Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Praperadilan Ketiga Lodewyk Pusung Ditolak, Status Tersangka Kasus Korupsi MBG Tetap Sah
Badan Geologi Tegaskan Air Laut Surut 6 September Tak Terkait Erupsi Anak Krakatau

Badan Geologi Tegaskan Air Laut Surut 6 September Tak Terkait Erupsi Anak Krakatau

Badan Geologi Bantah Picu TsunamiBadan Geologi Bantah Picu Tsunami
ERUPSI: Erupsi Gunung Anak Krakatau

BANYUMASEKSPRES.ID, Fenomena air laut surut yang terekam dalam video dan beredar luas pada 6 September 2026 sempat menimbulkan kekhawatiran masyarakat terkait potensi tsunami di kawasan Selat Sunda.

Namun, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan fenomena tersebut tidak berkaitan langsung dengan erupsi Gunung Anak Krakatau.

Penegasan ini disampaikan untuk memberikan kepastian kepada masyarakat sekaligus meluruskan informasi yang berkembang di tengah aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.

Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi Kementerian ESDM Athanasius Cipta menjelaskan, terdapat perbedaan waktu antara episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau dengan munculnya video air laut surut yang viral di media sosial.

Menurut dia, episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung mulai 4 September hingga berakhir pada 6 September 2026 dini hari.

“Secara kronologis, video muncul pada tanggal 6 September 2026, sementara letusan menerus Gunung Api Anak Krakatau dimulai tanggal 4 hingga 5 September 2026. Pada lewat tengah malam pukul 6 September 2026, Badan Geologi telah menyatakan bahwa erupsi menerus Gunung Anak Krakatau telah selesai,” ujar Athanasius dalam video yang diunggah Badan Geologi.

Dengan kronologi tersebut, Badan Geologi menyimpulkan fenomena air laut surut yang terlihat pada 6 September tidak memiliki kaitan langsung dengan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.

Berdasarkan evaluasi resmi Badan Geologi, satu episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau dimulai pada 4 September 2026 pukul 23.07 WIB dan berakhir pada 6 September 2026 pukul 00.04 WIB. Episode tersebut berlangsung sekitar 25 jam.

Setelah episode erupsi menerus berakhir, aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan karakteristik erupsi Strombolian.

Pada evaluasi 7 September, Badan Geologi mencatat adanya tiga kali erupsi Strombolian setelah episode erupsi menerus tersebut selesai.

Aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap menjadi perhatian karena dinamika vulkaniknya masih dipantau dan dievaluasi.

Status aktivitas gunung api tersebut juga tetap berada pada Level III atau Siaga.

Dengan demikian, meskipun episode erupsi menerus telah berakhir, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Athanasius juga menjelaskan bahwa fenomena air laut yang surut memang dapat menjadi salah satu tanda alami tsunami.

Namun, masyarakat tidak dapat langsung menyimpulkan setiap kejadian air laut surut sebagai indikasi tsunami.

Pasang surut merupakan fenomena alam yang memang terjadi secara normal.

Karena itu, diperlukan pemahaman mengenai karakteristik perubahan muka air laut untuk membedakan surut akibat pasang surut biasa dengan perubahan yang dapat menjadi tanda tsunami.

Menurut penjelasan Badan Geologi, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kecepatan dan tingkat perubahan air laut.

Surut yang berkaitan dengan tsunami dapat berlangsung sangat cepat dan menyebabkan air laut mundur jauh lebih dalam dibandingkan kondisi surut normal.

Karena itu, masyarakat tidak disarankan mengambil kesimpulan hanya berdasarkan video yang beredar di media sosial.

Informasi yang muncul dalam sebuah video juga perlu dilihat berdasarkan waktu kejadian, lokasi, sumber informasi, serta kondisi yang terjadi pada saat itu.

Kekhawatiran mengenai tsunami juga telah menjadi perhatian Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Pada 6 September 2026, BMKG menyampaikan hasil pemantauan terhadap 20 sensor tsunami gauge di sekitar Selat Sunda hingga pukul 07.00 WIB. Berdasarkan pemantauan tersebut, tidak ditemukan anomali muka air laut.

Data tersebut menjadi salah satu informasi penting untuk meredam kekhawatiran masyarakat setelah video fenomena air laut surut beredar luas.

BMKG juga memantau berbagai fenomena yang muncul bersamaan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau, termasuk gangguan geomagnetik dan petir vulkanik.

Pemantauan dilakukan melalui sistem pengamatan yang berada di kawasan sekitar Selat Sunda.

Dengan adanya pemantauan dari lembaga terkait, masyarakat diharapkan tidak mudah mempercayai informasi yang belum memiliki sumber resmi.

Badan Geologi sebelumnya juga mengimbau masyarakat di wilayah pesisir Banten dan Lampung agar tetap tenang serta tidak mempercayai isu mengenai erupsi Gunung Anak Krakatau yang disebut akan menyebabkan tsunami.

Masyarakat diminta tetap mengikuti arahan pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Imbauan tersebut menjadi penting karena informasi mengenai bencana alam dapat menyebar sangat cepat melalui media sosial.

Informasi yang belum terverifikasi berpotensi menimbulkan kepanikan apabila langsung dipercaya dan disebarkan kembali.

Di sisi lain, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga.

Badan Geologi menyebut probabilitas terjadinya letusan dalam beberapa periode berikutnya masih tinggi sehingga perkembangan aktivitas gunung api terus dipantau.

Badan Geologi pada evaluasi berikutnya juga menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau masih berlangsung.

Hingga 11 September 2026 pukul 06.00 WIB, tercatat 14 kali erupsi Strombolian sejak episode erupsi menerus berakhir.

Data kegempaan vulkanik menunjukkan aktivitas yang fluktuatif dengan kecenderungan menurun pada sejumlah parameter, meskipun aktivitas vulkanik tetap dipantau.

Pemerintah tetap mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III atau Siaga.

Badan Geologi juga menegaskan masyarakat, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap perlu waspada terhadap aktivitas gunung api, tetapi kewaspadaan harus didasarkan pada informasi resmi dan bukan pada kesimpulan dari konten viral.

Fenomena air laut surut yang viral pada 6 September menjadi pengingat bahwa informasi mengenai bencana alam harus disikapi secara hati-hati.

Video yang menunjukkan kondisi air laut memang dapat menggambarkan suatu kejadian nyata.

Namun, hubungan antara kejadian tersebut dengan erupsi gunung api atau potensi tsunami tidak dapat ditentukan hanya dari rekaman visual.

Penjelasan dari lembaga berwenang seperti Badan Geologi dan BMKG menjadi rujukan penting untuk memahami situasi secara utuh.

Masyarakat juga perlu memperhatikan waktu dan lokasi sebuah video sebelum menarik kesimpulan.

Konten lama yang kembali beredar dapat menimbulkan persepsi berbeda apabila tidak disertai konteks yang tepat.

Dalam kasus fenomena air laut surut di Selat Sunda, Badan Geologi telah memberikan penjelasan bahwa fenomena pada 6 September 2026 tidak berkaitan langsung dengan episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau yang telah berakhir pada dini hari tanggal tersebut.

Di tengah aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih berlangsung, masyarakat tetap diminta waspada tanpa panik.

Mengikuti perkembangan dari sumber resmi menjadi langkah penting agar masyarakat dapat membedakan antara informasi kebencanaan yang valid dengan isu yang belum terbukti. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Praperadilan Ketiga Lodewyk Kandas

Praperadilan Ketiga Lodewyk Pusung Ditolak, Status Tersangka Kasus Korupsi MBG Tetap Sah