BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kabar yang tengah beredar luas di media sosial mengenai rencana pemadaman listrik total atau blackout di wilayah Jawa dan Bali selama tiga hari dipastikan tidak benar.
PT PLN (Persero) dengan tegas menegaskan bahwa informasi tersebut merupakan hoaks, dan tidak berasal dari sumber resmi perusahaan.
Sebelumnya, melalui berbagai platform media sosial dan aplikasi percakapan, muncul pesan berisi klaim mengenai adanya “pemeliharaan jaringan terencana total di Jawa dan Bali” pada periode 22 hingga 25 Juni 2026.
Dalam pesan tersebut juga disertakan imbauan kepada masyarakat untuk menyiapkan genset, power bank, serta persediaan makanan demi menghadapi pemadaman listrik yang diklaim akan berlangsung selama tiga hari penuh.
“SELURUH PELANGGAN DI WILAYAH TERDAMPAK DI JAWA DAN BALI AKAN MENGALAMI PEMADAMAN LISTRIK TOTAL X SELAMA SEKITAR TIGA HARI NON-STOP HARAP BERSIAP,” demikian bunyi pesan yang viral tersebut.
Menanggapi isu ini, Manajer UP3 PLN Purwokerto, Firman Raharja, mengonfirmasi bahwa informasi yang menyebutkan adanya pemeliharaan jaringan terencana total hingga menyebabkan pemadaman listrik nonstop selama tiga hari adalah berita palsu.
“Hoaks itu,” tegas Firman.
Ia menjelaskan bahwa saat ini memang terdapat kendala teknis pada sejumlah pembangkit listrik yang membuat PLN harus melakukan penyesuaian sementara melalui manajemen beban.
Namun, kondisi tersebut tidak ada kaitannya dengan kemungkinan terjadinya blackout total sebagaimana yang diberitakan di media sosial.
“Teknis kendala apa kami di UP3 belum mengetahui pasti,” ujarnya.
Firman menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir akan terjadinya pemadaman listrik total di wilayah Jawa dan Bali.
Penyesuaian beban listrik yang dilakukan oleh PLN bersifat sementara dan akan dihentikan bertahap ketika sistem kembali stabil.
“Jadi secara umum, proses penyeimbangan dan manajemen beban masih dilakukan; sifatnya sementara dan akan dihentikan secara bertahap saat kondisinya stabil,” jelasnya.
Ia juga menambahkan bahwa UP3 PLN Purwokerto tidak memiliki kewenangan untuk menyusun jadwal pemadaman harian.
Penjadwalan pemadaman dilakukan oleh PLN Unit Induk Distribusi (UID) Jawa Tengah berdasarkan kebutuhan beban listrik saat itu.
“Karena jadwal pemadaman disesuaikan dengan beban yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Senada dengan penjelasan Firman, PT PLN (Persero) melalui Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL, Gregorius Adi Trianto, menegaskan pentingnya masyarakat untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi serta tidak ikut menyebarkan berita yang dapat menimbulkan keresahan.
“PT PLN (Persero) menegaskan bahwa informasi mengenai pemeliharaan jaringan terencana total di Jawa dan Bali yang akan mengakibatkan pemadaman selama tiga hari nonstop adalah tidak benar atau hoaks,” ujarnya.
PLN juga menghimbau agar masyarakat hanya mengacu pada kanal resmi mereka seperti situs web perusahaan, aplikasi PLN Mobile, serta media sosial resmi yang dikelola oleh perusahaan untuk mendapatkan informasi terkini mengenai layanan listrik.
Di Purwokerto, sejumlah warga sudah mulai mengeluhkan kesulitan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari akibat seringnya terjadi pemadaman listrik belakangan ini.
Terutama karena tidak adanya pola jadwal pasti terkait pemadaman ini, kondisi ini dinilai sangat mengganggu aktivitas harian masyarakat yang bergantung pada pasokan listrik.
Dian (29), seorang pekerja lepas yang bekerja dari rumah mengungkapkan bagaimana pemadaman listrik tanpa pemberitahuan itu kerap merugikan pekerjaannya.
“Kadang lagi kerja tiba-tiba mati listrik. Nggak ada info juga sebelumnya, jadi agak susah kalau harus kejar deadline,” ujarnya.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Suyatno (45), seorang warga Kecamatan Purwokerto Timur.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas keluarganya seringkali terganggu terutama saat malam hari ketika anak-anaknya sedang belajar.
“Kalau malam tiba-tiba padam, anak-anak belajar jadi terhenti. Kalau sering begini ya lumayan mengganggu,” katanya menambahkan rasa frustrasinya terhadap situasi tersebut.
Sementara itu, di Kabupaten Purbalingga, dampak dari pemadaman listrik juga dirasakan oleh para pelaku usaha kuliner setempat.
Salah satunya adalah Rina (33), seorang pemilik kafe di kawasan pusat kota Purbalingga yang merasakan kerugian akibat gangguan operasional usaha akibat mati listrik mendadak.
Ia mengatakan bahwa pemadaman sering kali terjadi saat jam-jam ramai pelanggan datang sehingga pelayanan kepada konsumen terganggu.
“Kalau listrik mati, mesin kopi nggak bisa jalan; pembayaran juga jadi manual. Pelanggan jadi nunggu lebih lama,” tuturnya dengan nada kecewa.
Hal senada disampaikan oleh Ahmad (38), seorang pemilik rumah makan di Purbalingga yang mengalami kerugian karena bahan makanan menjadi tidak dapat segera diolah saat terjadi pemadaman listrik mendadak.
“Paling terasa itu di dapur; proses masak berhenti; bahan bisa tertunda atau bahkan ada yang terbuang,” katanya menggambarkan kesulitan usahanya akibat situasi ini.
Para pelaku usaha berharap agar PLN dapat memberikan informasi lebih jelas terkait potensi pemadaman agar mereka bisa merencanakan aktivitas usaha mereka dengan lebih baik meskipun tetap memahami adanya kendala teknis di lapangan yang mungkin terjadi sewaktu-waktu. (res/bay/stch/dda)














