BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Proses penanganan Jembatan Sungai Serayu yang terletak di Kabupaten Banyumas telah memasuki fase percepatan dengan penerapan metode kerja nonstop selama 24 jam.
Langkah strategis ini diambil untuk memastikan bahwa proyek yang sebelumnya direncanakan selesai dalam waktu 45 hari dapat diselesaikan lebih cepat.
Percepatan kerja ini mulai diterapkan sejak 17 Juni dan dijadwalkan berlanjut hingga pekerjaan selesai.
Nandang Sungkono, selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 Provinsi Jawa Tengah, menjelaskan bahwa penerapan sistem kerja bergantian antara siang dan malam bertujuan untuk meningkatkan progres pekerjaan.
“Mulai tanggal 17 Juni kemarin kita kerjakan 24 jam nonstop,” ungkap Nandang dengan penuh semangat.
Ia menegaskan bahwa pihaknya optimis akan mencapai target percepatan ini, terutama karena kondisi lapangan yang cukup mendukung.
“Cuaca Alhamdulillah sudah tidak hujan. Mudah-mudahan cuaca mendukung, kalau hujan kita hentikan,” jelasnya saat ditanya mengenai faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi kecepatan pekerjaan.
Nandang juga menambahkan bahwa hingga saat ini, semua proses di lapangan berlangsung lancar tanpa kendala berarti, yang menunjukkan bahwa tim kerja cukup efisien dalam melaksanakan tugas mereka.
Namun, meski proses perbaikan berjalan dengan baik, Nandang tetap mengingatkan masyarakat tentang penutupan total Jembatan Serayu selama masa perbaikan.
“Kami memohon maaf atas ketidaknyamanan ini. Untuk masyarakat, mohon bersabar sebentar untuk menggunakan jalur alternatif dulu,” ujarnya, menunjukkan rasa empati terhadap pengguna jalan yang terdampak.
Sementara itu, Dinas Perhubungan Banyumas menjelaskan bahwa perbaikan Jembatan Serayu hanya difokuskan pada bagian tertentu dari jembatan tersebut, yaitu dari tengah hingga ke arah utara jembatan.
Muhammad Eka Nugraha, Kasi Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas, menjelaskan lebih lanjut mengenai struktur yang sedang diperbaiki.
“Struktur yang diperbaiki merupakan bagian jembatan rangka yang tidak bertumpu pada tiang penyangga utama,” ujarnya.
Eka juga mengingatkan bahwa penutupan jembatan ini akan berdampak signifikan pada arus lalu lintas di sekitar wilayah tersebut, terutama bagi kendaraan dari arah Yogyakarta dan Kroya menuju Purwokerto.
Sebagai upaya untuk mengurangi dampak negatif tersebut, dua jalur alternatif telah disiapkan bagi para pengemudi.
“Angkutan dengan dimensi besar jangan masuk Kebasen karena jalannya kecil. Wajib lewat Rawalo,” katanya tegas.
Dampak dari penutupan jembatan ini memang dirasakan oleh banyak warga, terutama mereka yang tinggal di wilayah timur Purwokerto.
Mereka harus memutar cukup jauh melalui Mandiracan untuk mencapai tujuan mereka.
Eka menjelaskan bahwa selisih jarak dapat mencapai sekitar 17 kilometer dibandingkan dengan rute normal.
“Perhitungan kami yang dari timur jika memutar lewat Mandiracan, Papringan, Kalisube dan Sudagaran selisihnya lebih jauh 17 kilometer,” ungkapnya.
Dengan adanya perbaikan ini, harapan besar ada di pundak tim pengerjaan untuk menyelesaikan proyek tepat waktu dan berkualitas demi kenyamanan masyarakat pengguna jalan di masa mendatang. (res/yda/stch/dda)














