BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjarnegara terus mempercepat upaya penanganan tuberkulosis (TBC) dengan memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Langkah tersebut dilakukan setelah capaian penemuan kasus hingga Juni 2026 baru mencapai 47 persen, masih berada di bawah target pertengahan tahun yang ditetapkan sebesar 52,5 persen.
Berdasarkan data Dinkes Banjarnegara, sepanjang tahun 2026 sebanyak 47 penderita TBC meninggal dunia.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah sehingga berbagai strategi percepatan penemuan kasus dan pengobatan terus diperkuat untuk menekan penularan serta meningkatkan angka kesembuhan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara, Latifa Hesti Purwaningtyas, mengatakan penanganan TBC tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan.
Dibutuhkan keterlibatan berbagai pihak agar target eliminasi TBC pada 2030 dapat tercapai.
“Kami juga terus mengedukasi masyarakat agar tidak memberikan stigma pada penderita TBC, karena penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang teratur,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan sebanyak 95 persen penderita TBC memulai pengobatan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan atau Treatment Success Rate (TSR) mencapai 90 persen.
Selain itu, angka pasien yang putus berobat diharapkan dapat ditekan hingga di bawah 10 persen.
Untuk mengejar target tersebut, Dinkes Banjarnegara mengoptimalkan program Active Case Finding (ACF) atau penemuan kasus secara aktif yang terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG).
Melalui program tersebut, masyarakat menjalani skrining menggunakan mobil X-Ray serta pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) yang tersedia di puskesmas.
Pemeriksaan dilakukan untuk menemukan kasus TBC sedini mungkin sehingga pengobatan dapat segera dimulai.
Selain pasien, anggota keluarga yang tinggal serumah juga mendapatkan perhatian melalui pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) guna menekan risiko penularan di lingkungan keluarga.
Dinkes Banjarnegara juga memperluas kerja sama melalui program SIMPATIK yang melibatkan berbagai unsur masyarakat.
Program tersebut menggandeng Bhabinkamtibmas, organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan Fatayat Nahdlatul Ulama (NU), lembaga pemasyarakatan, hingga pondok pesantren dalam upaya penemuan kasus, edukasi, dan pendampingan pasien.
Upaya pencegahan turut diperluas ke sektor pendidikan melalui penyusunan materi muatan lokal mengenai TBC di sejumlah sekolah.
Edukasi sejak dini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut.
Sementara itu, sektor industri juga menjadi sasaran program skrining dan edukasi kesehatan.
Dinkes telah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan, di antaranya PT Falkata dan PLTA Mrica, untuk melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para pekerja.
Latifa mengakui pelaksanaan skrining di lingkungan perusahaan memiliki tantangan tersendiri karena harus menyesuaikan dengan jadwal kerja karyawan.
Meski demikian, pihaknya optimistis target eliminasi TBC tetap dapat dicapai melalui kolaborasi yang telah dibangun.
“Memang tantangan terbesar justru di lingkungan perusahaan, karena harus menyesuaikan dengan jam kerja karyawan. Namun kami tetap optimistis dengan kolaborasi yang sudah dibangun, target eliminasi TBC tahun 2030 bisa tercapai,” katanya.
Melalui penguatan skrining aktif, perluasan edukasi, pengobatan yang teratur, serta dukungan berbagai elemen masyarakat, Pemerintah Kabupaten Banjarnegara berharap angka penularan dan kematian akibat TBC dapat terus ditekan sehingga target eliminasi TBC nasional pada 2030 dapat terwujud. (far/stch/dda)















