BANYUMASEKSPRES.ID, BANYUMAS – Dunia pertanian, khususnya budidaya tanaman melon hidroponik di Kabupaten Banyumas, tengah menghadapi tantangan serius akibat serangan jamur.
Keadaan ini dipicu oleh cuaca yang tidak menentu, dengan musim kemarau yang diselingi hujan ringan.
Kelembaban udara yang meningkat menjadi salah satu faktor utama munculnya jamur yang mengancam hasil panen.
Dalam beberapa waktu terakhir, hujan turun selama dua hari berturut-turut, yang berdampak signifikan terhadap kelembaban lingkungan dan memicu potensi serangan jamur pada tanaman melon hidroponik yang dibudidayakan di dalam green house.
Sugiyono, penyedia jasa budidaya melon hidroponik yang beroperasi di wilayah tersebut, menjelaskan situasi ini dengan lebih detail.
“Beberapa waktu lalu sempat turun hujan dua hari, berpengaruh ke kelembaban udara. Kondisi tersebut berpotensi munculnya jamur pada tanaman melon hidroponik,” ungkap Sugiyono dalam pernyataannya pada Jumat (19/6) di lokasi budidaya.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pemantauan kondisi cuaca bagi para pembudidaya melon untuk mencegah kerugian yang lebih besar.
Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karanggedang di Kecamatan Sumpiuh telah menjadi pelopor dalam budidaya melon hidroponik yang menggunakan sistem green house sebagai bagian dari program ketahanan pangan desa.
Namun, seiring berjalannya waktu, pengelola BUMDes ini mendeteksi adanya serangan jamur akibat tingginya kelembaban yang disebabkan oleh perubahan cuaca.
Menyadari ancaman tersebut, pengelola segera mengambil langkah-langkah pengendalian secara intensif guna menjaga agar tanaman tetap berada dalam kondisi aman.
Langkah-langkah pengendalian ini sangat penting dilakukan untuk mencegah dampak negatif lebih lanjut, terutama pada fase generatif tanaman melon hidroponik.
Pada fase ini, jika serangan jamur tidak terkendali, dapat mengakibatkan gagal panen dan kerugian finansial bagi para petani.
Oleh karena itu, Sugiyono menyarankan agar pembudidaya melon tetap waspada dan melakukan pemantauan kondisi tanaman secara berkala.
“Daun menguning adalah indikasi adanya serangan jamur. Sekarang sudah aman dan terkendali setelah sebelumnya kita intens melakukan penyemprotan,” tambahnya.
Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan keberlanjutan budidaya melon hidroponik, BUMDes Karanggedang juga telah menerapkan metode baru dalam penanaman yaitu tabur benih langsung atau tabela di media tanam.
Metode ini diharapkan dapat memberikan kemudahan serta meningkatkan efisiensi dalam proses budidaya melon.
Selain itu, terdapat juga pembaruan pada mekanisme pengaturan ketinggian debit air yang memungkinkan penyesuaian kebutuhan air sesuai dengan pertumbuhan tanaman melon.
Sistem baru ini dirancang sedemikian rupa agar tanaman tetap stabil meskipun terjadi perubahan kondisi lingkungan yang cukup drastis.
Penyesuaian terhadap kebutuhan air menjadi langkah inovatif untuk mengantisipasi kemungkinan gangguan listrik yang dapat memengaruhi sistem hidroponik secara keseluruhan.
Dengan adanya sistem ini, diharapkan tanaman tetap dapat bertahan meski terjadi pemadaman listrik mendadak yang sering kali menjadi masalah bagi para pembudidaya.
“Kendala pembusukan pada pangkal batang tertangani dengan metode penyesuaian kebutuhan air,” tandas Sugiyono menekankan pentingnya inovasi teknologi dalam pertanian modern untuk menciptakan ketahanan pangan yang lebih baik.
Menghadapi ancaman serius seperti serangan jamur tentu tidaklah mudah bagi para petani terutama mereka yang mengandalkan pertanian hidroponik sebagai sumber mata pencaharian utama. (fij/stch/dda)














