Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Steffi Zamora dan Nino Fernandez Batal Pindah ke Norwegia, Pilih Tinggal di Bali Demi Anak
Harga BBM Naik, Konsumen Berbondong-Bondong Beralih ke Mobil Listrik

Harga BBM Naik, Konsumen Berbondong-Bondong Beralih ke Mobil Listrik

Trade In Mobil Bensin ke EV Tembus 72,1 PersenTrade In Mobil Bensin ke EV Tembus 72,1 Persen
ISI DAYA: Pemilik mobil listrik sedang mengisi daya mobilnya

BANYUMASEKSPRES.ID, JAKARTA – Di tengah lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM), peralihan konsumen dari mobil berbahan bakar bensin ke kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) semakin terlihat.

Sebuah analisis yang dilakukan oleh Edmunds dan dipublikasikan melalui Autoblog menunjukkan bahwa tingkat konsumen yang memilih untuk menukar mobil bensin mereka dengan EV meningkat signifikan.

Data ini mencatat bahwa persentase konsumen yang beralih dari mobil berbahan bakar bensin menjadi kendaraan listrik naik dari 67,1 persen pada Januari 2026 menjadi 72,1 persen pada April 2026.

Kenyataan ini muncul meskipun insentif pajak federal sebesar US$ 7.500 untuk kendaraan listrik telah dicabut.

Tren peningkatan ini menunjukkan bahwa semakin banyak konsumen mulai melihat potensi kendaraan listrik sebagai pilihan yang lebih efisien dan ekonomis.

Jika pergeseran ini terus berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, pasar otomotif diprediksi akan mengalami perubahan signifikan menuju kendaraan berbasis listrik.

Salah satu faktor utama yang memicu peralihan ini adalah kenaikan harga BBM yang terus melambung, mendorong pemilik kendaraan untuk mencari alternatif yang lebih hemat biaya.

Kendaraan listrik memberikan keuntungan tersendiri bagi pemiliknya, terutama dalam konteks penghematan biaya.

Pemilik EV dinilai lebih terlindungi dari fluktuasi harga bahan bakar, karena mereka memiliki opsi untuk mengisi daya di rumah atau menggunakan stasiun pengisian cepat yang semakin menjamur.

Keuntungan inilah yang membuat banyak orang beralih ke EV, terlepas dari kebijakan insentif pajak yang telah dihapuskan.

Lebih jauh lagi, data menunjukkan bahwa minat terhadap pertukaran kendaraan listrik juga mengalami peningkatan. Pada Januari 2026, angka trade-in EV ke EV tercatat sebesar 26,2 persen.

Namun angka ini melonjak menjadi 35,4 persen pada April 2026. Meskipun insentif untuk kendaraan listrik telah dihapus, antusiasme konsumen terhadap EV tetap terlihat kuat dan tidak menunjukkan tanda-tanda penurunan.

Di sisi lain, harga kendaraan bekas termasuk EV juga mengalami kenaikan yang signifikan.

Kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti peningkatan biaya produksi kendaraan baru, ongkos impor yang membengkak, serta kenaikan harga bahan baku.

Menurut Jeremy Robb, Ekonom Kepala Cox Automotive, harga EV bekas meningkat lebih cepat dibandingkan dengan mobil non-EV.

“Kami terus melihat harga EV meningkat lebih cepat dan bertahan lebih tinggi dibandingkan kendaraan non-EV. Harga EV usia tiga tahun telah melampaui kenaikan harga mobil non-EV selama enam pekan berturut-turut dan kini 11 persen lebih tinggi dibanding awal tahun,” ungkap Robb.

Fenomena ini menggambarkan bahwa semakin lama harga BBM bertahan tinggi, maka semakin besar kemungkinan konsumen beralih ke kendaraan hemat energi seperti EV.

Dalam konteks yang lebih luas, pergeseran preferensi konsumen ini juga mencerminkan perubahan pola pikir masyarakat terhadap efisiensi energi dan dampak lingkungan.

Selain kendaraan listrik, permintaan terhadap mobil bensin berukuran kecil yang lebih hemat bahan bakar juga menunjukkan tren peningkatan yang signifikan.

Data mencatat bahwa permintaan untuk mobil bensin kompak meningkat mencapai 7,6 persen, menjadikannya sebagai kategori kedua dengan pertumbuhan permintaan tertinggi setelah EV bekas.

Sebaliknya, permintaan untuk kendaraan sport utility vehicle (SUV) bermesin besar hanya mencatatkan kenaikan sekitar 0,3 persen dibandingkan tahun lalu.

Kondisi ini menandakan bahwa konsumen saat ini mulai mempertimbangkan efisiensi biaya operasional sebagai faktor utama dalam memilih kendaraan mereka.

Dengan berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi akibat lonjakan harga BBM dan inflasi global, banyak orang merasa perlu untuk mengadaptasi gaya hidup mereka menuju pilihan yang lebih berkelanjutan dan ekonomis. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Batal Pindah ke Norwegia

Steffi Zamora dan Nino Fernandez Batal Pindah ke Norwegia, Pilih Tinggal di Bali Demi Anak