Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Bukan Sekadar Menjahit, 25 Warga Binaan Nusakambangan Belajar Produksi 200 Celana Kargo

Warga Binaan Lapas Nirbaya Produksi Celana KargoWarga Binaan Lapas Nirbaya Produksi Celana Kargo
JAHIT : Warga binaan Lapas Nirbaya mengerjakan celana pendek kargo sebagai salah satu program pemberdayaan

BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Sebanyak 25 warga binaan Lapas Kelas IIB Nirbaya Nusakambangan mendapat kesempatan mengasah keterampilan di bidang konveksi.

Tak sekadar belajar menjahit, mereka terlibat langsung dalam proses produksi hingga berhasil menyelesaikan 200 celana kargo pendek.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari program pembinaan kemandirian yang diberikan kepada warga binaan.

Keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka menyelesaikan masa pembinaan dan kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Sebanyak 25 warga binaan tersebut tergabung dalam dua lini produksi. Mereka bekerja dengan pembagian tugas sesuai tahapan pekerjaan sehingga proses produksi dapat berlangsung secara teratur.

Dalam kegiatan tersebut, warga binaan tidak hanya mengerjakan satu bagian pekerjaan.

Mereka mendapatkan pengalaman menjalankan rangkaian produksi konveksi mulai dari tahap awal hingga produk selesai.

Proses pembuatan 200 celana kargo pendek dilakukan melalui sejumlah tahapan.

Warga binaan mulai belajar memotong bahan sesuai kebutuhan produksi, kemudian melanjutkan ke proses menjahit.

Setelah bagian-bagian celana selesai dijahit, mereka juga mengerjakan pemasangan berbagai komponen hingga memasuki tahap akhir produksi.

Seluruh pekerjaan dilakukan dengan pembagian tugas di masing-masing lini produksi.

Selama proses berlangsung, warga binaan mendapatkan pendampingan dari instruktur yang berpengalaman.

Pendampingan tersebut menjadi bagian penting agar mereka memahami cara bekerja dalam proses produksi konveksi secara teratur.

Pengalaman tersebut diharapkan tidak hanya memberikan kemampuan teknis, tetapi juga membiasakan warga binaan dengan pola kerja yang membutuhkan ketelitian, kedisiplinan, dan tanggung jawab.

Kepala Lapas Kelas IIB Nirbaya, Helmi Najih, mengatakan kegiatan konveksi tersebut merupakan bagian dari pembinaan yang bertujuan memberikan keterampilan kepada warga binaan.

Menurutnya, capaian produksi sebanyak 200 celana kargo pendek menjadi indikator positif dalam pengembangan pembinaan kemandirian di bidang konveksi.

“Capaian produksi ini menjadi indikator positif dalam pengembangan pembinaan kemandirian di bidang konveksi,” katanya.

Helmi menjelaskan, keterampilan yang diperoleh warga binaan diharapkan dapat dimanfaatkan ketika mereka kembali ke masyarakat.

Kemampuan tersebut dapat menjadi salah satu modal untuk mencari pekerjaan maupun dikembangkan menjadi usaha mandiri.

“Keterampilan tersebut bisa digunakan untuk mencari pekerjaan maupun dikembangkan menjadi usaha sendiri,” lanjutnya.

Dengan demikian, kegiatan konveksi tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan sebuah produk.

Lebih dari itu, program tersebut menjadi sarana bagi warga binaan untuk memperoleh pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan setelah mereka bebas.

Pembuatan 200 celana kargo pendek juga menjadi tahap awal untuk melihat kemampuan warga binaan dalam menjalankan pekerjaan konveksi secara teratur.

Hasil produksi perdana tersebut nantinya akan menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan unit konveksi di Lapas Nirbaya.

Evaluasi diperlukan untuk mengetahui bagian-bagian dalam proses produksi yang masih perlu diperbaiki.

Dengan begitu, kegiatan konveksi dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kemampuan warga binaan dan kebutuhan pembinaan.

“Hasil produksi perdana tersebut nantinya akan dievaluasi untuk mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki. Pengembangan unit konveksi juga akan dilakukan secara bertahap,” tandasnya.

Pengembangan secara bertahap tersebut diharapkan dapat membuat kegiatan pembinaan kemandirian di bidang konveksi semakin terarah.

Warga binaan juga dapat memperoleh kesempatan lebih luas untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Lapas Nirbaya berharap semakin banyak warga binaan yang dapat mengikuti program keterampilan tersebut.

Kesempatan memperoleh keterampilan kerja dinilai penting sebagai salah satu persiapan sebelum mereka kembali ke lingkungan masyarakat.

Dengan kemampuan yang dimiliki, warga binaan diharapkan tidak hanya bergantung pada kesempatan kerja setelah bebas.

Mereka juga memiliki kemungkinan untuk mengembangkan keterampilan tersebut menjadi kegiatan usaha secara mandiri.

Pembinaan keterampilan menjadi salah satu upaya untuk mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah masa pembinaan selesai.

Pengalaman bekerja dalam proses produksi juga dapat memberikan gambaran mengenai tanggung jawab dan keteraturan dalam dunia kerja.

“Kami berupaya meningkatkan kompetensi warga binaan agar memiliki keterampilan kerja sebagai bekal setelah menyelesaikan masa pembinaan,” pungkas Helmi.

Melalui program tersebut, 200 celana kargo pendek yang berhasil diproduksi bukan hanya menjadi hasil sebuah kegiatan konveksi.

Produksi tersebut juga menjadi bagian dari proses pembinaan 25 warga binaan Lapas Nirbaya Nusakambangan agar memiliki keterampilan yang dapat dimanfaatkan ketika kembali ke masyarakat. (Jul/stch/dda)

Berita Sebelumnya
RSUD Soedirman Tambah Poli Spesialis

RSUD Dr Soedirman Kebumen Siapkan Penambahan Poli Spesialis, Warga Tak Perlu ke Luar Daerah

Berita Selanjutnya
Harga Pertamax Dievaluasi Berpotensi Turun

Pertamax Berpotensi Naik, Ini Faktor yang Bikin Harga Dekati Rp20 Ribu