Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

BPBD Banyumas Siapkan Lahan Huntap untuk Korban Tanah Bergerak di Desa Ketanda

Lahan Huntap Ketanda DitataLahan Huntap Ketanda Ditata
RELOKASI: Alat berat dikerahkan untuk penataan lahan relokasi warga terdampak bencana alam tanah bergerak di Desa Ketanda, Rabu (3/6)

BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Proses penanganan bencana tanah bergerak di Desa Ketanda, Kecamatan Sumpiuh, kini memasuki fase penting dengan penataan lahan untuk hunian tetap (huntap) bagi warga yang terdampak.

Sebagai langkah awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyumas telah menyiapkan lahan relokasi seluas 0,9 hektare yang saat ini tengah dipersiapkan secara matang.

Keberadaan lahan ini sangat krusial untuk memastikan bahwa warga yang terpengaruh bencana dapat memiliki tempat tinggal yang aman dan layak.

Warga yang terdampak bencana tanah bergerak tersebut tergabung dalam kelompok masyarakat dan saat ini sedang menjalani proses pembelian lahan setelah menerima bantuan dari anggaran belanja tidak terduga APBD Provinsi Jawa Tengah.

Situasi ini memberikan harapan baru bagi mereka yang sebelumnya kehilangan tempat tinggal akibat pergerakan tanah yang mengancam keselamatan.

Kepala Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BPBD Kabupaten Banyumas, Imam Pamungkas, menegaskan bahwa penataan lahan merupakan syarat fundamental untuk pengajuan pembangunan huntap ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Dia menyampaikan pentingnya status kepemilikan tanah yang harus bersertifikat atas nama warga terdampak atau setidaknya sedang dalam proses pengurusan.

“Penataan lahan ini untuk pengajuan huntap ke Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB), yang salah satunya tanah bersertifikat warga terdampak atau dalam proses,” jelas Imam Pamungkas pada Rabu (3/6) di lokasi penataan.

Proses pematangan lahan relokasi ini bukan hanya sekedar langkah administratif, tetapi juga merupakan bentuk perhatian dan dukungan pemerintah daerah terhadap warganya.

Lahan relokasi yang dipilih sudah melalui evaluasi dan dipastikan aman untuk menjadi hunian baru bagi warga terdampak.

Kepastian tersebut diperoleh dari surat rekomendasi Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) setelah dilakukan serangkaian pengecekan di lokasi relokasi.

Pengecekan tersebut tidak hanya berfokus pada kondisi tanah serta potensi pergerakan lahan, namun juga mencakup ketersediaan sumber air bersih agar kebutuhan sehari-hari warga nantinya dapat tercukupi.

Imam Pamungkas mengungkapkan bahwa tim telah berhasil menemukan titik sumber air yang dapat dimanfaatkan oleh warga terdampak, sehingga mereka tidak perlu khawatir tentang pasokan air bersih ketika nantinya menempati kawasan relokasi tersebut.

Proses pematangan lahan kini terus dikebut agar tahapan-tahapan berikutnya bisa segera dilaksanakan.

“Target pematangan lahan sampai tujuh hari ke depan, menyesuaikan kontur yang ada,” sambung Imam.

Penanganan bencana tanah bergerak di Desa Ketanda melibatkan sejumlah organisasi perangkat daerah di Kabupaten Banyumas serta Pemerintah Desa Ketanda sendiri.

Beberapa instansi seperti Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Sosial, dan Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman ikut berkolaborasi untuk mempercepat penanganan pascabencana ini.

Kolaborasi antar lembaga ini menunjukkan komitmen bersama dalam menghadapi tantangan dan memastikan bahwa setiap langkah penanganan dapat berjalan dengan baik.

Camat Sumpiuh Pujar Seno menyambut positif upaya penanganan tanah bergerak yang dilakukan oleh berbagai pihak terkait.

Menurutnya, tindak lanjut pascabencana berlangsung cukup cepat meskipun proses menuju pembangunan huntap masih memerlukan tahapan panjang.

Ia juga menyoroti tingginya antusiasme warga terdampak dalam mendukung proses relokasi ini.

Dalam situasi sulit seperti ini, semangat gotong royong dan kebersamaan masyarakat sangat terlihat, bahkan mereka secara sukarela menjaga area relokasi secara bergantian pada malam hari demi memastikan kondisi lahan tetap aman.

“Warga terdampak juga antusias, mereka berpartisipasi ikut menjaga lokasi lahan relokasi di malam hari,” ungkap Pujar.

Ini adalah contoh nyata bagaimana masyarakat dapat bersatu dalam menghadapi kesulitan dan berkontribusi untuk kesejahteraan bersama.

Dalam proses penataan lahan relokasi ini, dua alat berat dikerahkan guna mempercepat pematangan area huntap sehingga bisa segera digunakan oleh para penghuni baru.

Selain itu, warga terdampak juga rela melakukan ronda malam sebagai langkah antisipasi terhadap hal-hal yang tidak diinginkan selama proses tersebut berlangsung.

Keberhasilan dalam penyelesaian masalah bencana seperti ini sangat bergantung pada kerjasama antara pemerintah daerah dan masyarakat setempat.

Dengan partisipasi aktif dari semua pihak dan dukungan penuh dari pemerintah, harapan akan kehidupan baru yang lebih baik bagi warga Desa Ketanda semakin mendekati kenyataan. (fij/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Berawal dari Penggeledahan Kantor BGN

Kejaksaan Agung Tetapkan 3 Tersangka Korupsi Program Makan Bergizi Gratis

Berita Selanjutnya
Real Madrid Bidik Dumfries

Real Madrid Siapkan Transfer Denzel Dumfries untuk Gantikan Dani Carvajal