BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Sebuah rumah produksi keripik singkong di Dukuh Blanakan RT 02 RW 01, Desa Wonodadi, Kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, mengalami kebakaran pada Jumat (31/7) dini hari.
Peristiwa tersebut menghanguskan sebagian bangunan dapur beserta sejumlah peralatan produksi.
Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian ini, meski kerugian materi diperkirakan mencapai sekitar Rp10 juta.
Berdasarkan hasil penyelidikan awal kepolisian, kebakaran diduga berasal dari bara api yang masih tersisa di tungku kayu bakar setelah proses produksi keripik singkong selesai dilakukan pada Kamis (30/7) sore.
Kapolres Kebumen AKBP I Putu Bagus Krisna Purnama menjelaskan bahwa bara api yang belum benar-benar padam diduga memicu munculnya api melalui cerobong dapur.
Percikan panas kemudian menyambar tumpukan daun kering yang berada di sekitar atap bangunan hingga akhirnya menyebabkan kebakaran.
“Diduga bara api belum sepenuhnya padam, kemudian menyambar tumpukan daun kering di atas atap melalui cerobong dapur hingga akhirnya memicu kebakaran,” jelas Kapolres Kebumen.
Peristiwa kebakaran pertama kali diketahui sekitar pukul 02.45 WIB oleh seorang warga yang sedang melintas di sekitar lokasi.
Saat itu, saksi melihat kobaran api muncul dari bagian atas area penggorengan, tepatnya di sekitar cerobong dapur rumah produksi.
Melihat kondisi tersebut, saksi segera meminta bantuan warga sekitar untuk melakukan pemadaman.
Namun, ketika kembali ke lokasi bersama warga lainnya, kobaran api sudah semakin membesar dan membakar sebagian besar dapur produksi.
Warga kemudian bergotong royong memadamkan api menggunakan peralatan seadanya agar kobaran tidak merambat ke bangunan lain di sekitar lokasi.
Berkat kerja sama masyarakat, api akhirnya berhasil dipadamkan sekitar pukul 04.00 WIB.
Setelah menerima laporan, personel Polsek Buayan yang dipimpin Kapolsek IPTU Walali Saebani langsung mendatangi lokasi kejadian.
Petugas melakukan pengamanan area sekaligus olah tempat kejadian perkara (TKP) untuk memastikan penyebab kebakaran.
Dari hasil pemeriksaan awal, polisi memastikan meteran listrik dalam kondisi normal sehingga dugaan sementara mengarah pada bara api sisa pembakaran, bukan akibat korsleting listrik.
Selain itu, petugas juga tidak menemukan kompor maupun tabung LPG di lokasi.
Hal tersebut karena proses produksi keripik singkong diketahui sepenuhnya menggunakan tungku berbahan bakar kayu.
Akibat kebakaran tersebut, sejumlah fasilitas produksi mengalami kerusakan cukup parah.
Bagian yang terbakar meliputi dapur produksi, atap bangunan di atas tungku penggorengan, area produksi keripik singkong, tiga tungku penggorengan, serta berbagai peralatan yang digunakan untuk kegiatan usaha sehari-hari.
Meski kerusakan cukup besar, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam kejadian tersebut.
Pemilik usaha, Ngatman, diperkirakan mengalami kerugian materi sekitar Rp10 juta akibat bangunan dan peralatan produksi yang hangus terbakar.
Kapolres Kebumen mengimbau masyarakat, khususnya pelaku usaha rumahan yang masih memanfaatkan tungku kayu bakar, agar lebih berhati-hati setelah menyelesaikan aktivitas memasak atau produksi.
Menurutnya, bara api yang tampak kecil sekalipun masih berpotensi memicu kebakaran apabila tidak dipastikan benar-benar padam.
Risiko tersebut akan semakin besar jika di sekitar tungku terdapat bahan-bahan yang mudah terbakar, seperti daun kering, kayu, atau jerami.
“Pastikan semua aman. Pastikan bara api benar-benar padam setelah aktivitas memasak maupun produksi selesai dilakukan. Semoga kejadian serupa tidak terjadi kembali,” ujar Kapolres.
Peristiwa ini menjadi pengingat penting bagi para pelaku usaha mikro dan industri rumahan untuk selalu menerapkan standar keselamatan kerja, terutama saat menggunakan tungku berbahan bakar kayu.
Pemeriksaan rutin terhadap area dapur, cerobong asap, dan lingkungan sekitar perlu dilakukan agar potensi kebakaran dapat dicegah sejak dini.
Dengan meningkatnya kewaspadaan serta penerapan langkah-langkah keselamatan yang baik, diharapkan kejadian serupa tidak kembali terjadi dan aktivitas usaha masyarakat dapat berjalan dengan aman tanpa risiko kebakaran. (mam/stch/dda)
















