BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dalam waktu kurang dari seminggu setelah penutupan sementara Jembatan Serayu, muncul fenomena baru yang cukup signifikan di wilayah Kecamatan Kalibagor dan Banyumas.
Jumlah titik penyeberangan perahu dadakan terus bertambah, mencerminkan tingginya mobilitas warga yang berusaha mencari jalur alternatif untuk menyeberangi sungai.
Pantauan awak media pada Jumat (19/6) menunjukkan bahwa jumlah titik penyeberangan perahu dadakan yang sebelumnya hanya empat, kini telah meningkat menjadi tujuh titik.
Pertambahan ini terjadi di Desa Kaliori dengan satu titik baru dan dua titik tambahan di Desa Kedunguter.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas, Mufti Hakim, menjelaskan bahwa pihaknya segera melakukan pengecekan setelah informasi mengenai banyaknya titik penyeberangan perahu dadakan mulai beredar di masyarakat.
Pengecekan ini dilakukan sebagai respons terhadap tingginya aktivitas penyeberangan yang muncul akibat penutupan Jembatan Serayu.
“Setahu kami, untuk masalah spesifikasi kapal menjadi ranah Kantor Kesyahbandaran Otoritas Pelabuhan (KSOP). Sementara untuk sungai, itu adalah ranah Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO),” ungkap Hakim.
Pernyataan ini menunjukkan pentingnya koordinasi antara berbagai instansi terkait dalam memastikan keselamatan transportasi air di wilayah tersebut.
Hakim juga menyampaikan bahwa hasil pengecekan sementara menunjukkan bahwa aspek keselamatan merupakan hal yang harus menjadi perhatian utama.
Ia mengingatkan bahwa meskipun tingginya animo masyarakat untuk menyeberang sangat tinggi, faktor keamanan tidak boleh diabaikan.
“Untuk penambahan titik penyebrangan perahu dadakan, baru beberapa yang sudah dicek,” terang dia.
Menanggapi situasi ini, Dishub Banyumas mengimbau agar keselamatan pengguna jasa penyeberangan tetap menjadi prioritas utama.
Hal ini sangat penting terutama mengingat aktivitas penyeberangan ini dilakukan secara informal di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas warga yang terdampak oleh penutupan jembatan.
Dalam konteks ini, masyarakat perlu memahami risiko yang mungkin timbul akibat penggunaan jalur alternatif tersebut.
Disinggung mengenai ketersediaan pelampung atau life jacket, Hakim menyebutkan bahwa pihaknya belum sampai pada tahap pendistribusian alat keselamatan tersebut ke lokasi-lokasi penyeberangan yang baru muncul.
Namun, ia menyadari bahwa jumlah pelampung yang ada di lapangan saat ini masih terbatas.
“Life jacket kami lihat ada beberapa namun belum mencukupi,” pungkas Hakim.
Kondisi ini menciptakan tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kabupaten Banyumas dalam menjaga keselamatan masyarakat sekaligus memenuhi kebutuhan mobilitas mereka.
Dalam situasi darurat seperti ini, tindakan cepat dan tepat dari pemerintah sangat diperlukan agar tidak terjadi insiden yang merugikan masyarakat yang bergantung pada jalur alternatif untuk menyeberang sungai.
Kehadiran titik-titik penyeberangan perahu dadakan ini bukan hanya menggambarkan kreativitas warga dalam menghadapi kendala transportasi akibat penutupan jembatan, tetapi juga meningkatkan kecemasan akan risiko kecelakaan yang dapat terjadi jika keselamatan tidak dipastikan dengan baik.
Masyarakat pun diharapkan lebih berhati-hati dan memperhatikan instruksi dari pihak berwenang saat menggunakan jasa penyeberangan yang sekarang semakin marak.
Sebelumnya, Jembatan Serayu ditutup sementara karena adanya pekerjaan pemeliharaan dan perbaikan untuk menjamin keamanan dan kenyamanan pengguna jalan.
Penutupan jembatan selama proses perbaikan tentu berdampak besar terhadap arus lalu lintas di sekitarnya, terutama bagi warga yang biasa menggunakan jembatan tersebut sebagai akses utama untuk beraktivitas sehari-hari.
Dengan adanya situasi darurat seperti ini, penting bagi pemerintah daerah untuk segera mengambil langkah-langkah strategis dalam menangani masalah transportasi alternatif. (*/stch/dda)
















