Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Wasit Tempuh Jalur Hukum Usai Jadi Korban Pengeroyokan Suporter Tarkam di Purbalingga

Wasit Tempuh Jalur HukumWasit Tempuh Jalur Hukum
KORBAN: Wasit Ridho Bekti Hutomo dikejar sejumlah oknum suporter saat pertandingan turnamen sepak bola di Desa Wirasaba

BANYUMASEKSPRES.ID, PURBALINGGA – Kericuhan yang terjadi dalam turnamen sepak bola di Desa Wirasaba, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, berbuntut panjang.

Wasit utama pertandingan, Ridho Bekti Hutomo, resmi melaporkan dugaan pengeroyokan yang dialaminya kepada pihak kepolisian.

Sementara itu, Askab PSSI Purbalingga memutuskan menghentikan seluruh rangkaian turnamen dan menarik seluruh perangkat pertandingan resmi.

Ridho Bekti Hutomo mengatakan laporan telah disampaikan ke Polsek Bukateja lengkap dengan hasil visum dari rumah sakit sebagai barang bukti.

“Saya sudah lapor ke Polsek Bukateja, lengkap dengan hasil visum dari rumah sakit. Kami masih menunggu tindak lanjut dari polisi,” ujar Ridho, Minggu (2/8/2026).

Selain Ridho, dua asisten wasit yang turut menjadi korban dugaan penganiayaan juga telah membuat laporan kepada pihak kepolisian.

Ketiganya diduga menjadi sasaran amuk sejumlah penonton yang diduga merupakan pendukung Andalas FC Banjarnegara.

Ridho mengungkapkan dirinya mendapat dukungan penuh dari Askab PSSI Purbalingga, Komisi Wasit (Komwas) Askab PSSI Purbalingga, serta panitia penyelenggara turnamen dari Lanud Jenderal Besar Soedirman. Mereka turut mendampinginya saat membuat laporan polisi.

Bahkan, Komandan Lanud Jenderal Besar Soedirman juga mendatangi rumah Ridho untuk menyampaikan keprihatinan atas insiden kekerasan yang menimpa perangkat pertandingan tersebut.

Akibat pengeroyokan itu, Ridho mengalami sejumlah luka, mulai dari lebam di bagian wajah, belakang kepala, leher, hingga dada. Ia juga mengalami dislokasi pada salah satu jari tangan.

Setelah menjalani pemeriksaan medis berupa rontgen dan CT scan, dokter memastikan tidak ditemukan cedera serius sehingga Ridho diperbolehkan pulang pada malam yang sama tanpa harus menjalani perawatan inap.

Ridho menegaskan dirinya bukan satu-satunya korban. Dua asisten wasit serta seorang wasit cadangan dari TNI Angkatan Udara juga mengalami tindakan kekerasan dalam insiden tersebut.

Kapolsek Bukateja, AKP Dono Hendarto, membenarkan pihaknya telah menerima laporan dari para korban dan kini tengah melakukan penyelidikan.

“Kami sudah menindaklanjuti laporan korban,” katanya.

Pihak kepolisian juga menyayangkan aksi anarkis yang mencoreng jalannya turnamen sepak bola tersebut.

Merespons insiden itu, Askab PSSI Purbalingga mengambil langkah tegas dengan menghentikan penyelenggaraan turnamen.

Ketua Askab PSSI Purbalingga, Uut Triyas Yanuar, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah berkoordinasi dengan panitia pelaksana.

“Telah disepakati bahwa turnamen tahun 2026 ini dihentikan pelaksanaannya,” ujarnya.

Selain menghentikan turnamen, Askab PSSI Purbalingga juga mengeluarkan kebijakan baru.

Seluruh perangkat pertandingan resmi PSSI diwajibkan menolak penugasan pada turnamen yang belum memiliki rekomendasi resmi dari PSSI.

Perangkat pertandingan juga diminta memastikan setiap surat tugas diterbitkan melalui mekanisme organisasi yang sah, sedangkan panitia penyelenggara wajib mengurus rekomendasi resmi sebelum menggelar kompetisi.

“Askab PSSI Kabupaten Purbalingga tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk permasalahan yang timbul dalam turnamen yang diselenggarakan tanpa rekomendasi resmi PSSI,” tegas Uut.

Ketua Komisi Wasit Askab PSSI Purbalingga, Mugi Ari P, menambahkan seluruh perangkat pertandingan resmi dipastikan tidak akan bertugas pada sisa pertandingan turnamen tersebut.

“Untuk pertandingan semifinal kedua dan final, seluruh perangkat pertandingan dari Askab PSSI Purbalingga akan walk out,” katanya.

Menurut Mugi, keputusan tersebut diambil karena panitia dinilai gagal memberikan jaminan keamanan dan keselamatan kepada perangkat pertandingan.

Kericuhan sendiri terjadi pada laga semifinal antara Andalas FC Banjarnegara melawan Gama Adipasir, Kamis (30/7/2026).

Pertandingan memanas pada babak kedua setelah sejumlah pemain, ofisial, dan penonton memprotes keputusan wasit Ridho Bekti Hutomo.

Situasi kemudian berubah ricuh hingga berujung dugaan pengeroyokan terhadap perangkat pertandingan.

Meski Andalas FC akhirnya menang tipis 1-0 melalui gol pada masa tambahan waktu, insiden tersebut meninggalkan catatan buruk bagi penyelenggaraan turnamen sepak bola di Kabupaten Purbalingga.

Kasus ini kini ditangani pihak kepolisian, sementara Askab PSSI Purbalingga berharap kejadian serupa tidak kembali terulang melalui pengetatan aturan penyelenggaraan turnamen sepak bola di tingkat daerah. (tya/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Kebakaran Makin Meresahkan

Tiga Kebakaran Terjadi dalam Sehari di Banyumas, Rumah Warga Hangus hingga Lahan Terbakar

Berita Selanjutnya
Kejagung Sita Dokumen TPPU dari Rumah Febri

Rumah Febrie Adriansyah Digeledah Kejagung, Penyidik Sita Dokumen Terkait TPPU