Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Kisah Inspiratif Hafidz dan Dimas: Lulusan SLB Ukir Prestasi di Arena Taekwondo

Dapat sabuk merah tetap lanjut berlatih di mapolresta banyumasDapat sabuk merah tetap lanjut berlatih di mapolresta banyumas

BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Di tengah hiruk-pikuk lalu lintas dan keramaian kota Purwokerto, ada sepotong kisah yang tak banyak diberitakan. Sebuah cerita tentang semangat, keberanian, dan kerja keras dua pemuda luar biasa yang memilih melawan keterbatasan lewat jalur bela diri.

Mereka bukan sosok yang mendapat sorotan kamera, tapi aksi dan tekad mereka berbicara lebih keras dari kata-kata.

Mereka adalah Hafidz (24) dan Dimas Farhan (23), dua pemuda istimewa yang merupakan lulusan SLB C Yakut Purwokerto.

Keduanya memulai perjalanan mereka di dunia taekwondo sejak duduk di bangku SMP. Sebuah pilihan yang tak lazim diambil oleh anak-anak berkebutuhan khusus, tetapi justru menjadi tonggak awal sebuah kisah luar biasa.

Awalnya, taekwondo hanyalah kegiatan ekstrakurikuler biasa di sekolah mereka. Namun, di bawah bimbingan Aiptu Raden Sutrisno Wibowo, seorang anggota Banit Provost Polresta Banyumas sekaligus pelatih Guard Taekwondo Club, taekwondo berubah menjadi ruang tumbuh.

Ruang yang memberi rasa aman, sekaligus tantangan untuk menjadi lebih percaya diri di tengah masyarakat.

“Saya hanya ingin mereka merasa setara,” ucap Aiptu Raden, lembut namun tegas.

Pelatihan yang dulu dilakukan di lingkungan sekolah khusus perlahan dipindahkan ke Mapolresta Banyumas.

Keputusan ini bukan tanpa alasan. Di tempat yang lebih umum itu, Hafidz dan Dimas didorong untuk berani tampil, mengenal lingkungan luar, dan mengikis rasa minder yang selama ini membelenggu mereka.

Tujuh tahun telah berlalu sejak mereka pertama kali menjejakkan kaki di atas matras taekwondo. Selama itu pula semangat mereka ditempa.

Dari ketakutan menjadi keberanian. Dari keraguan menjadi tekad. Tahun 2018 menjadi momentum penting.

Dalam ajang Kejuaraan Taekwondo Banyumas (Kejurgab), Hafidz dan Dimas tidak berlaga di kategori disabilitas. Mereka turun langsung di kategori umum.

Hasilnya? Tak mengecewakan. Satu medali perak dan satu medali perunggu dari kategori poomsae berhasil mereka raih. Bukan hanya soal medali, tetapi pengakuan bahwa mereka mampu berdiri sejajar.

Kini, Hafidz telah menyandang sabuk merah. Sebuah pencapaian yang luar biasa bagi seorang penyandang disabilitas intelektual.

Ia konsisten mengikuti latihan setiap Kamis dan Minggu sore. Tidak pernah absen. Ia adalah contoh nyata bahwa ketekunan lebih berharga daripada keterbatasan.

“Baru kali ini ia memegang sabuk merah. Sabuk merah di bawah asisten pelatih. Jarang anak berkebutuhan khusus bisa pegang sabuk merah,” kata Aiptu Raden dengan bangga.

Sementara Dimas, meski kini disibukkan dengan pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online, tetap menjaga semangatnya untuk berlatih. Meskipun frekuensinya menurun, semangat yang ia bawa tetap utuh.

“Saya senang bisa belajar taekwondo di sini bersama pelatih dan teman-teman,” ujar Hafidz, pelan namun dalam.

Aiptu Raden tidak hanya mengajarkan teknik menendang dan memukul. Ia membangun keberanian, menanamkan harga diri, dan membuka jalan bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan untuk bermimpi.

Tidak hanya untuk Hafidz dan Dimas. Pelatihan yang ia bina terbuka juga untuk anak-anak yatim, penyandang disabilitas, dan keluarga kurang mampu.

Semua itu diberikan tanpa bayaran. Karena dalam pandangan Aiptu Raden, kemanusiaan tidak pernah bisa diukur dengan angka. (alw/stch)

Berita Sebelumnya
Michael Saylor menyebut Bitcoin bisa bernilai sampai USD 13 juta per koin dalam jangka panjang

Kenaikan Bitcoin Terus Berlanjut, Michael Saylor Yakin Harga BTC Capai USD 13 Juta

Berita Selanjutnya
Begini Cara Mengajukan PIP Kemdikbud

Cara Cek Status dan Jadwal Cair PIP Juni 2025 Melalui Situs Kemendikdasmen