BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Di tengah upaya peningkatan diversifikasi pertanian, talas beneng muncul sebagai komoditas alternatif yang menjanjikan di Banjarnegara.
Memiliki nama ilmiah Xanthosoma sagittifolium, tanaman ini tidak hanya mudah dibudidayakan tetapi juga menawarkan nilai ekonomi tinggi yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani lokal. Panen perdana talas beneng yang berlangsung di Desa Susukan, Kecamatan Wanayasa, menandai langkah awal pengembangan lebih luas komoditas ini di wilayah tersebut.
Ketua Asosiasi Tani Muda Surya Nusantara, Ugo Pranoto, menyatakan bahwa talas beneng sangat cocok untuk ditanam di Banjarnegara. Kondisi iklim dan tanah di daerah ini mendukung pertumbuhan tanaman tersebut dengan baik.
“Perawatannya mudah, panennya cepat, dan pasarnya sudah terbuka baik di dalam maupun luar negeri,” ujar Ugo dalam wawancara pada Kamis (7/8).
Lebih lanjut, Ugo menjelaskan bahwa satu hektare lahan dapat menghasilkan hingga 3 ton daun talas setiap dua bulan setelah tanaman mencapai usia empat bulan. Daun kering dari talas beneng memiliki nilai jual tinggi di pasar ekspor karena dapat digunakan sebagai bahan baku rokok herbal bebas nikotin dan berbagai produk pangan lainnya.
Menurut Ugo, tahun ini asosiasi mendorong lebih banyak petani untuk menanam talas beneng. Selain menyediakan bibit, Asosiasi Tani Muda juga menyiapkan sistem kemitraan dan offtaker sehingga petani tidak perlu khawatir mengenai penjualan hasil panen mereka.
“Kami tidak hanya memberi bibit tetapi juga menyiapkan sistem kemitraan dan offtaker. Jadi petani tidak bingung soal penjualan,” jelasnya.
Asosiasi Tani Muda pun siap memberikan pendampingan kepada para petani mulai dari pelatihan teknis hingga akses ke pasar. Ugo berharap langkah ini menjadi bagian dari upaya diversifikasi pertanian serta memperkuat ketahanan ekonomi petani lokal.
“Siapapun bisa menjadi bagian dari peluang usaha pertanian bersama Asosiasi Tani Muda. Dan kami selalu membuka peluang kerja sama dengan para petani,” tambahnya.
Dewan Pengawas Asosiasi, Heri Kuncoro, turut memberikan pandangannya mengenai potensi besar talas beneng sebagai tanaman ekonomis yang cocok ditanam oleh generasi muda karena proses budidayanya yang sederhana.
“Generasi muda saat ini jangan takut jadi petani. Talas beneng selain akan dimanfaatkan daunnya juga batangnya menjadi komoditas lainnya bahkan umbinya bisa dijadikan bahan pangan alternatif atau tepung bernilai tinggi,” kata Heri.
Heri juga menekankan bahwa tanaman ini dapat tumbuh di lahan marginal atau pekarangan rumah sehingga cocok untuk pertanian skala rumah tangga maupun dalam skala yang lebih luas. “Selain ekonomis juga ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tambahnya.
Potensi besar talas beneng bahkan menarik perhatian dari luar daerah. Jusri Sidik seorang pengusaha asal Jakarta mengaku tertarik untuk ikut mengembangkan tanaman ini setelah melihat langsung potensi besarnya saat berkunjung ke Banjarnegara.
“Ini potensi baru dan menjadi bagian dari ketahanan nasional dalam bentuk pertanian sesuai amanat Presiden Prabowo dalam bidang agraria,” kata Jusri.
Jusri menilai bahwa meskipun talas beneng adalah produk hasil bumi yang belum sepenuhnya dikembangkan pasarnya sangat terbuka luas baik untuk ekspor maupun domestik sehingga menawarkan peluang besar bagi para pengusaha dan petani untuk terlibat dalam rantai pasokannya.
Sejauh ini perkembangan budidaya talas beneng di Banjarnegara menunjukkan hasil positif dengan dukungan penuh dari berbagai pihak mulai dari asosiasi tani hingga pelaku usaha seperti Jusri Sidik yang melihat peluang bisnis menjanjikan dari komoditas ini.
Upaya kolaboratif antara petani lokal asosiasi dan pihak swasta dianggap menjadi kunci kesuksesan dalam memaksimalkan potensi ekonomi dari budidaya tanamannya baik untuk pasar domestik maupun internasional.
Dengan keberhasilan panen perdana tersebut optimisme akan masa depan cerah bagi para petani Banjarnegara semakin kuat seiring meningkatnya minat terhadap budidaya talas beneng sebagai sumber pendapatan baru serta kontribusi penting terhadap ketahanan pangan nasional melalui diversifikasi produk agrikultur unggulan Indonesia (abc/stch).
















