BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Bisik Serayu Festival (BSF) 2025 telah resmi ditutup pada Minggu malam, 24 Agustus, dengan sebuah pertunjukan kolaborasi seni lintas negara yang spektakuler.
Digelar di tepi Sungai Serayu, Kalibagor, festival ini menandai akhir dari rangkaian kegiatan yang sejak awal telah memadukan tradisi lokal dengan nuansa global serta menyampaikan pesan penting mengenai pelestarian ekologi.
Dimulai sejak Sabtu, 23 Agustus, festival ini telah menarik perhatian ribuan penonton. Pembukaannya diwarnai dengan ritual sakral berjudul “Labuhan Lengger Gethek” karya maestro tari asal Banyumas, Rianto. Dalam prosesi tersebut, Rianto menari di atas gethek, rakit sederhana berbahan bambu.
Sambil melarungkan doa dan sesaji, ia juga menebar bibit ikan dan itik ke Sungai Serayu.
Aksi ini bukan hanya memukau secara artistik tetapi juga memiliki makna spiritual sebagai bentuk tolak bala serta ajakan untuk menjaga kelestarian Serayu sebagai sumber kehidupan masyarakat Banyumas Raya.
Produser BSF 2025, Abdul Azis Rasjid, menjelaskan bahwa festival tahun ini kembali menegaskan peran seni sebagai jembatan antara tradisi, kreativitas, dan kesadaran lingkungan.
“Setelah pembukaan yang sarat ritual, hari kedua rangkaian acara difokuskan pada pertunjukan seni dari berbagai daerah,” jelas Abdul Azis.
Ada sepuluh pertunjukan yang meliputi musik, tari, hingga sastra yang melibatkan seniman dari Banyumas maupun luar daerah.
Pada Minggu pagi tanggal 24 Agustus, kegiatan dimulai dengan diskusi budaya bersama Elisabeth D Inandiak, seorang budayawan dan penulis yang lama berkarya di Yogyakarta.
Diskusi ini membuka ruang perenungan tentang hubungan manusia dengan alam sekaligus menegaskan posisi sungai sebagai pusat kehidupan dan sumber inspirasi budaya.
Setelah itu, panggung festival diisi dengan pementasan tari dari sejumlah sanggar seni baik dari Purwokerto, Cilacap, Purbalingga hingga Jakarta. Kehadiran seniman dari luar Jawa dan mancanegara menambah kekayaan festival ini.
Walter Sebastian Vities, seorang seniman tari asal Argentina turut memberi warna dalam festival ini dengan gerakannya yang menggabungkan energi kontemporer dengan nuansa tradisi.
Sementara itu maestro kendang asal Makassar Daeng Serang memukau penonton dengan kepiawaiannya mengolah ritme perkusi yang menghentak tetapi tetap selaras dengan suasana tepian sungai.
Puncak malam festival berlangsung meriah melalui pertunjukan bertajuk “Golden Water (Ogo no Mizu).”
Pertunjukan ini menjadi kolaborasi besar antara Dewandaru Dance Company Kulu-kulu Lambangsari Group Rianto Dance Studio serta sejumlah seniman Jepang.
Perpaduan musik tari dan teatrikal dalam acara ini menghadirkan pengalaman visual dan emosional yang kuat. Musik tradisional berpadu dengan komposisi kontemporer sementara gerak tari menyatu dengan ekspresi teatrikal mengangkat tema air sebagai sumber kehidupan.
Koreografer tari Rianto menilai keberlanjutan Bisik Serayu Festival sangat penting terutama bagi para seniman lintas daerah maupun mancanegara.
Menurutnya festival ini telah menjadi wadah dialog budaya yang berharga.
“Kolaborasi ini membuka ruang dialog lintas budaya melalui seni sekaligus menjadi pengalaman kreatif yang dapat memantik lahirnya karya baru di masa mendatang,” ujar Rianto.
Ia menekankan bahwa BSF bukan sekadar pertunjukan estetis melainkan ada pesan ekologi yang melekat di setiap rangkaian acaranya. Seni menurut Rianto adalah medium ampuh untuk menyampaikan pesan penting tentang harmoni antara manusia dan alam.
“Serayu adalah sumber kehidupan. Lewat seni kami ingin menegaskan bahwa menjaganya adalah tanggung jawab bersama,” tegasnya.
Festival selama dua hari ini juga menjadi ruang pertemuan berbagai ekspresi budaya. Bagi masyarakat Banyumas BSF bukan hanya tontonan melainkan juga sarana untuk kembali menyatu dengan identitas lokal mereka yang erat kaitannya dengan Sungai Serayu.
Kehadiran seniman mancanegara menegaskan bahwa pesan menjaga alam adalah sesuatu yang universal melampaui batas negara maupun bahasa.
Penonton yang hadir tidak hanya berasal dari Banyumas tetapi juga dari berbagai daerah lain di Indonesia maupun internasional. Banyak di antaranya merasa kagum dengan penyelenggaraan festival yang mampu menghadirkan kesenian tradisi kontemporer sekaligus menyelipkan pesan ekologi penting untuk masa depan bumi kita bersama.
Antusiasme tersebut terlihat dari ramainya tepian Serayu dimana warga duduk berbaur menikmati pementasan sekaligus merasakan suasana sakral dalam setiap prosesi acara.
Bisik Serayu Festival sejak pertama kali digelar telah menempatkan diri sebagai salah satu agenda budaya penting di Banyumas Raya.
Tahun 2025 ini festival semakin meneguhkan posisinya sebagai ajang seni yang menghubungkan lokal dan global tradisi dan modernitas serta manusia dengan lingkungannya sendiri.
Dengan penutupan megah penuh makna BSF 2025 meninggalkan pesan jika seni bisa menjadi bahasa universal untuk merawat alam sekaligus mempererat persaudaraan antarbangsa.
Festival ini tidak hanya sukses menarik ribuan pengunjung namun juga berhasil menyampaikan pesan krusial tentang pelestarian lingkungan kepada masyarakat luas baik lokal maupun internasional.
Semoga ke depannya Bisik Serayu Festival terus dapat memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian lingkungan hidup serta pengembangan kebudayaan kita semua. (dms/stch)
















