BANYUMASEKSPRES.ID, KEBUMEN – Aktivitas ekonomi dan pariwisata di Pantai Bocor, Kebumen, kini semakin menggeliat.
Namun, di balik semaraknya perkembangan ini, terdapat tantangan besar yang harus dihadapi, terutama dalam hal konservasi lingkungan.
Dr Ir Chusni Anshori MT, seorang ahli peneliti utama bidang geologi dan geoheritage dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pemanfaatan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan.
Menurut Dr Chusni Anshori, gumuk pasir yang terletak di pesisir selatan Kebumen memiliki panjang sekitar 40 kilometer dan lebar bervariasi antara satu hingga empat kilometer.
Keberadaan gumuk pasir ini bukan hanya sekadar keindahan alam yang dapat dinikmati oleh wisatawan, tetapi juga memiliki peran krusial sebagai benteng alami dalam mitigasi bencana, termasuk tsunami.
Sebagai sebuah ekosistem yang mempengaruhi keberlangsungan kehidupan masyarakat pesisir, gumuk pasir menjadi titik fokus dalam diskusi mengenai pembangunan berkelanjutan.
Dalam perkembangan terakhir, gumuk pasir di kawasan Pantai Bocor telah dimanfaatkan oleh masyarakat setempat untuk berbagai kepentingan ekonomi.
Aktivitas pariwisata yang berkembang pesat, pertanian yang terus berproduksi, serta budidaya udang menjadi beberapa contoh pemanfaatan yang dilakukan oleh warga.
Meskipun manfaat ekonomi dari kegiatan ini cukup signifikan, Dr Chusni mengingatkan bahwa aktivitas tersebut juga membawa dampak negatif terhadap lingkungan.
“Kami berharap pemanfaatan kawasan gumuk pasir untuk kepentingan ekonomi masyarakat tetap memperhatikan aspek konservasi,” ungkap Dr Chusni pada sebuah acara diskusi yang berlangsung pada tanggal 11 Juni.
Penekanan pada pentingnya konservasi ini merupakan bagian dari upaya untuk menjaga keberlanjutan fungsi gumuk pasir sebagai pelindung bagi masyarakat pesisir.
Dr Chusni menambahkan bahwa meskipun aktivitas ekonomi dapat berjalan dengan baik, perubahan bentuk dan karakteristik bentang alam gumuk pasir harus dihindari.
“Jika gumuk pasir dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi masyarakat, jangan sampai mengubah bentang alamnya,” ujarnya.
Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga integritas ekosistem agar tetap dapat melaksanakan fungsi perlindungan yang esensial bagi penduduk setempat.
Dampak positif dari kegiatan ekonomi memang terlihat jelas di kawasan Pantai Bocor.
Banyak warga yang menggantungkan hidup mereka melalui sektor pariwisata dengan menjual makanan khas lokal atau menawarkan jasa pemanduan wisatawan.
Hal ini menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan masyarakat.
Namun, tanpa pengelolaan yang bijaksana, potensi kerusakan lingkungan bisa mengancam kesejahteraan jangka panjang masyarakat tersebut.
Keseimbangan antara kebutuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan bukanlah hal yang mudah untuk dicapai.
Dalam konteks ini, Dr Chusni menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah daerah, pengusaha, serta masyarakat luas untuk menciptakan kesadaran akan pentingnya menjaga keberlanjutan gumuk pasir.
“Kepentingan bersama harus menjadi perhatian utama agar manfaat gumuk pasir tidak hilang di masa depan,” tegasnya.
Salah satu solusi yang bisa diterapkan adalah dengan mengembangkan program-program edukatif tentang konservasi kepada masyarakat setempat dan wisatawan.
Program tersebut bisa mencakup penjelasan tentang peran gumuk pasir dalam mitigasi bencana serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan agar ekosistem tetap sehat.
Di samping itu, pengembangan infrastruktur pariwisata juga perlu dilakukan dengan mempertimbangkan aspek lingkungan.
Misalnya saja, pembangunan fasilitas wisata harus dirancang sedemikian rupa agar tidak merusak bentang alam yang ada.
Hal ini termasuk penggunaan material ramah lingkungan serta penerapan prinsip-prinsip desain berkelanjutan.
Pengawasan ketat terhadap setiap aktivitas yang dilakukan di kawasan gumuk pasir juga menjadi kunci untuk memastikan bahwa tidak terjadi kerusakan lebih lanjut.
Diperlukan adanya regulasi dari pemerintah daerah yang jelas mengenai batasan-batasan aktivitas ekonomi yang diperbolehkan agar tidak merugikan kelangsungan ekosistem gumuk pasir.
Pada akhirnya, keberadaan gumuk pasir di Pantai Bocor bukan hanya sekadar aset alamiah tetapi juga merupakan warisan budaya dan sosial bagi masyarakat pesisir Kebumen. (cah/stch/dda)














