BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kesabaran para pensiunan yang menjadi korban dugaan kredit bermasalah di Bank Mandiri Taspen (Mantap) Purwokerto kini berada di ujung tanduk.
Setelah mengajukan somasi yang tidak mendapat tanggapan dari pihak bank, sebanyak 120 nasabah berencana untuk mengambil tindakan tegas dengan menggelar aksi damai dan long march pada Jumat, 26 Juni.
Aksi ini dilakukan sebagai upaya untuk menuntut penjelasan dari pihak bank serta penyelesaian atas permasalahan yang mereka hadapi.
Koordinator aksi sekaligus kuasa hukum para nasabah dari Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto, H. Djoko Susanto, SH, menyatakan bahwa mereka telah mencoba menggunakan jalur persuasif untuk menyelesaikan persoalan ini.
Namun, hingga batas waktu yang ditentukan, yaitu 3×24 jam, pihak bank belum juga memberikan respons yang diharapkan.
“Kami sudah memberikan kesempatan kepada pihak bank untuk menyelesaikan persoalan ini secara baik-baik. Namun sampai hari ini tidak ada tanggapan,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Aksi yang direncanakan ini bukanlah bentuk tekanan berlebihan. Menurut Djoko, para nasabah hanya menginginkan kepastian dan keadilan terkait situasi yang mereka alami.
“Ini bukan bentuk arogansi. Ini adalah ikhtiar terakhir mencari keadilan,” tambahnya.
Dengan penuh harapan, massa akan berjalan kaki dari Klinik Hukum Peradi SAI Purwokerto menuju kantor Bank Mandiri Taspen di Purwokerto sambil membawa tuntutan dan aspirasi para korban.
Kasus dugaan penipuan ini bukan hanya sekadar masalah hukum semata, melainkan juga menyentuh aspek kemanusiaan.
Mayoritas korban merupakan pensiunan yang sangat bergantung pada dana pensiun bulanan mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Dalam situasi seperti ini, banyak dari mereka mengalami kesulitan ekonomi yang cukup serius. Beberapa bahkan terpaksa berutang hanya untuk bisa bertahan hidup.
Pujo (67), seorang pensiunan TNI yang juga merupakan salah satu korban dalam kasus ini, mengungkapkan bahwa kondisi rekan-rekannya saat ini sangat memprihatinkan.
“Kami seperti dibunuh pelan-pelan. Untuk makan saja sekarang harus berutang,” keluhnya dengan nada penuh kepedihan.
Ia menjelaskan bahwa banyak orang luar yang beranggapan bahwa para pensiunan masih menerima manfaat pensiun secara normal dan hidup dengan nyaman.
Namun kenyataannya jauh berbeda; banyak dari mereka sedang berjuang keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar.
Sementara itu, Djoko Susanto menjelaskan lebih lanjut tentang dampak sosial dan psikologis yang dirasakan oleh para pensiunan tersebut.
“Kondisi ini tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga kesehatan mental para korban,” katanya.
Merasa tertekan akibat ketidakpastian dan kesulitan ekonomi, beberapa pensiunan mengalami stres berat.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya tindakan segera dari pihak Bank Mandiri Taspen untuk memberikan solusi dan kejelasan bagi nasabah-nasabahnya. (zet/stch/dda)














