Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Bupati Cilacap Nonaktif Didakwa Paksa 27 OPD Kumpulkan 568 Juta untuk THR
BPBD Banyumas Minta Pengelola Wisata Kedung Kampak Perketat Sistem Keselamatan Usai Siswa Tenggelam

BPBD Banyumas Minta Pengelola Wisata Kedung Kampak Perketat Sistem Keselamatan Usai Siswa Tenggelam

Kedung Kampak Diminta Perketat PengawasanKedung Kampak Diminta Perketat Pengawasan
MENGECEK: Koordinator Zona 1 Wilayah Banyumas Timur BPBD Kabupaten Banyumas mengecek area tenggelamnya siswi di Kedung Kampak, Jum'at (31/7)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas meminta pengelola objek wisata Kedung Kampak di Desa Selanegara, Kecamatan Sumpiuh, segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan pengunjung.

Permintaan tersebut disampaikan menyusul insiden tragis yang menewaskan seorang siswi akibat tenggelam di kawasan wisata tersebut.

Peristiwa tersebut menjadi perhatian serius karena dinilai menunjukkan pentingnya penerapan standar keselamatan di lokasi wisata berbasis alam, terutama yang memiliki area perairan.

BPBD Banyumas menegaskan bahwa pengelola wisata harus memperkuat sistem pengawasan, memperjelas prosedur keselamatan, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kondisi darurat.

Koordinator Zona 1 Wilayah Banyumas Timur BPBD Kabupaten Banyumas, Saeful Amin, menjelaskan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan langsung ke lokasi kejadian sekaligus berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

Dari hasil evaluasi awal, insiden tersebut diharapkan menjadi pelajaran penting agar pengelolaan wisata Kedung Kampak dapat lebih mengutamakan aspek keselamatan pengunjung.

Menurut Saeful, pengawasan tidak boleh hanya dilakukan saat akhir pekan atau ketika objek wisata sedang ramai dikunjungi.

Pengawasan juga perlu dilakukan secara rutin pada hari-hari biasa karena potensi risiko tetap ada meskipun jumlah pengunjung lebih sedikit.

Ia menilai keberadaan petugas yang melakukan pemantauan secara berkala menjadi salah satu langkah penting untuk mengurangi risiko kecelakaan.

Dengan adanya pengawasan yang konsisten, tindakan cepat dapat dilakukan apabila terjadi kondisi darurat.

Selain memperkuat pengawasan, BPBD Banyumas juga mendorong pengelola wisata agar meningkatkan kemampuan petugas dalam memberikan pertolongan pertama serta melakukan penyelamatan korban di area perairan.

Pelatihan tersebut dapat dilakukan melalui kerja sama dengan BPBD sehingga petugas memiliki kemampuan dasar dalam menangani situasi darurat sebelum tim penyelamat tiba.

BPBD juga mengusulkan agar pengelola segera melengkapi fasilitas keselamatan di kawasan wisata.

Beberapa langkah yang dinilai penting antara lain pemasangan papan peringatan di titik-titik rawan, penyediaan rambu larangan berenang di lokasi berbahaya, serta penyusunan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas bagi seluruh pengunjung maupun petugas.

Tidak hanya itu, aturan mengenai batas usia pengunjung yang diperbolehkan memasuki area tertentu juga perlu diperjelas.

Menurut BPBD, pembatasan tersebut dapat mengurangi risiko kecelakaan, terutama bagi anak-anak yang masih membutuhkan pengawasan lebih ketat.

Saeful juga menyoroti pentingnya jumlah pendamping bagi rombongan anak-anak yang berkunjung ke objek wisata.

Ia menyarankan agar satu orang pendamping dewasa yang memiliki kemampuan melakukan pengawasan maksimal mendampingi lima anak.

Rasio tersebut dinilai lebih ideal untuk memastikan seluruh anak tetap berada dalam pengawasan selama berada di kawasan wisata.

Selain pembenahan sistem keselamatan, BPBD Banyumas juga mengusulkan adanya pendampingan psikososial atau trauma healing bagi pihak sekolah yang terdampak insiden tersebut.

Program tersebut dinilai penting untuk membantu pemulihan kondisi psikologis para siswa maupun guru yang menyaksikan atau mengetahui langsung kejadian tersebut.

Pendampingan trauma healing dapat dilaksanakan melalui kolaborasi antara BPBD Kabupaten Banyumas dan Dinas Kesehatan.

Dengan adanya layanan tersebut, diharapkan rasa trauma yang dialami para siswa tidak berkembang menjadi gangguan psikologis berkepanjangan sehingga mereka dapat kembali menjalani aktivitas belajar dengan baik.

Sebelumnya, pada Kamis (30/7), terjadi insiden tenggelam di kawasan wisata Kedung Kampak yang melibatkan tiga anak.

Dua anak berhasil diselamatkan oleh warga dan petugas, sementara satu siswi dinyatakan meninggal dunia setelah tenggelam.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keselamatan harus menjadi prioritas utama dalam pengelolaan destinasi wisata alam.

Pengawasan yang optimal, fasilitas keselamatan yang memadai, petugas yang terlatih, serta edukasi kepada pengunjung diharapkan mampu meminimalkan risiko kecelakaan serupa di masa mendatang.

BPBD Banyumas berharap evaluasi yang dilakukan segera ditindaklanjuti oleh pengelola sehingga wisata Kedung Kampak dapat menjadi destinasi yang tidak hanya menarik, tetapi juga aman bagi seluruh pengunjung. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Syamsul Aulia Didakwa Minta Uang THR

Bupati Cilacap Nonaktif Didakwa Paksa 27 OPD Kumpulkan 568 Juta untuk THR