BANYUMASEKSPRES.ID, TEMANGGUNG – Sepanjang tahun 2025, Kabupaten Temanggung mengalami serangkaian bencana alam yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
Hingga akhir November, sebanyak 345 kejadian bencana menghantam wilayah ini, sebagian besar didorong oleh cuaca ekstrem.
Kepala Pelaksana BPBD Temanggung, Totok Nursetyanto, menjelaskan bahwa dari total kejadian tersebut, cuaca ekstrem menjadi penyebab dominan dengan rincian 114 tanah longsor, 59 banjir, serta 131 insiden terkait cuaca buruk lainnya.
“Dari 345 kejadian itu yang masuk kategori bencana ada 22, itu terjadi di 160 desa yang tersebar di 20 kecamatan,” ujar Totok kepada awak media pada Minggu (30/11).
Cuaca ekstrem memang menjadi ancaman utama bagi masyarakat Temanggung sepanjang tahun ini.
Kondisi alam yang tidak menentu memerlukan kesiapsiagaan ekstra dari semua pihak.
Totok menggarisbawahi pentingnya sinergi lintas sektor dalam menghadapi kemungkinan bencana yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu waspada, terutama mereka yang tinggal di daerah rawan seperti lereng perbukitan, bantaran sungai dan area terbuka yang rentan diterpa angin kencang.
“Jika terjadi hujan deras berdurasi panjang, agar masyarakat mencari tempat aman,” tambahnya.
Kerugian akibat bencana selama tahun ini cukup signifikan. Dampak dari berbagai kejadian tersebut diperkirakan mencapai kerugian materiil senilai Rp 3,9 miliar.
Lebih dari itu, sebanyak 2.697 warga terdampak dari sekitar 800 kepala keluarga.
Dari jumlah ini, sedikitnya 91 orang sempat harus mengungsi dan mendapat penanganan penuh dari BPBD selama masa tanggap darurat berlangsung.
Ada pula laporan mengenai tiga orang meninggal dunia dan lima lainnya mengalami luka-luka sementara satu orang dinyatakan hilang.
Setiap kali bencana melanda, BPBD Temanggung bergerak cepat dengan dibantu tim reaksi cepat dan para relawan di lapangan.
Koordinasi dengan berbagai lintas sektor terus dilakukan agar setiap peristiwa dapat ditangani seefisien mungkin.
“Kami berupaya semaksimal mungkin untuk memberikan respons tanggap darurat pada setiap kejadian,” tegas Totok.
Kondisi cuaca ekstrim yang memicu rangkaian bencana ini menuntut kesiapan lebih baik dari seluruh elemen masyarakat dan pemerintah lokal.
Masyarakat diharapkan terus meningkatkan kewaspadaan agar dapat meminimalkan dampak buruk dari setiap potensi bencana yang mungkin terjadi di masa depan.
BPBD Temanggung juga terus melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai langkah-langkah mitigasi bencana guna meningkatkan kesadaran dan kesiapan warga dalam menghadapi situasi darurat.
Ini termasuk pelatihan evakuasi mandiri dan peringatan dini melalui berbagai media komunikasi.
Dalam konteks perubahan iklim global yang turut memengaruhi pola cuaca regional, upaya mitigasi bencana menjadi lebih krusial daripada sebelumnya.
Pemerintah daerah bersama BPBD perlu merancang strategi jangka panjang untuk menekan risiko bencana sekaligus memperkuat infrastruktur penanggulangan bencana.
Dengan banyaknya insiden akibat cuaca ekstrem sepanjang tahun ini, harapannya adalah adanya peningkatan kualitas infrastruktur serta kebijakan proaktif yang dapat mencegah terulangnya kerugian serupa di masa mendatang.
Keberhasilan dalam penanganan bencana sangat bergantung pada kolaborasi semua pihak mulai dari pemerintah pusat hingga tingkat lokal serta partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar mereka tetap aman dari ancaman alam. (*/dda)
















