Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
SMAN 1 Kroya Luncurkan Sekolah Mantap, Bekali Siswa dengan Keterampilan Siap Kerja
1.300 Dapur MBG Ditutup, Standar Keamanan Pangan Jadi Sorotan

1.300 Dapur MBG Ditutup, Standar Keamanan Pangan Jadi Sorotan

1300 Dapur MBG Ditutup1300 Dapur MBG Ditutup
BGN menutup 1.300 dapur MBG yang tidak memenuhi standar keselamatan pangan dan menyiapkan test kit kimiawi.

BANYUMASEKSPRES.ID, Kepala Badan Gizi Nasional BGN Sudaryono menutup sebanyak 1.300 dapur Makan Bergizi Gratis MBG yang tidak memenuhi standar keselamatan pangan.

Penutupan dapur MBG tersebut menjadi langkah tegas BGN dalam mengevaluasi keamanan makanan sekaligus memperbaiki pelaksanaan program secara menyeluruh.

Keputusan itu juga berkaitan dengan evaluasi kasus keracunan makanan di Berastagi yang menjadi perhatian dalam pengawasan program MBG secara nasional.

“Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” kata Sudaryono.

Menurut Sudaryono, pengawasan terhadap makanan tidak cukup hanya mengandalkan pemeriksaan sederhana melalui uji organoleptik sebelum makanan diberikan kepada penerima.

Uji organoleptik selama ini dilakukan melalui pemeriksaan bau dan rasa untuk mengetahui kondisi makanan sebelum disajikan kepada penerima manfaat.

Namun, metode tersebut dinilai belum memadai untuk mendeteksi kemungkinan adanya kontaminasi bahan kimia berbahaya dalam makanan yang disajikan.

Karena itu, BGN menyiapkan langkah tambahan dengan menyediakan perangkat khusus berupa test kit kimiawi di setiap dapur SPPG.

Test kit tersebut akan digunakan untuk membantu mendeteksi kandungan racun berbahaya yang mungkin terdapat pada makanan sebelum disalurkan.

Salah satu zat berbahaya yang menjadi perhatian adalah arsenik, selain kemungkinan pembusukan makanan yang perlu diketahui sebelum makanan disalurkan.

Keberadaan test kit kimiawi di setiap SPPG diharapkan memperkuat sistem pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG secara keseluruhan.

Langkah tersebut sekaligus diarahkan untuk menjaga kualitas pemenuhan gizi anak-anak Indonesia yang menjadi sasaran utama program tersebut secara berkelanjutan.

BGN mengadopsi metode penggunaan test kit dari SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri dan dinilai berhasil menjaga keamanan makanan.

SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri tercatat tidak mengalami kasus keracunan sehingga metode tersebut menjadi salah satu rujukan BGN.

Pengalaman tersebut menjadi pertimbangan dalam rencana penerapan test kit kimiawi pada seluruh dapur SPPG yang menjalankan program MBG.

Selain memperketat pengawasan dapur, BGN juga menyiapkan tindakan tegas terhadap personel yang tidak mampu menjalankan standar kerja.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa standar keselamatan pangan tidak hanya berlaku bagi operasional dapur, tetapi juga bagi personel BGN.

Personel yang tidak mampu mengikuti ketentuan dan standar kerja yang telah ditetapkan akan menghadapi tindakan tegas dari BGN.

“Dan bagi personel-personel yang tidak bisa mengikuti standar tinggi yang saya punya, mohon maaf harus saya copot atau saya pecat status ASN PPPK-nya,” tegasnya.

Sudaryono menilai penindakan terhadap personel diperlukan untuk memastikan standar kerja tetap dijalankan secara konsisten dalam pengelolaan SPPG.

Menurutnya, ketegasan tersebut juga diperlukan untuk melindungi kemitraan SPPG lain yang selama ini telah menjalankan tugas dengan baik.

Artinya, tindakan terhadap dapur maupun personel diarahkan agar pelaksanaan program MBG tetap berjalan sesuai standar yang ditetapkan BGN.

Pengawasan yang lebih ketat diharapkan dapat mencegah persoalan keamanan pangan sekaligus menjaga kepercayaan terhadap pelaksanaan program MBG.

BGN juga masih mengevaluasi keberlanjutan insentif bagi SPPG yang selama ini menjadi bagian dari dukungan operasional program tersebut.

Besaran insentif yang tengah dievaluasi mencapai Rp6 juta per hari bagi SPPG dalam menjalankan kegiatan pelayanan program MBG.

Pihak BGN belum menyampaikan keputusan akhir mengenai keberlanjutan insentif tersebut karena proses evaluasi masih berlangsung hingga saat ini.

Evaluasi insentif dilakukan bersamaan dengan upaya memperkuat pengawasan agar setiap SPPG mampu memenuhi ketentuan keselamatan pangan.

Penutupan 1.300 dapur MBG menjadi sinyal bahwa kepatuhan terhadap standar keamanan pangan mendapat perhatian serius dari BGN.

Kebijakan tersebut juga memperlihatkan upaya BGN memperbaiki kualitas pelaksanaan MBG setelah muncul persoalan keracunan makanan di Berastagi.

Melalui pengawasan lebih ketat dan penggunaan test kit, BGN berupaya memastikan makanan yang diberikan kepada anak tetap aman.

Keamanan pangan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan MBG karena program tersebut berkaitan langsung dengan pemenuhan gizi anak-anak Indonesia.

BGN kini menempatkan standar keselamatan pangan sebagai salah satu aspek penting dalam menjaga keberlanjutan program MBG secara menyeluruh. (vip)

Berita Sebelumnya
Sekolah Mantap Tingkatkan Produktivitas Siswa

SMAN 1 Kroya Luncurkan Sekolah Mantap, Bekali Siswa dengan Keterampilan Siap Kerja