dapat dipercaya. Jangan pula ikut-ikutan ketika ada teman melakukan perundungan,” ujar Amir.
Pesan tersebut dinilai penting karena korban bullying terkadang memilih menyimpan pengalaman yang dialaminya.
Rasa takut, malu, maupun tekanan dari lingkungan pertemanan dapat membuat korban enggan menceritakan kejadian kepada orang lain.
Karena itu, lingkungan sekolah perlu menjadi tempat yang aman bagi siswa untuk berbicara dan mendapatkan bantuan ketika menghadapi tindakan kekerasan atau perundungan.
Dalam pembinaan BRUS, siswa juga diberikan pemahaman bahwa bullying bukan sekadar candaan.
Perundungan dapat dilakukan dalam berbagai bentuk, baik melalui perkataan, tindakan fisik, pengucilan maupun perilaku lain yang membuat seseorang merasa tertekan atau direndahkan.
Pemahaman tersebut penting diberikan kepada remaja karena batas antara bercanda dan menyakiti orang lain terkadang tidak dipahami dengan baik.
Candaan yang dianggap lucu oleh satu pihak belum tentu dapat diterima oleh orang yang menjadi sasaran.
Jika tindakan tersebut dilakukan terus-menerus dan menimbulkan rasa takut atau tekanan, persoalannya tidak lagi sekadar candaan antarteman.
Melalui pembinaan ini, siswa diharapkan mampu mengenali perilaku yang termasuk perundungan sekaligus memahami konsekuensinya terhadap korban.
Selain membahas pencegahan bullying, siswa MTs Negeri 4 Kebumen juga diajak membangun hubungan pertemanan yang sehat dan positif.
Para siswa didorong untuk saling mengingatkan dalam kebaikan serta menciptakan lingkungan pergaulan yang dapat mendukung perkembangan karakter.
Pertemanan di usia remaja dinilai memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan sikap dan perilaku siswa.
Dengan membangun budaya saling menghargai, siswa diharapkan dapat menciptakan lingkungan sekolah yang lebih nyaman.
Sikap menghormati perbedaan, membantu teman yang mengalami kesulitan, serta berani mengatakan tidak terhadap tindakan perundungan menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana tersebut.
Upaya pencegahan juga tidak hanya menjadi tanggung jawab guru.
Siswa memiliki peran untuk ikut menciptakan lingkungan sekolah yang aman dengan tidak menjadi pelaku, tidak menjadi bagian dari kelompok yang melakukan bullying, serta berani melapor ketika melihat kejadian tersebut.
Kepala MTs Negeri 4 Kebumen, H Mistam, menyambut baik pelaksanaan pembinaan yang diberikan KUA Kecamatan Rowokele.
Menurutnya, kegiatan pembinaan remaja merupakan bagian penting dalam mempersiapkan siswa menghadapi masa depan.
“Madrasah sangat mendukung kegiatan positif seperti ini demi kebaikan dan masa depan murid. Terlebih bagi kelas IX, setelah lulus dari MTs kami berharap mereka dapat melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya, memiliki karakter mulia, serta membekali diri dengan ilmu pengetahuan,” ujar Mistam.
Menurutnya, pendidikan bagi siswa tidak cukup hanya berfokus pada aspek akademik.
Pembentukan karakter dan kemampuan menjaga diri juga menjadi bekal penting bagi remaja ketika melanjutkan pendidikan maupun memasuki kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, pembinaan seperti BRUS diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada siswa mengenai berbagai tantangan yang mungkin mereka hadapi dalam pergaulan sehari-hari.
Mistam juga berharap seluruh peserta mengikuti materi dengan sungguh-sungguh dan mengambil manfaat dari pembinaan tersebut.
Kasus perundungan di lingkungan pelajar menjadi pengingat bahwa pencegahan kekerasan di sekolah membutuhkan keterlibatan berbagai pihak.
Sekolah, orang tua, guru, siswa, serta lingkungan sekitar memiliki peran dalam menciptakan suasana pendidikan yang aman dan nyaman.
Pendidikan mengenai bullying juga perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Siswa perlu mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menjadi korban, menyaksikan perundungan, maupun ketika mengetahui adanya tindakan kekerasan yang dialami teman.
Keberanian untuk melapor menjadi salah satu langkah penting agar persoalan tidak semakin berkembang.
Di sisi lain, siswa juga perlu diberikan ruang untuk membangun pertemanan yang sehat serta memahami pentingnya menghormati orang lain.
Melalui kegiatan BRUS di MTs Negeri 4 Kebumen, Kemenag Kabupaten Kebumen dan KUA Kecamatan Rowokele turut mendorong terbentuknya generasi muda yang memiliki karakter positif dan mampu menjaga diri dalam lingkungan pergaulan.
Pembinaan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan demikian, upaya mencegah bullying di sekolah dapat dilakukan sejak dini dan lingkungan pendidikan dapat menjadi tempat yang lebih aman bagi seluruh siswa. (cah/stch/dda)














