Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Selalu Pertahankan Proses Tradisional, Teh Bedana Banjarnegara Tetap Eksis Hingga Saat Ini

Selalu Pertahankan Proses TradisionalSelalu Pertahankan Proses Tradisional
TEH SANGAN: Kebun teh Desa Bedana yang masih mempertahankan pengolahan tradisional dan menjadi teh khas Kalibening Banjarnegara

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Desa Bedana, yang terletak di Kecamatan Kalibening, Banjarnegara, adalah sebuah permata tersembunyi di lereng pegunungan yang tetap setia pada tradisi di tengah arus industri minuman instan.

Di desa ini, aroma khas teh sangan masih menjadi denyut kehidupan, menandai keberlanjutan tradisi yang diwariskan turun-temurun.

Meskipun tantangan dari produk minuman pabrikan semakin meningkat, Desa Bedana tetap mempertahankan cara pengolahan teh secara manual.

Proses ini melibatkan penyangraian daun teh di atas tungku kayu bakar yang menghasilkan cita rasa dan aroma pekat yang tidak dapat ditiru oleh mesin modern.

Seorang tokoh kunci dalam menjaga tradisi ini adalah Tohir, petani teh berpengalaman yang telah mengabdikan lebih dari tiga dekade hidupnya untuk merawat kebun dan dapur pengolahan.

Setiap hari, di sebuah dapur sederhana, Tohir dengan telaten menjerang daun-daun teh dalam wajan tanah liat.

“Prosesnya masih tradisional, pakai tungku kayu bakar. Dari situ muncul rasa dan aroma yang berbeda dibanding teh pabrikan,” kata Tohir dalam wawancaranya dengan Banyumas Ekspres pada pertengahan November lalu.

Tohir telah menciptakan berbagai jenis teh khas Bedana seperti teh hijau, merah, putih, dan juga teh mesra—campuran unik yang memadukan daun teh dengan jahe, nanas, dan daun kemukus.

Ia menyebutkan bahwa teh putih merupakan salah satu produk terbaik karena terbuat dari pucuk daun pilihan yang dipetik pada waktu tertentu.

“Untuk teh putih itu termasuk premium karena diambil dari pucuk daun dan dipetik di waktu tertentu. Kalau teh mesra itu racikan khusus untuk kaum perempuan,” ujar Tohir.

Sekretaris Desa Bedana, Desi Kurniawati, menjelaskan bahwa teh telah lama menjadi tulang punggung ekonomi warga desa tersebut.

Dengan lebih dari 20 hektare lahan teh yang dikelola secara turun-temurun oleh keluarga-keluarga di desa itu, produk ini tidak hanya menjadi komoditas unggulan tetapi juga sumber ekonomi utama masyarakat setempat.

“Teh menjadi komoditas unggulan dan sumber ekonomi utama warga Bedana. Tradisi ini sudah berjalan puluhan tahun,” ungkap Desi.

Meskipun seluruh proses produksi masih mengandalkan tenaga manusia tanpa mesin canggih, pemasaran teh Bedana semakin meluas jangkauannya.

Kini produk-produk mereka dikenal hingga ke Pekalongan, Semarang, Yogyakarta, dan Bandung melalui skema kemitraan strategis.

“Yang paling sering itu ke Pekalongan. Tapi sekarang juga sudah sampai ke Bandung dan Yogyakarta lewat kemitraan,” tambah Desi.

Ia menekankan pentingnya inovasi untuk memastikan keberlanjutan industri teh lokal ini tanpa harus mengorbankan ruh tradisi yang ada sejak lama.

Melalui UMKM Bedana Maju, para petani terus berupaya mengembangkan varian-varian baru dari teh alami tanpa bahan kimia tambahan demi memperkaya cita rasa produk mereka.

“Kita terus eksplorasi rasa teh. Ada teh hitam hijau merah putih dan kombinasi dengan bahan lokal seperti nanas jahe dan daun kemukus,” jelasnya.

Dengan cita rasa unik yang lahir dari proses sangrai alami di ketinggian Kalibening ini tak heran jika teh Bedana kini tidak sekedar dianggap sebagai minuman tetapi juga bagian dari identitas budaya.

Warisan ini membuktikan bagaimana tradisi yang dijaga dengan sungguh-sungguh tetap mampu bertahan hidup bahkan bersaing di tengah derasnya modernisasi industri

Teh sangan dari Desa Bedana adalah contoh nyata bagaimana masyarakat setempat berhasil mempertahankan warisan budaya di tengah gempuran globalisasi.

Sementara banyak produsen memilih jalan instan demi keuntungan cepat penduduk Desa Bedana memilih jalan berbeda meskipun penuh tantangan Mengolah setiap lembar daun dengan cinta kasih.

Perpaduan antara metode tradisional dalam pengolahan rasa khas serta strategi pemasaran kreatif membuat produk ini layak dinikmati oleh siapa saja yang menghargai kualitas dan keaslian. (jud/dda)

Berita Sebelumnya
Komisi IV: Pendapatan Parkir Belum Maksimal

PAD Parkir Belum Maksimal, Komisi IV DPRD Desak Pemkab Purbalingga Perbaiki Sistem Retribusi

Berita Selanjutnya
Temanggung Dilanda 345 Bencana

Temanggung Dilanda 345 Bencana Alam Sepanjang 2025, Lebih dari 2 Ribu Warga Terdampak