Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode
Simak Kelebihan dan Kekurangan HP Samsung Galaxy Z Fold 8
Kebiasaan Orang Tua Yang Bikin Anak Lebih Terbuka Pada Pemikirannya

Kebiasaan Orang Tua Yang Bikin Anak Lebih Terbuka Pada Pemikirannya

Pola Asuh Orang TuaPola Asuh Orang Tua

BANYUMASEKSPRES.ID, Hubungan yang dekat antara orang tua dan anak tidak selalu berarti komunikasi keduanya berjalan terbuka.

Anak bisa saja menyayangi orang tuanya, tetapi tetap memilih menyimpan cerita, masalah, atau perasaannya karena khawatir mendapatkan respons yang tidak sesuai harapan.

Kepercayaan dalam hubungan orang tua dan anak terbentuk secara bertahap. Salah satu faktor pentingnya adalah bagaimana orang tua merespons ketika anak mulai bercerita.

Hal terutama saat cerita tersebut berkaitan dengan kesalahan, masalah pertemanan, tekanan, atau emosi yang sulit diungkapkan.

Reem Raouda, seorang parenting coach, menyebut kedekatan secara emosional belum tentu membuat anak merasa aman untuk menceritakan segala sesuatu.

Berdasarkan pengamatannya terhadap lebih dari 200 relasi orang tua dan anak, rasa aman justru menjadi salah satu fondasi utama agar anak bersedia terbuka.

Anak Pandai Berpendapat

 

Anak cenderung mudah bercerita ketika mereka yakin orang tua tidak akan langsung memarahi, menghakimi, atau mempermalukan mereka. Lantas, kebiasaan apa yang membantu membangun kepercayaan tersebut?

1. Mengendalikan Emosi Sebelum Merespons

Ketika anak menyampaikan sesuatu yang mengejutkan atau membuat khawatir, reaksi spontan orang tua sering kali berupa kemarahan.

Padahal, respons pertama tersebut dapat menentukan apakah anak akan kembali bercerita atau justru memilih diam. Selain itu, kondisi rumah dengan suhu udara yang tetap sejuk dapat menjadikan rumah nyaman.

Orang tua yang mampu menjaga ketenangan sebelum memberikan tanggapan akan menciptakan suasana komunikasi yang lebih aman.

Mereka berusaha memahami situasi terlebih dahulu sebelum memberikan nasihat maupun aturan. Sikap ini bukan berarti membiarkan kesalahan anak.

Sebaliknya, orang tua tetap dapat memberikan batasan, tetapi dengan cara yang tidak membuat anak takut untuk berbicara.

2. Mau Menunjukkan Sisi Pribadi kepada Anak

Keterbukaan keluarga sebaiknya berlangsung dua arah. Orang tua tidak hanya meminta anak menceritakan perasaan dan pengalamannya, tetapi juga bersedia berbagi cerita sesuai dengan usia anak.

Misalnya, orang tua dapat mengungkapkan ketika sedang merasa lelah, kecewa, senang, atau menghadapi kesulitan. Dengan begitu, anak belajar bahwa membicarakan emosi merupakan hal yang normal.

Ketika orang tua menunjukkan bahwa mereka juga memiliki perasaan dan pernah menghadapi masalah, anak dapat merasa lebih dekat. Mereka pun lebih mudah meniru pola komunikasi terbuka tersebut.

3. Menanyakan Perasaan, Bukan Hanya Prestasi

Pertanyaan kepada anak sering kali berpusat pada sekolah, nilai, tugas, atau pencapaian. Hal-hal tersebut memang penting, tetapi kondisi emosional anak juga tidak kalah perlu diperhatikan.

Orang tua dapat membiasakan diri menanyakan hal sederhana seperti bagaimana perasaan anak hari itu, apakah ada sesuatu yang mengganggunya, atau apa yang membuatnya senang.

Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa anak dihargai bukan hanya karena prestasinya. Ketika anak merasa perasaannya dianggap penting, mereka lebih terbiasa menyampaikan apa yang sedang terjadi dalam dirinya.

4. Tidak Menolak Emosi Anak

Anak akan mengalami berbagai emosi, mulai dari bahagia, kecewa, marah, takut, hingga sedih. Orang tua yang ingin membangun komunikasi terbuka perlu memberikan ruang bagi semua emosi tersebut.

Menerima emosi bukan berarti menyetujui semua perilaku anak. Orang tua dapat mengajarkan cara mengekspresikan kemarahan atau kekecewaan dengan tepat tanpa merendahkan perasaan yang sedang dialami.

Alih-alih mengatakan anak terlalu sensitif atau tidak boleh menangis, orang tua membantu mereka memahami penyebab emosinya. Cara tersebut membuat anak belajar mengenali sekaligus mengelola perasaannya.

5. Bersedia Memperbaiki Hubungan Setelah Konflik

Konflik antara orang tua dan anak merupakan hal yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Yang membedakan hubungan yang sehat adalah kemampuan memperbaiki keadaan setelah perselisihan.

Orang tua tidak perlu mempertahankan posisi sebagai pihak yang paling benar. Jika melakukan kesalahan, meminta maaf kepada anak justru menjadi contoh penting mengenai tanggung jawab dan kedewasaan emosional.

Ucapan sederhana seperti, “Maaf, tadi Ibu terlalu keras,” dapat menunjukkan kepada anak bahwa kesalahan dapat diakui dan hubungan bisa diperbaiki.

Kebiasaan tersebut juga mengajarkan bahwa konflik bukan akhir dari sebuah hubungan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana setiap pihak berusaha memahami, meminta maaf, dan membangun kembali kepercayaan.

Pada akhirnya, membuat anak terbuka hingga dewasa bukan perkara mencari cara agar anak mau menceritakan semua hal.

Fondasinya justru terletak pada rasa aman, penerimaan, dan konsistensi orang tua dalam merespons cerita anak.

Ketika anak tahu bahwa rumah adalah tempat yang aman berbicara, mereka memiliki alasan lebih kuat menjadikan orang tua sebagai tempat bertanya dan berbagi, termasuk ketika menghadapi persoalan yang sulit. (*/nds)

Berita Sebelumnya
Kelebihan dan Kekurangan HP Samsung Galaxy Z Fold

Simak Kelebihan dan Kekurangan HP Samsung Galaxy Z Fold 8