BANYUMASEKSPRES.ID, YOGYAKARTA – Ancaman El Nino 2026 yang berpotensi berkembang menjadi kategori kuat perlu mendapat perhatian.
Sejumlah wilayah di Indonesia, khususnya Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, berisiko mengalami kekeringan apabila musim kemarau berlangsung lebih panjang dari kondisi normal.
Ancaman tersebut tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. Kemarau yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat berdampak terhadap ketersediaan air, pertanian, hingga aktivitas masyarakat yang bergantung pada sumber daya air.
Dosen Departemen Geografi Lingkungan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr Emilya Nurjani, mengatakan dampak El Nino tidak akan dirasakan dengan tingkat yang sama di seluruh wilayah Indonesia.
Kondisi geografis dan karakter iklim masing-masing daerah turut menentukan seberapa besar risiko kekeringan.
“Wilayah bertipe monsoonal antara lain sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Sulawesi, serta wilayah selatan Indonesia,” ujar Emilya, Senin (10/8/2026).
Wilayah dengan karakter iklim monsun menjadi salah satu kawasan yang perlu meningkatkan kewaspadaan karena perubahan pola curah hujan dapat berdampak langsung terhadap panjang pendeknya musim kemarau.
Kewaspadaan terhadap potensi kekeringan semakin meningkat karena El Nino diperkirakan dapat berkembang bersamaan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Kedua fenomena iklim tersebut memiliki pengaruh terhadap pola curah hujan di Indonesia.
Jika terjadi secara bersamaan, dampaknya terhadap berkurangnya hujan di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi menjadi lebih besar.
Emilya menjelaskan, El Nino dan IOD positif dapat saling memperkuat dalam mengurangi curah hujan.
Kondisi tersebut berpotensi membuat sejumlah wilayah menghadapi periode kering yang lebih panjang.
“Ketika kedua fenomena tersebut berkembang secara bersamaan, maka efeknya dapat saling memperkuat dalam mengurangi curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” terangnya.
Namun, potensi kekeringan tidak bisa hanya dilihat berdasarkan jumlah curah hujan.
Kondisi lingkungan dan karakter wilayah juga menjadi faktor penting dalam menentukan tingkat risiko yang dihadapi masyarakat.
Menurut Emilya, sejumlah faktor lain seperti kondisi tanah, topografi, penggunaan lahan, kepadatan penduduk, serta ketergantungan masyarakat terhadap sektor pertanian turut memengaruhi tingkat risiko kekeringan.
Artinya, dua wilayah yang sama-sama mengalami penurunan curah hujan belum tentu menghadapi dampak yang sama.
Daerah dengan cadangan air terbatas dan ketergantungan tinggi terhadap pertanian dapat mengalami dampak yang lebih berat.
Kawasan karst menjadi salah satu wilayah yang memiliki tantangan tersendiri.
Cadangan air di kawasan tersebut relatif terbatas sehingga masyarakat dapat menghadapi tekanan lebih besar ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Kondisi tersebut membuat pengelolaan sumber daya air menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman El Nino 2026.
Ketersediaan air tidak hanya dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk menjaga aktivitas pertanian dan berbagai kegiatan ekonomi masyarakat.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang paling rentan terhadap kemarau panjang.
Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan debit air irigasi menurun sehingga petani harus menyesuaikan kembali pola dan kalender tanam.
Jika ketersediaan air terus berkurang, produktivitas tanaman dapat mengalami penurunan.
Dalam kondisi yang lebih parah, kekeringan berkepanjangan dapat meningkatkan risiko gagal panen.
Dampak tersebut tidak hanya dirasakan petani. Gangguan terhadap produksi pertanian juga dapat berpengaruh terhadap pasokan pangan dan kondisi ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian.
Emilya mengingatkan bahwa persoalan yang awalnya muncul akibat kondisi cuaca dan iklim dapat berkembang menjadi persoalan yang lebih luas apabila berlangsung dalam waktu lama.
“Apabila kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, persoalan yang awalnya berkaitan dengan cuaca dan iklim dapat berkembang menjadi persoalan sosial, ekonomi, hingga ketahanan wilayah,” kata Emilya.
Karena itu, masyarakat dan pemerintah perlu meningkatkan kesiapsiagaan sebelum dampak kekeringan meluas.
Pemantauan kondisi iklim menjadi salah satu langkah penting untuk mengetahui perkembangan El Nino dan perubahan pola curah hujan.
Menghadapi potensi El Nino 2026, pengelolaan sumber daya air juga perlu dilakukan secara lebih terencana.
Ketersediaan air yang terbatas perlu digunakan secara efisien agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.
Pemantauan kondisi sumber air, pengelolaan irigasi, serta penyesuaian kalender tanam dapat menjadi bagian dari upaya menghadapi risiko kekeringan, khususnya di wilayah yang bergantung pada sektor pertanian.
Kesiapsiagaan juga perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing wilayah.
Daerah yang memiliki risiko kekeringan lebih tinggi membutuhkan strategi yang berbeda dibandingkan wilayah yang masih memiliki cadangan air relatif mencukupi.
Ancaman El Nino 2026 dengan potensi berkembang menjadi kategori kuat menjadi pengingat pentingnya kesiapan menghadapi perubahan pola cuaca.
Terlebih jika fenomena tersebut berkembang bersamaan dengan IOD positif yang berpotensi memperkuat pengurangan curah hujan.
Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara menjadi sejumlah wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan karena karakter iklim monsun membuat kawasan tersebut lebih rentan terhadap kemarau panjang.
Dengan pemantauan iklim yang lebih kuat dan pengelolaan sumber daya air yang tepat, risiko kekeringan diharapkan dapat ditekan.
Langkah antisipasi sejak awal juga penting agar dampak El Nino tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih besar bagi pertanian, ekonomi, dan kehidupan masyarakat. (*/stch/dda)
















