BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan baru-baru ini, Ketua Dewan Pimpinan Cabang Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (DPC KSPSI) Kebumen, Akif Fatwal, mengungkapkan harapannya agar dapur yang sempat ditutup secara sementara dapat segera beroperasi kembali.
Penutupan ini berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kebumen, di mana sekitar 30 dapur terpaksa ditutup.
Dampak dari penutupan tersebut sangat terasa bagi para pekerja yang bergantung pada penghasilan harian dari operasional dapur.
“Puluhan pekerja kini terpaksa dirumahkan. Bagi mereka, upah harian dari dapur menjadi tumpuan utama kebutuhan keluarga,” ungkap Akif dalam keterangannya pada Rabu, 3 Juni.
Penutupan dapur tidak hanya merugikan para pekerja, tetapi juga memberikan dampak yang luas terhadap pemasok bahan baku lokal seperti petani sayur, peternak telur, dan pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang mendukung program ini.
Akif lebih lanjut menekankan pentingnya keberlanjutan operasional dapur dalam konteks program MBG.
Dia menjelaskan bahwa penutupan dapur bukan hanya sekadar masalah logistik atau program pemerintah, tetapi juga menyangkut hak-hak pekerja untuk mendapatkan kepastian kerja serta penghasilan yang layak.
Dalam situasi ini, KSPSI Kebumen menginginkan adanya tindakan cepat dari pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait untuk mencari solusi yang tepat.
“Kami berharap pemerintah daerah dan pihak terkait segera mencari solusi. Dapur ini harus cepat beroperasi lagi agar pekerja bisa segera bekerja dan tidak berlarut-larut kehilangan mata pencaharian,” tegasnya.
Akif menyebutkan bahwa penutupan dapur terjadi karena adanya masalah terkait Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sehingga ia berharap agar dapur yang telah menyelesaikan persoalan tersebut dapat segera beroperasi tanpa mengalami hambatan lebih lanjut.
“Memang ada kendala sehingga ditutup sementara. Namun saya berharap setelah dapur memenuhi standar dapat segera beroperasi,” tambahnya.
Pentingnya keberlangsungan operasional dapur ini jelas bukan hanya untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis tetapi juga sebagai wujud kepedulian terhadap nasib para pekerja di Kebumen.
Terlebih lagi, dalam situasi ekonomi yang penuh tantangan saat ini, menjaga kestabilan pendapatan mereka menjadi hal yang sangat krusial.
Situasi ini juga mencerminkan bagaimana ketergantungan sejumlah sektor terhadap satu sama lain dapat menciptakan efek domino yang cukup signifikan.
Penutupan dapur tidak hanya memengaruhi pekerja di dalamnya tetapi juga berdampak pada rantai pasokan makanan dan produk lokal lainnya.
Dengan demikian, upaya untuk memulihkan operasional dapur akan menjadi langkah penting bagi pemulihan ekonomi lokal.
Keberadaan program Makan Bergizi Gratis sendiri merupakan inisiatif pemerintah untuk memastikan akses masyarakat terhadap makanan bergizi, terutama bagi kelompok masyarakat rentan.
Dengan adanya penutupan sementara ini, tujuan mulia dari program tersebut tentu saja terganggu. (mam/stch/dda)
















