BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Kehadiran sebuah spanduk yang dipasang tanpa identifikasi jelas pemasangnya di salah satu titik strategis Kota Purwokerto telah menimbulkan tanda tanya besar di kalangan masyarakat.
Spanduk yang terpasang di simpang Jalan Soeharso-Jalan Soeparno (Harso-Parno) ini, bukan hanya menjadi pusat perhatian, tetapi juga memunculkan beragam spekulasi karena tidak disertai informasi mengenai pihak yang bertanggung jawab atau tujuan dari pemasangannya.
Spanduk ini, yang diduga merupakan produk digital printing yang tidak memiliki izin resmi, pertama kali terlihat pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Pesan yang tertulis di spanduk tersebut berbunyi, “KAMI MASYARAKAT PEDULI BANYUMAS MENOLAK PROVOKASI BERKEDOK KRISIS EKONOMI #TolakSegalaBentukProvokasi.”
Keberadaan spanduk ini langsung menarik perhatian para pengguna jalan yang melintas di kawasan tersebut.
Namun, ketidakjelasan mengenai identitas organisasi, komunitas, lembaga atau individu yang mengklaim sebagai pemasang pesan ini membuat masyarakat semakin bingung.
Seorang petugas parkir yang bekerja di dekat kawasan ruko simpang Harso-Parno, meminta identitasnya untuk tidak disebutkan, mengaku bahwa ia pertama kali melihat spanduk tersebut pada Jumat pagi (19/6).
Ia mengatakan tidak mengetahui secara pasti kapan pemasangan dilakukan karena tidak berada di lokasi sehari sebelumnya.
“Dipasangnya saya kurang tahu. Saya pribadi melihatnya Jumat pagi saat mulai bekerja. Mungkin dipasang Kamis, tetapi Kamis saya libur, jadi tidak tahu. Tahu-tahu Jumat sudah ada,” ujarnya.
Pengguna jalan lain bernama Gista menyampaikan kebingungannya terhadap isi pesan yang tertera pada spanduk tersebut.
Menurutnya, seharusnya sebuah spanduk berisi ajakan atau imbauan kepada masyarakat mencantumkan identitas pihak yang memasangnya agar pesannya dapat dipahami secara jelas.
“Tidak jelas maksudnya apa. Purwokerto atau Banyumas, setahu saya masih aman dan tenteram. Pemasangnya juga tidak jelas. Saya juga warga yang peduli Banyumas, tetapi tidak merasa diajak ataupun sedang terprovokasi,” katanya.
Gista menilai keberadaan spanduk itu justru berpotensi menimbulkan banyak pertanyaan baru di tengah masyarakat.
Ia mengungkapkan bahwa pesan yang dimaksudkan untuk menolak provokasi malah dapat menciptakan persepsi seolah-olah sedang terjadi masalah tertentu di Banyumas.
“Menurut saya, spanduk itu malah membuat orang-orang bertanya-tanya, seolah-olah di Banyumas sedang terjadi sesuatu. Isinya menolak provokasi, tetapi justru bisa membuat orang terprovokasi,” ujarnya sebelum melanjutkan perjalanan.
Pendapat serupa disampaikan oleh pengguna jalan lainnya bernama Juni. Ia menilai bahwa spanduk digital printing tersebut terlihat dipersiapkan dengan sengaja namun tidak memberikan informasi yang cukup mengenai maksud maupun pihak yang bertanggung jawab atas pemasangannya.
“Menolak provokasi apa? Maksudnya siapa yang diprovokasi? Saya jadi bingung,” ujarnya sambil tertawa.
Fenomena munculnya spanduk tanpa identitas seperti ini bukanlah hal baru dalam konteks komunikasi publik di Indonesia.
Dalam banyak kasus sebelumnya, keberadaan spanduk-spanduk semacam itu sering kali menjadi sorotan negatif dan memicu perdebatan di kalangan masyarakat.
Banyak pihak berpendapat bahwa setiap pesan publik seharusnya disampaikan dengan jelas dan transparan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Sebuah pesan tanpa identitas dapat menciptakan kekosongan informasi dan mengundang spekulasi liar tentang niat sebenarnya dari pemasangan tersebut.
Dalam konteks Banyumas yang dikenal sebagai daerah dengan komunitas sosial yang harmonis ini, ketidakjelasan seperti ini bisa merusak suasana tenang dan keharmonisan antar warga masyarakat.
Hingga hari Minggu, 21 Juni siang, spanduk tersebut masih berdiri kokoh di lokasi tanpa adanya keterangan mengenai pihak pemasang maupun tujuan pemasangan spanduk itu.
Situasi ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan mendesak bagi otoritas setempat untuk memberikan penjelasan atau bahkan mengambil tindakan terkait keberadaan spanduk ini agar masyarakat tidak semakin bingung dan khawatir akan situasi sosial di sekitar mereka.
Dalam dunia komunikasi massa dan media sosial saat ini, penting bagi setiap individu atau kelompok untuk menyampaikan informasi dengan pertanggungjawaban dan kejelasan agar pesan mereka dapat diterima dengan baik oleh masyarakat luas.
Ketika sebuah pesan dikeluarkan tanpa adanya identifikasi yang jelas dari sumbernya, maka akan sulit bagi masyarakat untuk memahami konteks dan tujuan dari pesan tersebut.
Keberadaan media sosial dan platform komunikasi lainnya memungkinkan informasi tersebar dengan cepat dan luas, sehingga sangat mungkin bagi sebuah pesan untuk diterima dalam berbagai cara oleh audiens yang berbeda-beda.
Maka dari itu penting bagi setiap pengirim pesan untuk menyadari dampak dari apa yang mereka sampaikan. (dms/stch/dda)














