BANYUMASEKSPRES.ID, PURWOKERTO – Dampak dari penutupan sementara Jembatan Serayu mulai tanggal 15 Juni 2026 akan berimbas pada layanan transportasi umum di wilayah Banyumas, khususnya pada okupansi penumpang Bus Trans Banyumas koridor Bulupitu-Kejawar.
Jembatan yang menjadi salah satu akses utama ini terpaksa ditutup untuk memperbaiki struktur dan memastikan keselamatan pengguna jalan.
Akibatnya, layanan bus tidak lagi dapat menjangkau wilayah Kejawar dan akan mengalami perubahan rute yang cukup signifikan.
Kepala Seksi Angkutan Dinas Perhubungan Banyumas, Muhammad Eka Nugraha, menyampaikan bahwa pemangkasan rute ini berpotensi mengurangi jarak tempuh layanan Trans Banyumas koridor Bulupitu-Kejawar hingga 140 kilometer setiap harinya.
Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada jumlah penumpang yang menggunakan layanan bus tersebut.
“Berbeda dari segi okupansi, diprediksi penumpang turun,” ujar Eka.
Masyarakat di wilayah Kejawar hingga Kota Lama Banyumas memiliki aktivitas yang cukup tinggi.
Daerah tersebut dihuni oleh banyak sekolah, perkantoran, serta rumah sakit yang menjadi tujuan warga setiap hari.
Menurut Eka, banyak warga Kecamatan Banyumas yang secara rutin melakukan perjalanan bolak-balik menuju Purwokerto untuk bekerja atau bersekolah, terutama pada jam-jam sibuk pagi dan sore hari.
Dengan tidak adanya akses langsung melalui layanan Trans Banyumas ke wilayah Kejawar selama masa penutupan jembatan, sebagian penumpang diperkirakan akan beralih menggunakan kendaraan pribadi.
“Mereka yang biasanya menggunakan Trans Banyumas mungkin akan beralih ke sepeda motor karena harus memutar untuk sampai ke Purwokerto,” jelasnya lebih lanjut.
Dinas Perhubungan Banyumas juga telah melakukan sosialisasi kepada pengelola Pasar Kalisada mengenai perubahan rute yang akan diberlakukan selama penutupan jembatan berlangsung.
Dalam sosialisasi tersebut disampaikan bahwa bus Trans Banyumas sementara akan memutar melalui kawasan Kaliori untuk menghindari akses langsung ke Kejawar.
Salah satu pertimbangan utama dalam pengalihan rute ini adalah kondisi jalan alternatif di Pegalongan-Mandiracan yang dinilai terlalu sempit dan berisiko jika dilalui oleh bus medium.
“Jika kita memaksakan jalur tersebut, ada potensi terjadi kecelakaan lalu lintas,” ungkap Eka dengan tegas.
Situasi ini tentu menimbulkan kekhawatiran bagi masyarakat yang bergantung pada transportasi umum untuk mobilitas sehari-hari mereka.
Penutupan jembatan ini bukan hanya berdampak pada layanan bus, tetapi juga menciptakan tantangan baru bagi para pengguna jalan lain yang harus menyesuaikan dengan rute baru dari kendaraan pribadi mereka.
Bagi banyak orang di wilayah tersebut, keberadaan layanan bus seperti Trans Banyumas sangatlah penting sebagai alternatif transportasi yang terjangkau dan efisien.
Dengan adanya perubahan rute, ada kemungkinan terjadi lonjakan penggunaan kendaraan pribadi yang dapat menyebabkan kemacetan di jalur alternatif yang kini menjadi pilihan utama. (yda/stch/dda)














