BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Kabar duka kembali menyelimuti rombongan jemaah haji asal Kabupaten Banjarnegara.
Dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini, dua jemaah dilaporkan meninggal dunia di Tanah Suci.
Nama-nama yang tertera dalam catatan duka tersebut adalah Adiyono, jemaah Kloter 70 asal Kelurahan Sokanandi, Kecamatan Banjarnegara, dan Sabar, jemaah Kloter 71 asal Kecamatan Batur.
Dengan bertambahnya dua jemaah yang wafat tersebut, total jemaah haji asal Banjarnegara yang meninggal dunia selama pelaksanaan ibadah haji tahun 2026 kini mencapai tiga orang.
Kasi Bina dan Pelayanan Haji dan Umrah Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Banjarnegara, Eti Sofiyatul Muyasaroh, menjelaskan bahwa meninggalnya Adiyono cukup mengejutkan banyak pihak.
Pasalnya, selama proses persiapan keberangkatan hingga tiba di Arab Saudi, kondisi kesehatan Adiyono dinilai baik.
Adiyono berangkat sebagai pendamping haji untuk ayahnya dan telah melalui seluruh tahapan pemeriksaan kesehatan yang ketat sebelum keberangkatan. Ia dinyatakan layak untuk menjalankan ibadah haji.
“Memang sebelum berangkat sempat memiliki riwayat asam urat, tapi saat masuk embarkasi seluruh kondisinya sudah normal sehingga bisa berangkat,” ujarnya dengan nada penuh keprihatinan.
Selama berada di Tanah Suci, Adiyono bahkan dipercaya menjadi ketua regu yang bertanggung jawab mendampingi sepuluh jemaah dalam kelompoknya.
Selain membantu sang ayah melaksanakan ibadah haji, ia juga aktif membantu memenuhi kebutuhan jemaah lain dalam rombongannya.
Namun sayangnya, informasi yang diterima oleh petugas haji menunjukkan bahwa Adiyono sempat mengalami keluhan kesehatan terkait tekanan darah sebelum ia wafat.
Hal ini menjadi perhatian penting bagi pihak Kemenhaj dan petugas kesehatan yang mendampingi jemaah haji.
Kondisi kesehatan para jemaah sangat diprioritaskan agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik tanpa adanya gangguan kesehatan yang berarti.
Sementara itu, jemaah lainnya yang juga meninggal dunia adalah Sabar.
Berbeda dengan Adiyono, Sabar diketahui termasuk dalam kategori jemaah risiko tinggi (risti) karena memiliki riwayat penyakit paru-paru yang cukup serius.
Hal ini menambah beban emosional bagi keluarga dan teman-teman satu rombongannya.
Eti Sofiyatul Muyasaroh melanjutkan penjelasannya mengenai kondisi umum para jemaah haji asal Banjarnegara yang masih berada di Tanah Suci.
Secara keseluruhan, mereka terpantau dalam keadaan baik dan tetap dapat menjalankan rangkaian ibadah dengan lancar.
Pihak Kemenhaj bersama petugas haji terus melakukan pemantauan secara ketat serta memberikan himbauan kepada setiap jemaah untuk menjaga kesehatan mereka selama berada di Arab Saudi.
“Pemantauan terhadap kesehatan jemaah sangatlah penting mengingat kondisi cuaca dan lingkungan di Tanah Suci yang berbeda jauh dari Indonesia,” tambahnya.
Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh tim medis dan petugas haji, diharapkan dapat meminimalisir risiko kesehatan yang mungkin terjadi kepada para jemaah.
Selasa (2/6/2026), pihak Kemenhaj bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Banjarnegara mengunjungi rumah duka dari salah satu jemaah haji asal Banjarnegara di Kelurahan Sokanandi.
Dalam kunjungan tersebut, mereka menyampaikan rasa bela sungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan serta memberikan dukungan moral untuk menghadapi masa-masa sulit ini.
Kunjungan ini bukan hanya sekadar formalitas belaka, tetapi merupakan wujud kepedulian pemerintah terhadap warganya yang tengah berduka.
Kehadiran pihak Kemenhaj dan Dinas Kesehatan menjadi penguat bagi keluarga agar tetap tabah menghadapi kehilangan orang terkasih.
Proses ibadah haji merupakan salah satu momen sakral bagi umat Muslim di seluruh dunia.
Namun demikian, risiko kesehatan selalu menjadi tantangan bagi setiap calon jemaah haji.
Terlebih lagi bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit tertentu atau faktor risiko lainnya.
Oleh karena itu, penting bagi setiap calon jemaah untuk menjalani pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh sebelum berangkat ke Tanah Suci. (far/stch/dda)
















