BANYUMASEKSPRES.ID, CILACAP – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cilacap menginformasikan bahwa puncak musim kemarau di Kabupaten Cilacap dan sekitarnya diperkirakan akan berlangsung pada Agustus 2026.
Meskipun demikian, hujan masih berpotensi turun di sejumlah wilayah, memberikan harapan bagi warga yang bergantung pada curah hujan untuk kebutuhan pertanian dan sumber air.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Cilacap, Teguh Wardoyo, menjelaskan bahwa tanda-tanda awal musim kemarau sudah mulai terasa di daerah ini.
“Pagi hari udara terasa lebih dingin, sedangkan siang hari terasa lebih panas karena awan mulai berkurang,” ungkapnya saat memberikan keterangan kepada awak media pada Minggu (14/6).
Menurut Teguh, keberadaan angin timuran yang semakin dominan di wilayah Cilacap juga menjadi salah satu indikator bahwa musim kemarau mulai berkembang.
Meskipun sebagian besar wilayah sudah memasuki musim kemarau, beberapa kecamatan masih mencatat curah hujan yang cukup tinggi.
Pada bulan Mei 2026 lalu, Kecamatan Dayeuhluhur, Wanareja, Majenang, dan Cimanggu masih menerima curah hujan lebih dari 150 milimeter per bulan.
“Sebagian besar wilayah lainnya sudah memasuki musim kemarau. Kecamatan Binangun menjadi daerah dengan curah hujan paling rendah, sekitar 53 milimeter selama bulan Mei,” jelas Teguh.
Sampai awal Juni 2026 ini, hujan masih terjadi meskipun frekuensinya sudah jauh berkurang.
BMKG mencatat adanya hujan yang turun hanya satu kali pada tanggal 4 Juni dengan intensitas yang bervariasi dari ringan hingga sedang.
“Curah hujan pada awal Juni sudah semakin berkurang. Ini menjadi salah satu indikator bahwa musim kemarau mulai berkembang di wilayah Cilacap dan sekitarnya,” tandasnya.
BMKG memprediksi bahwa hujan masih memiliki potensi untuk terjadi selama bulan Juni ini. Namun demikian, curah hujan diperkirakan akan terus menurun pada bulan Juli.
Menurut perkiraan yang ada, Agustus akan menjadi titik terendah dalam hal curah hujan dan sekaligus puncak dari musim kemarau yang berlangsung di Kabupaten Cilacap.
Musim kemarau merupakan periode penting bagi masyarakat terutama bagi para petani yang mengandalkan air hujan untuk irigasi tanaman mereka.
Dengan semakin sedikitnya curah hujan yang terjadi, tantangan bagi para petani pun semakin berat.
Mereka harus mempersiapkan diri menghadapi dampak dari kekeringan yang bisa berpengaruh langsung terhadap hasil panen.
Kondisi ini juga dapat memicu kekhawatiran di kalangan masyarakat mengenai potensi krisis air bersih saat musim kemarau datang.
Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan pemangku kebijakan untuk mempersiapkan langkah-langkah strategis agar kebutuhan air bersih masyarakat tetap terpenuhi meskipun dalam kondisi cuaca yang tidak mendukung.
Teguh Wardoyo juga menambahkan bahwa masyarakat perlu lebih waspada terhadap kondisi cuaca ekstrem yang mungkin terjadi selama transisi menuju musim kemarau ini.
Ia menghimbau agar masyarakat tidak hanya bergantung pada ramalan cuaca namun juga mempersiapkan diri dengan baik menghadapi kemungkinan-kemungkinan perubahan cuaca.
Di sisi lain, fenomena perubahan iklim global juga turut memengaruhi pola cuaca di Indonesia termasuk Kabupaten Cilacap.
Para ahli meteorologi menduga bahwa perubahan pola curah hujan ini berkaitan erat dengan aktivitas manusia yang berdampak pada kondisi lingkungan hidup.
Oleh karena itu, upaya konservasi sumber daya alam sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem serta keberlangsungan hidup masyarakat.
Bagi masyarakat di Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, memahami siklus musim dan tren cuaca menjadi hal yang sangat penting.
Pengetahuan ini dapat membantu mereka dalam merencanakan kegiatan pertanian serta penggunaan sumber daya air secara bijaksana.
Dengan semua informasi tersebut, harapan agar curah hujan tetap bertahan meskipun dalam skala kecil adalah sesuatu yang wajar bagi masyarakat setempat. (*/stch/dda)














