BANYUMASEKSPRES.ID, BANJARNEGARA – Dalam upaya meningkatkan potensi desa wisata di Banjarnegara, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Banjarnegara kini tidak hanya berfokus pada daya tarik alam dan budaya.
Melainkan, mereka juga mulai mendorong integrasi sektor ekonomi kreatif (ekraf) sebagai strategi untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di pedesaan.
Inisiatif ini terungkap dalam kegiatan Sarasehan Desa Wisata yang diadakan oleh Disparbud Banjarnegara pada Jumat, 19 Juni 2026.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian acara Banjarnegara Innovation and Culture Week (BICW) 2026 dan berfungsi sebagai forum diskusi yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, pengelola desa wisata, serta media untuk merumuskan strategi pengembangan desa wisata yang lebih berkelanjutan.
Dalam acara tersebut, Uut Ismaya selaku Kepala Bidang Destinasi Pariwisata Disparbud Banjarnegara menyampaikan bahwa selama ini desa wisata sering kali identik dengan daya tarik alam dan budaya.
Namun, ia menegaskan bahwa potensi ekonomi kreatif yang dimiliki oleh masyarakat lokal dapat menjadi pendorong sekaligus memberikan nilai tambah bagi destinasi wisata.
“Selain sarasehan, kami juga mengolaborasikan pengembangan desa wisata dengan ekonomi kreatif. Jadi ketika ada wisata alam dan budaya, di situ juga diharapkan tumbuh ekonomi kreatif yang bisa memberikan manfaat langsung kepada masyarakat,” ujarnya.
Uut juga menjelaskan bahwa pengembangan desa wisata tidak semestinya hanya bergantung pada potensi alam dan budaya yang ada.
Banyak desa wisata yang memiliki daya tarik besar namun menghadapi berbagai kendala dalam hal pengelolaan sehingga perkembangan mereka tidak berjalan maksimal.
Saat ini, Kabupaten Banjarnegara memiliki 28 desa wisata yang berada dalam status rintisan, berkembang, dan maju.
Namun, tantangan yang dihadapi masih cukup banyak, seperti tata kelola kelembagaan yang belum optimal, manajemen pengelolaan yang kurang efektif, legalitas pemanfaatan aset desa hingga keberlanjutan usaha wisata itu sendiri.
Dalam kesempatan yang sama, Uut mengaitkan pengembangan desa wisata dengan pelaksanaan BICW 2026.
Ia percaya bahwa berbagai inovasi yang ditampilkan dalam ajang tersebut dapat menjadi sumber inspirasi bagi upaya pengembangan desa wisata ke depan.
“Di BICW banyak sekali inovasi yang ditampilkan. Itu bisa menjadi solusi atau formula baru bagi pengembangan desa wisata di Banjarnegara,” jelasnya.
Lebih lanjut Uut menekankan pentingnya peran desa wisata sebagai etalase atau showcase bagi berbagai inovasi dan produk kreatif yang lahir dari masyarakat setempat.
Dengan demikian, desa wisata tidak hanya berfungsi sebagai tempat kunjungan bagi para wisatawan tetapi juga sebagai ruang promosi untuk potensi lokal.
“Kalau desa wisata bisa menjadi showcase berbagai inovasi lokal, dari situ akan tumbuh simpul-simpul perekonomian baru. Kemudian kelestarian alam tetap terjaga dan potensi lokal yang ada juga terus berkembang serta terbarui,” ungkapnya.
Konsep integrasi antara pariwisata dan ekonomi kreatif ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk menjadikan sektor pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal.
Pemerintah Kabupaten Banjarnegara pun semakin serius dalam merencanakan strategi jangka panjang untuk mendorong pertumbuhan pariwisata di daerah tersebut.
Sektor pariwisata selalu menjadi salah satu tulang punggung perekonomian daerah karena mampu menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat.
Oleh karena itu, penting bagi semua pihak terkait untuk bersinergi dalam mengembangkan sektor ini secara berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan potensi lokal dan mengintegrasikannya dengan sektor ekonomi kreatif, diharapkan dapat memperkuat daya saing destinasi wisata Banjarnegara di tingkat regional maupun nasional. (far/stch/dda)














