Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Dari Balik Lapas Purwokerto, Coco Sheet Karya Warga Binaan Tembus Pasar China
Masih Ingat Buku Disampul Koran? Kebiasaan Sederhana yang Kini Jadi Nostalgia

Masih Ingat Buku Disampul Koran? Kebiasaan Sederhana yang Kini Jadi Nostalgia

Ketika Koran Jadi Sampul BukuKetika Koran Jadi Sampul Buku

BANYUMASEKSPRES.ID, Ada masa ketika membeli perlengkapan sekolah tidak harus selalu diikuti dengan membeli sampul buku khusus.

Koran bekas yang sudah selesai dibaca di rumah justru sering menjadi pilihan sederhana untuk melindungi buku pelajaran agar tetap rapi, bersih, dan tidak cepat rusak.

Bagi sebagian orang yang pernah mengalaminya, sampul koran bukan sekadar pelindung buku.

Ada cerita kecil yang tersimpan di balik lembaran kertas tersebut, mulai dari momen menyampul buku di awal tahun ajaran hingga membaca kembali judul berita atau melihat gambar iklan yang tanpa sengaja menjadi hiasan buku.

Dulu, koran bekas memiliki banyak kegunaan di rumah. Setelah berita selesai dibaca, lembarannya masih bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, salah satunya sebagai sampul buku sekolah.

Kertas koran yang cukup lebar dipotong atau dilipat menyesuaikan ukuran buku.

Meski sederhana, lapisan tersebut membantu melindungi bagian luar buku dari debu, kotoran, dan goresan akibat sering dimasukkan ke dalam tas.

Tidak jarang satu keluarga menyimpan koran-koran lama untuk digunakan ketika tahun ajaran baru tiba.

Buku pelajaran yang baru diterima pun kemudian mulai dibungkus satu per satu menggunakan koran yang tersedia di rumah.

Menerima buku baru merupakan salah satu momen yang identik dengan awal tahun ajaran.

Setelah buku didapatkan, pekerjaan berikutnya biasanya adalah memastikan semua buku memiliki sampul agar lebih awet digunakan selama satu tahun.

Menyampul buku dengan koran juga menjadi kegiatan tersendiri. Kertas harus dilipat dengan tepat agar tidak terlalu longgar, tetapi juga tidak terlalu ketat sehingga sampul buku sulit dibuka.

Ada yang bisa langsung menyampul dengan rapi, tetapi ada pula yang hasil lipatannya justru miring dan berantakan.

Namun, apa pun hasilnya, buku tetap terasa berbeda ketika sudah memiliki sampul sendiri.

Setelah buku selesai disampul, bagian berikutnya yang tidak boleh dilupakan adalah menuliskan identitas pemiliknya.

Nama siswa biasanya ditulis cukup besar pada bagian depan agar buku tidak tertukar dengan milik teman.

Nama, kelas, bahkan mata pelajaran terkadang dituliskan pada bagian yang mudah terlihat.

Tujuannya sederhana, yaitu memastikan buku bisa kembali kepada pemiliknya jika tertinggal atau terbawa teman.

Tulisan tangan yang terpampang di atas sampul koran itu kemudian menjadi identitas buku sepanjang tahun ajaran.

Ada yang ditulis dengan pulpen, pensil, atau spidol, tergantung alat tulis yang tersedia.

Koran sebenarnya cukup membantu melindungi buku, tetapi kertas koran juga memiliki kelemahan. Jika terkena air, kertas mudah basah, kusut, bahkan sobek.

Karena itu, sebagian siswa kemudian menambahkan plastik transparan sebagai lapisan luar.

Sampul plastik membuat buku menjadi lebih terlindungi dari air dan membantu menjaga sampul koran agar tidak cepat rusak.

Kombinasi koran dan plastik tersebut membuat buku terlihat sederhana, tetapi cukup efektif untuk digunakan sehari-hari.

Buku pun bisa bertahan lebih lama meskipun setiap hari dibawa ke sekolah dan dimasukkan ke dalam tas.

Salah satu hal menarik dari sampul koran adalah apa yang terlihat pada permukaannya.

Tidak seperti sampul khusus dengan gambar yang sengaja dipilih, tampilan buku ditentukan oleh halaman koran yang kebetulan digunakan.

Judul berita, foto, iklan, hingga gambar produk dapat menghiasi bagian depan dan belakang buku.

Kadang-kadang, siswa bahkan bisa mendapatkan sampul dengan berita utama yang sedang ramai dibicarakan pada masa itu.

Tanpa disadari, berita yang tercetak di koran menjadi bagian dari kenangan sekolah.

Bertahun-tahun kemudian, melihat potongan halaman koran tertentu mungkin justru mengingatkan seseorang pada buku pelajaran, kelas, guru, atau teman-teman sekolah.

Ada pula buku yang sampulnya menggunakan halaman berbeda-beda.

Satu buku mungkin menampilkan berita olahraga, sementara buku lainnya dihiasi iklan makanan atau promosi produk yang sudah tidak lagi ditemukan sekarang.

Kebiasaan menyampul buku menggunakan koran bekas mungkin terlihat sepele jika dibandingkan dengan berbagai pilihan sampul buku yang tersedia saat ini.

Namun, bagi generasi yang pernah melakukannya, kebiasaan tersebut menjadi bagian dari kehidupan sekolah yang sulit dilupakan.

Ada kesederhanaan dalam kebiasaan itu. Barang yang sudah selesai digunakan untuk satu kebutuhan masih bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan lainnya.

Sampul koran juga mengingatkan bahwa pengalaman sekolah tidak selalu dibentuk oleh sesuatu yang mahal atau serba baru.

Justru dari hal-hal kecil seperti menyampul buku, menulis nama dengan huruf besar, dan memastikan buku tidak tertukar, tersimpan kenangan yang kemudian terasa berharga ketika dikenang kembali.

Mungkin saat itu tidak ada yang menganggap sampul koran sebagai sesuatu yang istimewa.

Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, halaman koran yang pernah membungkus buku pelajaran justru menjadi potongan kecil dari masa sekolah yang sederhana, hemat, dan penuh cerita. (*/stch/dda)

Berita Sebelumnya
Jadi Modal Meski Sulit di Awal

Dari Balik Lapas Purwokerto, Coco Sheet Karya Warga Binaan Tembus Pasar China