BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Pasangan selebritas Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu membagikan cerita mengenai perjalanan rumah tangga mereka, termasuk proses memperdalam agama atau hijrah yang mereka jalani setelah menikah.
Perjalanan tersebut ternyata tidak selalu berjalan mulus. Shireen mengungkapkan bahwa pada awal pernikahan, dirinya dan Teuku Wisnu sempat mengalami benturan cukup besar karena memiliki kesiapan spiritual yang berbeda.
Saat itu, Teuku Wisnu diketahui lebih dulu mulai belajar agama. Perubahan tersebut membuat Wisnu menjadi lebih tegas dalam menerapkan sejumlah aturan agama.
Di sisi lain, Shireen mengaku dirinya belum siap mengikuti perubahan tersebut sehingga perbedaan tersebut sempat menimbulkan ketegangan dalam rumah tangga.
Shireen menceritakan bahwa masa awal pernikahannya dengan Teuku Wisnu justru diwarnai banyak perbedaan.
Kondisi tersebut terjadi karena Wisnu sudah lebih dahulu aktif belajar agama, sedangkan Shireen belum memiliki keinginan yang sama.
“Jujur waktu awal pernikahan tuh lebih banyak bentroknya karena dia udah ngaji banget, sedangkan akunya belum mau gitu. Dua kayak gitu tuh dalam pernikahan tuh berat menurut aku gitu,” ungkap Shireen.
Menurut Shireen, perubahan sikap Wisnu pada masa awal proses hijrah juga cukup membuatnya merasa tidak nyaman.
Teuku Wisnu disebut memiliki sikap yang cenderung keras dan memaksa ketika mengajak istrinya mengikuti kegiatan keagamaan.
Alih-alih membuat Shireen semakin tertarik belajar agama, pendekatan tersebut justru membuatnya semakin menjauh.
Shireen mengakui bahwa dirinya bukan tipe orang yang mudah menerima sesuatu jika disampaikan dengan cara yang terlalu keras.
Ia bahkan mengatakan bahwa sikap Teuku Wisnu yang keras pada masa itu membuat keinginannya untuk mengikuti pengajian semakin berkurang.
“Kak Wisnu tuh keras banget waktu awal-awal gitu. Dan itu yang bikin aku makin enggak mau pengajian. Makanya aku selalu bilang sekarang kalau udah ngaji jangan galak-galak. Itu bikin orang makin jauh,” tegas Shireen.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi pelajaran penting bagi keduanya dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Menurut Shireen, proses mengajak seseorang menuju kebaikan tidak selalu harus dilakukan dengan pendekatan yang keras.
Cara penyampaian dan sikap terhadap pasangan juga memiliki peran penting agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.
Perubahan dalam hubungan keduanya mulai terjadi setelah Teuku Wisnu bertemu dengan sejumlah dai atau ustaz yang memberikan nasihat mengenai cara membimbing pasangan.
Wisnu kemudian mendapatkan pemahaman bahwa bersikap terlalu keras bukanlah cara yang tepat untuk mengajak seseorang belajar agama.
Ia justru dianjurkan untuk lebih lembut dan memberikan ruang kepada istrinya dalam menjalani proses tersebut.
“Alhamdulillah dia ketemu sama ustad-ustad yang malah marahin dia. ‘Enggak boleh, galak tuh salah.’ Akhirnya dia berubah, baik banget. Dia bisa menemukan titik kelemahan lo, jadi akhirnya luluh,” kata Shireen.
Nasihat tersebut tampaknya menjadi titik penting dalam perjalanan rumah tangga mereka.
Teuku Wisnu perlahan mengubah pendekatannya kepada Shireen dan tidak lagi menggunakan cara yang terlalu keras.
Setelah melewati berbagai proses, Shireen kini mengaku bersyukur melihat perubahan yang terjadi pada suaminya.
Menurutnya, Teuku Wisnu kini menjadi sosok yang lebih lembut dan mampu merangkul.
Perubahan tersebut membuat perjalanan mereka dalam memperdalam agama menjadi lebih nyaman.
Bagi Shireen, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa membangun kehidupan rumah tangga sekaligus memperdalam agama membutuhkan kesabaran dan proses.
Setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang berbeda. Karena itu, seseorang tidak seharusnya memaksakan perubahan kepada orang lain dengan cara yang dapat menimbulkan tekanan.
Shireen juga menyampaikan pandangannya mengenai cara mengajak seseorang menuju kebaikan.
Menurutnya, pendekatan dengan kasih sayang jauh lebih efektif dibandingkan penghakiman.
“Perempuan tuh maunya dirangkul, bukannya disikat. Jangan nge-judge orang. Kita tuh enggak pernah tahu ending orang tuh seperti apa,” tandasnya.
Pernyataan tersebut menjadi refleksi dari pengalaman pribadi Shireen dan Teuku Wisnu selama menjalani kehidupan rumah tangga.
Perjalanan mereka menunjukkan bahwa perbedaan dalam proses belajar agama dapat menjadi tantangan dalam hubungan suami istri.
Namun, komunikasi, kesabaran, serta kemauan untuk saling memahami dapat membantu pasangan melewati perbedaan tersebut.
Bagi Shireen, perubahan yang terjadi pada Teuku Wisnu justru menjadi bagian penting dalam perjalanan rumah tangga mereka.
Pendekatan yang lebih lembut membuat proses belajar agama tidak lagi terasa sebagai tekanan, melainkan menjadi perjalanan yang dapat dijalani bersama.
Kisah Shireen Sungkar dan Teuku Wisnu pun menjadi gambaran bahwa proses hijrah dan memperdalam agama dalam sebuah keluarga membutuhkan waktu.
Tidak semua orang memiliki kesiapan yang sama, sehingga pendekatan penuh kasih sayang dinilai lebih mampu membuka ruang untuk saling memahami. (*/stch/dda)














