Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Stigma Jadi Musuh Terbesar ODHIV di Banjarnegara, Banyak Pasien Putus Pengobatan HIV

Minim Edukasi Jadi Kendala Penanganan ODHIVMinim Edukasi Jadi Kendala Penanganan ODHIV
KOORDINASI: Komunitas KDS Bara Plus (baju hitam) saat telusur data ODHIV melibatkan tenaga kesehatan setempat

BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Perjuangan orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) di Kabupaten Banjarnegara melampaui sekadar menjalani pengobatan.

Di balik meningkatnya jumlah kasus HIV/AIDS, terdapat masalah serius yang terus menghantui para penyintas, yaitu stigma dan diskriminasi dari lingkungan sekitar.

Ketua Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Bara Plus Banjarnegara, Andian, mengungkapkan bahwa banyak ODHIV yang masih merasa takut untuk membuka status kesehatan mereka kepada orang lain.

Ketakutan ini muncul karena khawatir akan dijauhi, dikucilkan, atau diperlakukan berbeda oleh masyarakat.

“Yang sering jadi masalah justru stigma. Banyak teman-teman ODHIV takut diketahui orang lain karena khawatir ditolak lingkungan. Akibatnya ada yang tidak melanjutkan pengobatan atau enggan memeriksakan diri,” katanya dalam pernyataan pada Rabu (3/6/2026).

Pernyataan ini mencerminkan realitas pahit yang dihadapi oleh banyak penyintas HIV/AIDS di daerah tersebut.

Dalam konteks kesehatan masyarakat, stigma terhadap ODHIV menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi proses penyembuhan mereka.

Menurut Andian, kondisi ini berdampak langsung pada meningkatnya angka Lost to Follow Up (LFU), yaitu pasien yang terputus dari pengobatan dan pemantauan kesehatan.

Padahal, terapi antiretroviral (ART) harus dijalani secara rutin agar penderita tetap sehat dan produktif.

Dalam banyak kasus, mereka yang terputus dari pengobatan sering kali menghadapi tantangan lebih besar dalam mendapatkan kembali kesehatan mereka.

Sejarah mencatat bahwa kasus HIV/AIDS di Banjarnegara pertama kali ditemukan pada tahun 2003 dan sejak saat itu terus mengalami peningkatan hingga kini.

Mayoritas kasus baru ditemukan pada kelompok usia produktif antara 17 hingga 35 tahun.

Hal ini menunjukkan bahwa generasi muda sangat rentan terhadap penyakit ini, sebuah fakta yang seharusnya memicu lebih banyak perhatian dari berbagai pihak.

Salah satu penyebab utama masih kuatnya stigma terhadap penyintas adalah kurangnya edukasi dan pemahaman masyarakat mengenai HIV/AIDS.

Banyak orang masih memiliki anggapan keliru mengenai cara penularan virus ini, sehingga menimbulkan rasa takut berlebihan dan menjauhkan mereka dari ODHIV.

“Karena minim informasi, banyak penderita baru mengetahui dirinya terinfeksi saat kondisi sudah memasuki stadium lanjut atau AIDS. Ini membuat proses penanganan menjadi lebih sulit,” ujar Andian menyoroti pentingnya edukasi yang tepat.

Sejak tahun 2017, sejumlah aktivis HIV/AIDS di Banjarnegara telah melakukan pendampingan dan penjangkauan kepada para penyintas dengan harapan dapat mengurangi stigma serta meningkatkan akses terhadap layanan kesehatan.

Gerakan ini kemudian berkembang menjadi KDS Bara Plus yang resmi berdiri pada April 2019.

Komunitas ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbagi pengalaman tetapi juga sebagai wadah untuk pendampingan psikososial sekaligus ruang aman bagi para penyintas untuk saling mendukung.

Dalam upaya meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya dukungan bagi ODHIV, KDS Bara Plus juga aktif melakukan penelusuran terhadap individu-individu ODHIV yang putus pengobatan.

Saat ini, komunitas tersebut sedang mempersiapkan perubahan nama menjadi KDS Bara Berdaya sebagai simbol semangat baru pemberdayaan penyintas untuk memperkuat citra positif tentang kehidupan mereka setelah diagnosis HIV.

Andian berharap agar masyarakat mulai mengubah cara pandang mereka terhadap HIV/AIDS.

Menurutnya, dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat berperan dalam keberhasilan pengobatan pasien.

“HIV/AIDS bukan alasan untuk mengucilkan seseorang. Yang dibutuhkan mereka adalah dukungan, bukan penghakiman,” tegasnya dengan penuh keyakinan.

Penting bagi masyarakat untuk memahami bahwa stigma adalah rintangan besar bagi proses penyembuhan ODHIV.

Ketidakpahaman dan ketakutan sering kali menciptakan jarak antara ODHIV dan komunitas tempat mereka tinggal. (jud/stch/dda)

Berita Sebelumnya
PMI Kecamatan Harus Jadi Garda Terdepan

PMI Purbalingga Didorong Jadi Pusat Komando Taktis Pertama Saat Bencana

Berita Selanjutnya
Satgas PPKPT Periode 2026–2028 Dilantik

UPB Kebumen Resmi Lantik Satgas PPKPT 2026–2028 untuk Cegah Kekerasan di Kampus