BANYUMASEKSPRES.ID, JEPANG – Sejumlah lansia di Distrik Nishinari, Osaka, Jepang, membentuk komunitas sebagai tempat saling mendukung agar tidak menghadapi masa tua dan akhir kehidupan seorang diri.
Komunitas tersebut menjadi ruang bagi warga yang tidak memiliki keluarga atau orang terdekat untuk diandalkan ketika menghadapi berbagai kebutuhan setelah meninggal dunia.
Tidak hanya berkumpul dan bersosialisasi, para anggota komunitas bahkan mempersiapkan pemakaman mereka sejak masih hidup.
Mereka juga memiliki komitmen untuk hadir dan memberikan penghormatan terakhir ketika salah satu anggota meninggal dunia.
Komunitas yang bernama Kamagasaki Miokuri no Kai atau Kamagasaki Send-off Association tersebut terutama melayani warga penerima bantuan sosial.
Anggota komunitas cukup membayar iuran sebesar 100 yen atau sekitar Rp11.400 per bulan.
Saat ini, komunitas tersebut memiliki sekitar 100 anggota, termasuk sukarelawan.
Keberadaan mereka menjadi salah satu bentuk dukungan sosial bagi masyarakat lansia yang menghadapi kesepian dan tidak memiliki keluarga yang dapat mendampingi hingga akhir hayat.
Kamagasaki Send-off Association didirikan oleh Yoshihiro Sugimoto, yang kini berusia 82 tahun, pada Februari 2012.
Sejak awal, komunitas tersebut dibentuk untuk membantu orang-orang yang tidak memiliki keluarga atau dukungan sosial menghadapi kematian dengan lebih terhormat.
Kepemimpinan komunitas kemudian dilanjutkan oleh pendeta Buddha Toyoko Nakahara, 65 tahun, sejak April lalu.
Nakahara sendiri mulai tertarik bergabung setelah mengetahui aktivitas komunitas tersebut melalui sebuah program televisi pada 2018.
Dari informasi itu, ia kemudian mengetahui lebih jauh mengenai kondisi masyarakat yang hidup tanpa keluarga atau jaringan pendukung yang memadai.
Menurut Nakahara, kematian seorang diri merupakan sesuatu yang dapat dialami siapa saja.
Karena itu, ia ingin terlibat dalam kehidupan komunitas sekaligus membantu orang-orang menghadapi kematian dengan lebih bermartabat.
Pandangan tersebut menjadi salah satu alasan komunitas tetap menjalankan kegiatannya, tidak hanya ketika anggota meninggal dunia, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu kegiatan utama Kamagasaki Send-off Association adalah membantu anggotanya mempersiapkan berbagai kebutuhan setelah meninggal dunia.
Sebanyak 70 anggota telah menandatangani perjanjian yang memberikan wewenang kepada komunitas untuk mengurus pemakaman dan berbagai keperluan setelah mereka meninggal.
Langkah tersebut memberikan kepastian bagi anggota yang tidak mempunyai keluarga untuk menangani urusan setelah kematian.
Dengan adanya perjanjian, komunitas dapat membantu memastikan proses pemakaman tetap dilakukan sesuai kesepakatan.
Para anggota juga membawa kartu yang memuat informasi mengenai agama serta kontak Nakahara dan anggota komunitas lainnya.
Kartu tersebut menjadi salah satu bentuk identitas dan informasi penting apabila anggota mengalami kondisi darurat atau meninggal dunia.
Persiapan dilakukan ketika anggota masih hidup sehingga kebutuhan yang berkaitan dengan pemakaman tidak sepenuhnya menjadi persoalan yang harus diselesaikan pada saat kematian terjadi.
Kehadiran komunitas terlihat dalam sebuah pemakaman salah satu anggota yang berlangsung pada akhir Mei lalu.
Sebanyak 45 orang hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada anggota yang telah meninggal tersebut.
Kehadiran puluhan orang itu menunjukkan bahwa komunitas tidak hanya berfungsi sebagai organisasi administratif yang membantu mengurus pemakaman.
Mereka juga berupaya memastikan anggota yang meninggal tetap mendapatkan penghormatan dari orang-orang yang mengenalnya.
Sebagian biaya pemakaman ditanggung melalui bantuan sosial. Sementara itu, rumah duka yang mendukung komunitas turut membantu dengan menyediakan altar dan bunga secara gratis.
Dukungan tersebut membuat pelaksanaan pemakaman dapat dilakukan meskipun anggota berasal dari kalangan yang menerima bantuan sosial dan memiliki keterbatasan dalam memenuhi biaya pemakaman.
Bagi komunitas, pemakaman menjadi salah satu bentuk penghormatan terakhir kepada anggota yang selama hidup telah menjadi bagian dari lingkungan mereka.
Aktivitas Kamagasaki Send-off Association tidak berakhir ketika seorang anggota dimakamkan.
Para anggota juga mengadakan pertemuan rutin dan mengunjungi makam anggota yang telah meninggal.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mempertahankan hubungan antaranggotanya.
Mereka tidak hanya berkumpul untuk membicarakan persiapan kematian, tetapi juga membangun hubungan sosial selama masih hidup.
Kehadiran komunitas menjadi penting bagi warga yang menghadapi kesepian. Pertemuan rutin memberikan kesempatan kepada anggota untuk berinteraksi dan memiliki lingkungan sosial yang dapat diandalkan.
Kazuyasu Ikeda, 82 tahun, yang telah bergabung sejak komunitas tersebut berdiri, mengatakan kegiatan komunitas membantu menjaga martabat orang yang telah meninggal sekaligus mengurangi kesepian.
Pernyataan tersebut menggambarkan dua fungsi utama komunitas, yakni memberikan dukungan menjelang akhir kehidupan serta membangun hubungan sosial bagi anggota yang mungkin tidak memiliki keluarga sebagai tempat bergantung.
Kebutuhan terhadap komunitas semacam ini semakin besar seiring meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia di Nishinari.
Per 1 Agustus, sekitar 36,1 persen penduduk Distrik Nishinari berusia 65 tahun ke atas. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di Osaka.
Tingginya proporsi penduduk lansia membuat kebutuhan terhadap dukungan sosial semakin besar.
Tidak semua lansia memiliki keluarga yang tinggal berdekatan atau dapat membantu ketika mereka menghadapi persoalan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi tersebut, komunitas menjadi salah satu bentuk jaringan sosial alternatif.
Hubungan antaranggotanya dibangun bukan berdasarkan hubungan keluarga, melainkan atas kesamaan kebutuhan dan kepedulian terhadap sesama.
Kamagasaki Send-off Association menunjukkan bahwa persoalan kesepian pada lansia tidak hanya berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, tetapi juga menyangkut bagaimana seseorang menghadapi akhir hidupnya.
Meski jumlah anggota komunitas saat ini mencapai sekitar 100 orang termasuk sukarelawan, Nakahara mengakui beban kegiatan semakin berat.
Berbagai aktivitas yang dilakukan komunitas membutuhkan keterlibatan anggota, mulai dari pertemuan rutin, kunjungan ke makam, pendampingan sosial, hingga membantu mengurus kebutuhan anggota yang meninggal dunia.
Karena itu, Nakahara berharap semakin banyak anggota yang bersedia menjadi sukarelawan.
Tambahan sukarelawan diperlukan agar kegiatan komunitas dapat terus berjalan seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat lansia di Nishinari.
Keberadaan Kamagasaki Send-off Association memperlihatkan bagaimana masyarakat dapat membangun sistem dukungan bersama ketika hubungan keluarga tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pendampingan.
Dengan iuran yang relatif kecil, anggota mendapatkan ruang untuk saling mengenal, berkumpul, dan mempersiapkan kebutuhan yang berkaitan dengan akhir kehidupan.
Lebih dari itu, mereka juga memiliki orang-orang yang bersedia hadir ketika salah satu anggota meninggal dunia.
Fenomena tersebut menjadi gambaran mengenai tantangan masyarakat yang menua, terutama ketika semakin banyak orang menjalani kehidupan tanpa keluarga yang dapat menjadi tempat bergantung.
Bagi anggota komunitas di Nishinari, menghadapi akhir kehidupan bersama-sama menjadi salah satu cara untuk menjaga martabat sekaligus mengurangi rasa kesepian. (*/stch/dda)














