BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Semangat melestarikan budaya lokal terus tumbuh di Desa Grenggeng, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Kebumen.
Sebanyak 54 anak dari berbagai jenjang pendidikan antusias mengikuti latihan seni Abid sebagai persiapan tampil pada puncak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus Hari Jadi ke-102 Desa Grenggeng yang akan digelar pada 28 Agustus 2026.
Kegiatan latihan yang berlangsung setiap sore itu menjadi bukti bahwa regenerasi pelaku seni tradisional terus berjalan.
Anak-anak yang berasal dari tingkat SD, SMP, hingga SMA tampak serius mempelajari setiap gerakan agar mampu menampilkan atraksi terbaik di hadapan masyarakat.
Seni Abid merupakan salah satu kesenian tradisional khas Desa Grenggeng yang menggabungkan unsur ketangkasan, keberanian, dan keindahan.
Pertunjukan ini menggunakan obor bambu panjang yang memiliki nyala api di kedua ujungnya.
Obor tersebut diputar dengan berbagai teknik menyerupai gerakan mayoret sehingga menghasilkan efek visual berupa permainan cahaya api yang memukau.
Bagi masyarakat Desa Grenggeng, seni Abid bukan sekadar hiburan, tetapi telah menjadi bagian dari identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Kesenian ini rutin dipentaskan dalam berbagai acara penting, terutama saat Hari Jadi Desa Grenggeng dan malam 1 Muharam atau malam Suro.
Ketua kelompok Abid Sinar Abadi, Anung Pratama, mengatakan latihan telah dimulai sekitar dua pekan terakhir.
Pada tahap awal, seluruh peserta berlatih tanpa menggunakan api sebagai langkah untuk menguasai teknik dasar sekaligus meminimalkan risiko kecelakaan.
“Memasuki tahap berikutnya, latihan akan dilakukan setiap malam Minggu dengan menggunakan obor yang dinyalakan agar para peserta terbiasa menghadapi kondisi saat pementasan,” ujarnya, Jumat (31/7/2026).
Menurut Anung, dari total 54 peserta yang mengikuti latihan, sekitar 41 anak merupakan anggota baru yang sama sekali belum pernah memainkan seni Abid.
Mereka mulai belajar dari dasar, sementara peserta yang sudah berpengalaman membantu memberikan contoh gerakan kepada adik-adiknya.
“Mayoritas memang baru belajar dari nol. Sisanya sudah pernah berlatih dan beberapa kali ikut tampil,” katanya.
Selain mempelajari teknik memainkan obor, para peserta juga diperkenalkan dengan permainan toya yang nantinya menjadi bagian dari rangkaian pertunjukan.
Sementara itu, kelompok pemain senior mulai mempersiapkan berbagai atraksi yang lebih menantang.
Beberapa atraksi yang akan ditampilkan antara lain lompat harimau, permainan skipping menggunakan velg, hingga aksi lompat tali api yang menjadi daya tarik utama dalam setiap pementasan seni Abid.
Latihan gabungan bersama para pemain senior dijadwalkan dimulai pada 24 Agustus sebagai tahap pemantapan menjelang hari pertunjukan.
Meski latihan membutuhkan kedisiplinan dan keberanian, semangat para peserta tetap tinggi.
Salah satunya ditunjukkan oleh Saila Yumna, siswi kelas 4 sekolah dasar yang baru pertama kali bergabung dalam kelompok seni Abid.
Ia mengaku senang dapat mempelajari kesenian tradisional yang telah lama menjadi kebanggaan desanya.
Meski masih berlatih gerakan dasar, Saila berharap bisa tampil maksimal saat pementasan nanti.
“Saya senang ikut latihan. Semoga nanti bisa tampil dengan baik di depan masyarakat,” ujarnya.
Keterlibatan puluhan anak dalam latihan ini menjadi harapan baru bagi keberlangsungan seni Abid di masa mendatang.
Regenerasi yang berjalan dengan baik menunjukkan bahwa kesenian tradisional masih memiliki tempat di hati generasi muda, meski mereka hidup di tengah perkembangan teknologi dan budaya modern.
Melalui pembinaan yang dilakukan secara rutin, masyarakat Desa Grenggeng berharap seni Abid tidak hanya tetap lestari, tetapi juga semakin dikenal sebagai salah satu warisan budaya khas Kabupaten Kebumen.
Dengan semangat para generasi muda yang terus belajar dan berlatih, tradisi permainan api ini diharapkan tetap hidup dan menjadi kebanggaan masyarakat selama bertahun-tahun ke depan. (mam/stch/dda)
















