BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Kondisi Jembatan Cacaban Kebumen di Desa Wonotirto, Kecamatan Karanggayam, semakin memprihatinkan.
Pondasi jembatan mengalami penurunan hingga sekitar 90 sentimeter sampai 1 meter sehingga permukaan jembatan di bagian tengah mengalami patahan dan kemiringan.
Kerusakan tersebut membuat warga dan pengguna jalan khawatir, terutama menjelang musim hujan.
Jembatan sepanjang sekitar 50 meter dengan lebar enam meter itu menjadi salah satu akses penting masyarakat karena menghubungkan sejumlah wilayah di Kebumen hingga Banjarnegara.
Kepala Desa Wonotirto, Suradi, mengatakan penurunan pondasi Jembatan Sungai Cacaban sudah terjadi sejak banjir besar pada 2021.
Setelah itu, kondisi jembatan terus mengalami penurunan secara bertahap setiap tahun.
“Awalnya tahun 2021 ketika Sungai Cacaban banjir cukup besar, mulai terjadi amblas. Kemudian lambat laun setiap tahun ada penambahan penurunan atau amblas. Sampai saat ini hampir sekitar 90 sentimeter sampai satu meter kemiringannya,” kata Suradi, Jumat (14/8).
Menurut Suradi, kerusakan semakin parah setelah banjir besar pada 2025. Ketika itu, pondasi jembatan kembali mengalami penurunan hingga hampir setengah meter.
Kondisi tersebut membuat permukaan jembatan kini tidak lagi rata dan terdapat patahan di bagian tengah.
Suradi menjelaskan, bagian bawah pondasi jembatan saat ini masih tertahan oleh batu wadas.
Namun, kondisi tersebut tidak dapat menjadi jaminan bahwa jembatan akan tetap aman jika kembali diterjang banjir dengan debit besar.
“Pondasinya amblas dan di bawah itu ada batu wadas. Sementara masih menopang di batu wadas, tetapi ada kemungkinan ketika nanti banjir besar lagi akan sangat membahayakan. Ketika pondasi turun lagi, bisa terjadi jembatan putus,” ujarnya.
Kondisi jembatan amblas di Kebumen tersebut juga berdampak terhadap kenyamanan dan keamanan pengguna jalan.
Kendaraan yang melintas harus lebih berhati-hati karena permukaan jembatan sudah mengalami patahan dan kemiringan.
Pemerintah Desa Wonotirto telah memasang rambu peringatan di sekitar lokasi.
Rambu tersebut ditujukan untuk mengingatkan pengendara agar meningkatkan kewaspadaan ketika melintasi Jembatan Cacaban.
Kekhawatiran juga dirasakan pengguna jalan, terutama pengemudi kendaraan berat.
Salah seorang pengemudi truk, Rasmin, mengaku waswas setiap kali melintasi jembatan tersebut.
“Kondisinya sangat parah, memprihatinkan banget. Saya sebagai pengemudi truk juga takut ambles ketika di tengah jalan. Selalu khawatir kalau setiap lewat jembatan itu,” kata Rasmin.
Dia berharap pemerintah segera melakukan perbaikan terhadap Jembatan Cacaban sebelum kerusakan semakin parah.
Menurutnya, apabila jembatan sampai putus, masyarakat akan mengalami kerugian karena harus menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh.
“Harapannya segera dibangun atau diperbaiki. Kalau sampai putus akan sangat merugikan orang banyak karena itu jalur utama. Kalau harus berputar lebih jauh dan lebih lama tentunya tidak efisien,” ujarnya.
Suradi menegaskan, Jembatan Cacaban memiliki peran penting bagi aktivitas masyarakat.
Selain menjadi penghubung antarwilayah, jembatan tersebut menjadi jalur yang menghubungkan Kabupaten Kebumen dengan Kabupaten Banjarnegara serta Kecamatan Karanggayam dengan Kecamatan Karangsambung.
Jalur tersebut juga digunakan masyarakat untuk berbagai kebutuhan sehari-hari.
Anak-anak melewati jembatan untuk berangkat sekolah, sementara masyarakat menggunakannya untuk menuju fasilitas kesehatan dan melakukan aktivitas perdagangan.
“Ketika akses ini putus, akan sangat merugikan banyak pihak. Anak-anak yang sekolah, kemudian ini juga akses menuju puskesmas, menjadi akses untuk perdagangan karena dilewati petani yang akan menjual hasil bumi ke pasar-pasar,” jelas Suradi.
Jika Jembatan Cacaban benar-benar terputus, masyarakat harus menggunakan jalur alternatif dengan jarak tempuh yang lebih jauh.
Kondisi itu dikhawatirkan meningkatkan waktu perjalanan sekaligus menambah biaya transportasi warga.
Kekhawatiran pemerintah desa semakin meningkat karena musim hujan diperkirakan akan kembali datang.
Debit Sungai Cacaban yang meningkat akibat hujan deras berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap pondasi jembatan yang sudah mengalami penurunan.
“Kami sudah sangat khawatir karena kondisi sekarang ini sudah sangat tidak nyaman digunakan. Ini sudah kemarau, sebentar lagi musim hujan. Takutnya di musim hujan terjadi banjir lagi dan terjadi ambruk,” tutur Suradi.
Pemerintah Desa Wonotirto berharap pemerintah kabupaten maupun pemerintah pusat segera mengambil langkah untuk menangani kerusakan tersebut.
Perbaikan dinilai penting dilakukan sebelum kondisi jembatan semakin parah dan mengganggu akses utama masyarakat.
“Semoga pemerintah, baik tingkat kabupaten maupun pusat, dengan adanya kondisi jembatan yang semakin parah segera diperbaiki agar tidak timbul korban di kemudian hari,” ucapnya.
Warga berharap perbaikan Jembatan Cacaban Kebumen dapat dilakukan sebelum musim hujan kembali berlangsung.
Selain menjaga kelancaran akses transportasi, perbaikan juga diperlukan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan kemungkinan jembatan ambruk saat kembali diterjang banjir.
Kerusakan Jembatan Cacaban menjadi perhatian karena jembatan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai penghubung antarwilayah, tetapi juga menopang aktivitas pendidikan, kesehatan, pertanian, dan perekonomian masyarakat.
Jika akses tersebut terputus, dampaknya berpotensi dirasakan oleh warga di sejumlah wilayah Kebumen dan Banjarnegara. (mam/stch/dda)
















