Banyumas Ekspres
Dark ModeLight Mode

Pengrajin Layangan Kebumen Buat Inovasi Knock Down, Munculkan Peluang Bisnis

Inovasi knock down rambah dunia layanganInovasi knock down rambah dunia layangan
BONGKAR PASANG: Salah satu pelayang tengah mempersiapkan layangan knock down atau bongkar pasang.

BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Tren dunia layang-layang terus mengalami perkembangan pesat. Generasi muda pelayang kini semakin kreatif dalam menciptakan desain layang-layang yang lebih menarik dan inovatif.

Salah satu pelopor inovasi ini adalah Ovin, seorang pelayang berusia 34 tahun asal Kecamatan Kebumen.

Ia memperkenalkan konsep layang-layang “knock down” atau bongkar pasang, sebuah ide yang memungkinkan setiap bagian dari layang-layang dapat dibongkar dan dipasang kembali dengan mudah.

Inovasi ini khususnya diterapkan pada layang-layang berukuran besar dengan panjang minimal tiga meter. Keunggulan dari desain bongkar pasang adalah kemudahan dalam transportasi, terutama ketika mengikuti acara atau festival di luar daerah.

“Kalau biasanya, layangan besar harus dibawa menggunakan truk atau bak terbuka yang pastinya merepotkan untuk perjalanan jauh. Dengan layangan bongkar pasang ini, proses pengangkutan menjadi lebih aman dan praktis,” jelas Ovin kepada Banyumas Ekspres.

Pada saat wawancara, Ovin tengah menguji coba layangan knock down berukuran tiga meter jenis “pegon ceper“, yang mampu terbang dengan stabil dan mulus di udara.

Selain mempermudah transportasi, inovasi ini juga memberikan keuntungan signifikan dalam hal pengiriman barang bagi pembeli dari luar daerah.

Selama ini, biaya pengiriman layang-layang sering kali menjadi hambatan tersendiri bagi para perajin dan konsumen.

“Seringkali, biaya pengiriman bisa lebih mahal daripada harga layangan itu sendiri. Misalnya, harga layangan Rp 500 ribu tetapi biaya pengirimannya bisa lebih mahal. Hal ini membuat total harga menjadi jauh lebih tinggi,” ungkap Ovin yang telah melayani pesanan dari berbagai daerah di luar Kebumen.

Kehadiran inovasi knock down ini menjadi solusi yang sangat relevan untuk permasalahan tersebut.

Dengan kemampuan untuk dibongkar pasang, biaya pengiriman dapat ditekan karena layangan dapat dikemas dalam bentuk yang lebih ringkas dan efisien.

Hal ini juga memunculkan peluang bisnis yang bisa lebih dioptimalkan dengan memungkinkan opsi pengiriman layangan ukuran sedang hingga besar menggunakan jasa kargo atau kurir pengiriman biasa.

Lebih lanjut, para pelayang Kebumen kini semakin aktif menunjukkan eksistensinya di berbagai festival layang-layang tingkat nasional.

Mereka tidak hanya berpartisipasi tetapi juga berhasil bersaing dengan para pelayang berpengalaman lainnya termasuk dari Jawa Timur yang dikenal sebagai pusat produksi layangan jenis pegon dan ram-raman.

“Beberapa kali pelayang Kebumen sudah berhasil membawa pulang penghargaan meskipun belum meraih juara pertama,” tambah Ovin dengan semangat optimisme tinggi terhadap kemampuan komunitas pelayang lokal.

Sebagai langkah ke depan, potensi pasar untuk produk layangan knock down sangat besar mengingat minat dan antusiasme masyarakat terhadap hobi unik ini terus meningkat.

Banyak orang menggemari aktivitas menerbangkan layangan tidak hanya sebagai hiburan tetapi juga sebagai bentuk ekspresi seni dan budaya tradisional.

Eksplorasi terhadap desain serta material baru yang lebih ringan namun kuat dapat membuka peluang lebih besar lagi untuk ekspansi pasar baik domestik maupun internasional.

Kreativitas tanpa batas para pelayang muda seperti Ovin menjadi motor penggerak penting dalam melestarikan sekaligus memodernisasi warisan budaya berupa permainan tradisional ini agar tetap relevan sepanjang zaman.

Inovasi semacam ini juga berkontribusi pada perekonomian lokal melalui pemberdayaan komunitas perajin serta peningkatan daya tarik wisata daerah melalui penyelenggaraan event-event tematik seperti festival tahunan maupun perlombaan berkala.

Dengan demikian Kebumen tidak hanya dikenal sebagai daerah penghasil kopi ataupun batik tetapi juga akan diingat sebagai salah satu pusat kreativitas terbaik bagi pecinta olah raga rekreatif menantang angin tersebut. (cah/stch)

Berita Sebelumnya
“di tepinya sungai serayu” tetap menggema di stasiun

“Di Tepinya Sungai Serayu” Tetap Menggema di Stasiun Purwokerto Pasca Penghentian Lagu Bengawan Solo di Daop 6

Berita Selanjutnya
Mk larang wamen rangkap jabatan

MK Tegaskan Lagi Bahwa Wamen Dilarang Rangkap Jabatan