Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Nyaris Celaka karena Microsleep, Sidik Jawara Kembali Tantang Race Around Djava 3.000 Km
Desa Grenggeng Kebumen Jadi Percontohan Nasional Program Rice Journey untuk Ketahanan Pangan

Desa Grenggeng Kebumen Jadi Percontohan Nasional Program Rice Journey untuk Ketahanan Pangan

Desa Grenggeng Jadi Percontohan NasionalDesa Grenggeng Jadi Percontohan Nasional
FOTO BERSAMA: Diksusi Tata Kelola Komoditas Beras yang digelar Kemenko Pangan bersama BRIN di Trio Azana Style Hotel Kebumen, Kebumen, Jawa Tengah (Jateng), Senin (27/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen, resmi ditetapkan sebagai salah satu lokasi percontohan nasional Program Rice Journey, sebuah inovasi pengelolaan komoditas beras berbasis data yang bertujuan memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

Program ini menjadi bagian dari transformasi sistem pangan nasional melalui pemanfaatan teknologi digital dan integrasi data secara menyeluruh.

Program Rice Journey merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Pemerintah Kabupaten Kebumen, serta Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) sebagai mitra strategis dalam pelaksanaan di tingkat desa.

Melalui program tersebut, pemerintah berupaya menciptakan sistem pengelolaan beras yang lebih modern, transparan, dan berbasis data sehingga setiap kebijakan yang diambil dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan akurat.

Staf Ahli Menteri Koordinator Bidang Pangan, Assoc Prof Dr Ir H Sugeng Santoso MT QRGP CGRE, mengatakan bahwa penguatan ketahanan pangan nasional tidak cukup hanya dilakukan dengan meningkatkan produksi pertanian.

Menurutnya, sistem pengelolaan data yang terintegrasi juga menjadi faktor penting dalam mendukung pengambilan keputusan pemerintah.

“Transformasi tata kelola pangan harus dimulai dari transformasi data. Ketika data produksi, distribusi, stok hingga konsumsi terintegrasi dalam satu sistem, pemerintah memiliki dasar yang kuat untuk mengambil keputusan secara presisi dan responsif,” ujarnya.

Sebagai bagian dari implementasi program, Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama BRIN mengembangkan Executive Decision Dashboard Rice Journey, yaitu sebuah Decision Support System (DSS) yang dirancang untuk memantau perjalanan beras secara menyeluruh mulai dari proses budidaya hingga sampai ke tangan konsumen.

Sistem digital tersebut mampu merekam berbagai tahapan rantai pasok beras, mulai dari proses penanaman, panen, penggilingan, penyimpanan, distribusi, hingga konsumsi masyarakat.

Seluruh informasi disajikan secara real time sehingga memudahkan pemerintah dalam memantau kondisi pangan nasional.

Tidak hanya menyajikan data terkini, dashboard Rice Journey juga dilengkapi berbagai fitur analisis modern.

Di antaranya adalah analisis risiko, simulasi berbagai skenario kebijakan, hingga early warning system yang mampu mendeteksi lebih dini potensi gangguan produksi, distribusi, maupun fluktuasi harga beras.

Dengan adanya sistem tersebut, pemerintah diharapkan dapat mengambil langkah antisipatif sebelum terjadi gangguan yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan maupun harga beras di masyarakat.

Desa Grenggeng dipilih sebagai lokasi implementasi karena dinilai memiliki karakteristik pertanian yang sangat representatif.

Wilayah ini memiliki hamparan sawah produktif, kelompok tani yang aktif, serta ekosistem pertanian yang mendukung penerapan sistem digital dalam pengelolaan komoditas pangan.

Keberhasilan implementasi di Desa Grenggeng nantinya diharapkan dapat menjadi model yang bisa diterapkan di berbagai daerah lain di Indonesia sebagai bagian dari penguatan sistem ketahanan pangan nasional.

Dalam pelaksanaan di lapangan, Ikatan Pemuda Penggerak Desa Indonesia (IPDA) memegang peranan penting sebagai pendamping masyarakat desa.

Organisasi tersebut bertugas memperkuat kapasitas kelembagaan desa, membantu proses pengumpulan data pertanian, sekaligus membangun kolaborasi antara petani, pemerintah desa, pemerintah daerah, akademisi, hingga pemerintah pusat.

Menurut Sugeng Santoso, keterlibatan generasi muda desa menjadi salah satu kunci keberhasilan transformasi digital di sektor pertanian.

Kehadiran pemuda diharapkan mampu mempercepat proses digitalisasi sekaligus memastikan data yang dikumpulkan benar-benar akurat dan berkelanjutan.

“Keterlibatan pemuda desa diharapkan mampu memastikan proses digitalisasi sektor pangan berjalan secara partisipatif, akurat, dan berkelanjutan,” katanya.

Program Rice Journey juga menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam membangun sistem pangan nasional yang lebih adaptif terhadap berbagai tantangan, mulai dari perubahan iklim, gangguan distribusi, hingga fluktuasi harga komoditas.

Melalui sistem berbasis data yang terintegrasi, pemerintah dapat memantau kondisi produksi beras di berbagai wilayah secara lebih cepat, sehingga kebijakan yang diambil tidak lagi hanya berdasarkan perkiraan, tetapi didukung data yang valid dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dengan ditetapkannya Desa Grenggeng sebagai lokasi percontohan nasional, Kabupaten Kebumen memiliki peran strategis dalam mendukung modernisasi sektor pertanian Indonesia.

Program ini diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas tata kelola beras, tetapi juga memperkuat kesejahteraan petani, menjaga stabilitas pasokan pangan, serta mendukung terwujudnya ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi dan inovasi digital. (mam/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Melawan Kantuk, Menantang Pulau Jawa

Nyaris Celaka karena Microsleep, Sidik Jawara Kembali Tantang Race Around Djava 3.000 Km